Beranda Depok Sport Piala Dunia Pemain Swedia Dapat Ancaman Pembunuhan

Pemain Swedia Dapat Ancaman Pembunuhan

0
Pemain Swedia Dapat Ancaman Pembunuhan
Jimmy Durmaz mendapat ancaman pembunuhan (Worldfootball)
Jimmy Durmaz mendapat ancaman pembunuhan (Worldfootball/jpnn.com)

RUSIA Situasi horor kini dialami salah satu gelandang Timnas Swedia di Piala Dunia 2018, Jimmy Durmaz. Dia mendapat ancaman pembunuhan lewat media sosial dari oknum-oknum tak bertanggung jawab karena Durmaz dinilai sebagai biang kekakalahn Swedia dari Jerman, Minggu (24/6) dini hari WIB.

Dalam laga itu, Swedia unggul lebih dahulu pada menit 32 lewat Ola Toivonen. Jerman baru bisa menyamakan kedudukan pada menit 48 lewat Marco Reus. Hasil seri sepertinya bakal diraih Swedia, terlebih Jerman bermain dengan 10 pemain setelah Jerome Boateng mendapat kartu kuning kedua alias kartu merah pada menit 82.

Hanya saja, keberuntungan memayungi Jerman. Pada menit-menit akhir, Jerman mendapat tendangan bebas setelah pemain pengganti Jimmy Durmaz melakukan pelanggaran di sisi kanan pertahanan timnya. Tendangan bebas diambil oleh Toni Kroos setelah melakukan satu sentuhan dengan Reus. Tendangan keras Kroos merobek jala Robin Olsen dan Jerman pun akhirnya meraih kemenangan dramatis 2-1.

Durmaz dianggap sebagai biang kekalahan oleh sejumlah oknum, entah fans Swedia tidak ada yang tahu pasti. Durmaz sendiri masuk pada menit 74 menggantikan Victor Claesson.

Efeknya terasa horor bagi Durmaz. Akun Instagram-nya ‘diserang’ oknum netizen. Bahkan, sampai ada yang mengancam akan membunuhnya. Tak hanya itu, dia pun mengalami pelecehan rasial lewat medsos. Durmaz pun akhirnya menutup akun Instagram miliknya.

Durmaz menjadi sasaran pelecehan rasial lantaran asal-usulnya. Dia lahir di Swedia, namun kedua orang tuanya berasal dari Turki yang bermigrasi ke Swedia. Orang tua Durmaz dari etnik Asiria.

Terkait hal itu, rekan-rekan Durmaz di Timnas Swedia ramai-ramai memberikan dukungan. Mereka pun menolak bahwa Durmaz merupakan penyebab kekalahan Swedia dari Jerman.

“Tidak ada hal yang buruk untuk dikatakan tentang dia (Durmaz). Publik tidak bisa menyalahkan satu orang. Anda menang sebagai tim dan Anda kalah sebagai tim,” beber gelandang Albin Ekdal kepada harian Aftonbladet.

“Dia berlari dan berjuang sepanjang berada di lapangan. Dia hanya tidak beruntung. Sangat tidak pantas publik membenci dia karena hal itu. Semua bisa mengalami hal itu di sepak bola. Pastinya, Durmaz tak sengaja melanggar lawan,” sebut striker John Guidetti.

Durmaz sendiri tak peduli dengan ancaman pembunuhan dan pelecehan rasial tersebut. Dia mengaku sudah terbiasa dan sering melihat kebencian di media sosial miliknya.

“Jika Anda sudah mengerti seluruh hidup Anda, maka itu bukan masalah besar. Saya tetap bangga mewakili negara saya,” sebutnya.

Sebagian besar netizen tetap mendukung Durmaz. Mereka ingin Durmaz tetap melangkah gagah dan tak kapok membela Swedia. Dia pun diharapkan bisa tampil apik andai diturunkan saat Swedia melawan Meksiko dalam laga penentuan untuk tiket ke babak 16-besar.

Pesepak bola yang menghadapi hal buruk usai dianggap sebagai biang kegagalan bukan hal baru. Terutama di Piala Dunia. Paling menghebohkan tentu saja di Piala Dunia 1994. Kala itu, Andres Escobar, defender Kolombia, ditembak oleh orang tak dikenal di parkiran kelab malam di Medelin, Kolombia, pada 1 Juli 1994. Pada 2 Juli 1994, Escobar dinyatakan meninggal dunia.

Lima hari sebelumnya, Escobar membuat gol bunuh diri saat Kolombia menghadapi Amerika Serikat di fase grup. Kolombia sendiri gagal melaju ke babak berikutnya. Esobar dianggap sebagai biang kegagalan Kolombia.(epr/JPC)