AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK GERUDUK PEMKOT DEPOK : Sejumlah buruh PT SPI saat bernegoisasi dengan petugas keamanan sebelum melakukan pertemunan dengan perwakilan pemerintah kota mengenai gaji dan thr yang belum dibayar oleh perusahaan di Kantor Balaikota Depok, Selasa (26/6).
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
GERUDUK PEMKOT DEPOK : Sejumlah buruh PT SPI saat bernegoisasi dengan petugas keamanan sebelum melakukan pertemunan dengan perwakilan pemerintah kota mengenai gaji dan thr yang belum dibayar oleh perusahaan di Kantor Balaikota Depok, Selasa (26/6).

DEPOK-Pantas saja ratusan buruh PT Sinar Prima Indonesia (SPI), demo di Balaikota Depok, Selasa (26/6). Bayangkan, sudah dua bulan bekerja tanpa dibayar, janji memberikan tujangan hari raya (THR) pun pupus. Ini yang paling parah, masuk kerja 07:00 WIB pekerja dipaksa harus pulang 23:00 WIB tanpa uang lembur.

Ratusan buruh hadir di rumah eksekutif ingin mengadu dan meminta hak sebagai karyawan terpenuhi.

“Kami datang ke Balaikota Depok untuk meminta hak kami diperjuangkan keluar. Hak kami adalah gaji selama dua bulan belum dibayarkan dan THR,” ucap Jepri karyawan PT SPI, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Hal sama juga diungkapkan karyawan lainya Sugiarti. Dia mengaku, sudah 10 tahun bekerja baru di tahun ini gajih tidak dibayar dua bulan dan THR.

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Curug, Bojongsari ini berharap besar kepada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Depok mengupayakan gaji dan THR dikeluarkan oleh pihak perusahaan. Sebab, uang gaji dan THR untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolah. “Sudah lama saya kerja di sana, karena ganti manajemen malah begini gaji dan THR gak keluar. Dulu PT Karisma,” kata dia.

Akibat pihak perusahaan tidak membayarkan upah, kata dia, sebanyak 350 pegawai itu terpaksa tidak mudik ke kampung halamannya. Selain upah dan THR, mereka juga memprotes sistem kerja yang diberlakukan oleh pihak perusahaan.

Khususnya selama satu bulan terakhir yang disebut kian membebani pekerja pabrik konveksi itu. Untuk satu bulan gaji, mereka dibayar sekira Rp 2,6 hingga Rp 2,9 juta untuk pegawai dengan masa kerja satu tahun ke atas. Sedangkan untuk masa kerja pegawai di bawah satu tahun diupahi Rp 2,4 juta. Pasalnya, sejumlah pekerja mengeluhkan lamanya jam kerja yang dibebankan kepada mereka.

“Jam kerjanya lama, kita disuruh kerja dari pukul 07.00 WIB hingga 23.00 WIB. Kadang juga sampai pagi, uang lemburnya juga enggak ada. Banyak pegawai yang pada sakit juga, kita bekerja seperti di jaman romusha,” ujar dia.

Selang beberapa menit sebanyak 10 pegawai diajak mediasi dengan pihak PT. SPI oleh Disnaker Kota Depok di kantornya.

Hingga pukul 17:00 WIB mediasi belum selesai. Selintigan salah satu karyawan tersebut mengaku pihak perusahaan memberikan gaji 80 persen.

Namun, pihak karyawan tidak mau menerima tawaran PT SPI tersebut. Di kantor Disnaker Kota Depok, Kadis Disnaker Diah Sadiah belum bisa memberikan keterangan terkait hasil mediasi antara karyawan dan perusahaan tersebut. “Masih belum ada titik terang. Karena mediasi antar dua pihak masih alot,” tutup Diah.(irw)