Beranda Metropolis Ventilasi Kayu Abad 18 di Depok Dicuri 

Ventilasi Kayu Abad 18 di Depok Dicuri 

0
Ventilasi Kayu Abad 18 di Depok Dicuri 
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK ORNAMEN BERSEJARAH : Salah satu anggota Komunitas Sejarah Depok (KSD) saat berswafoto dengan latar belakang ornamen angin-angin bersejarah Rumah Cimanggis di YLCC, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoranmas, Senin (25/6). Insert: Sejarawan JJ Rizal (kedua kiri), perwakilan YLCC Ferdy Jonathans (kiri) bersama anggota Komunitas Sejarah Depok saat memberikan keterangan pers mengenai pencurian angin-angin ukiran situs sejarah Rumah Cimanggis di YLCC.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
ORNAMEN BERSEJARAH : Salah satu anggota Komunitas Sejarah Depok (KSD) saat berswafoto dengan latar belakang ornamen angin-angin bersejarah Rumah Cimanggis di YLCC, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoranmas, Senin (25/6). Insert: Sejarawan JJ Rizal (kedua kiri), perwakilan YLCC Ferdy Jonathans (kiri) bersama anggota Komunitas Sejarah Depok saat memberikan keterangan pers mengenai pencurian angin-angin ukiran situs sejarah Rumah Cimanggis di YLCC.

DEPOK – Lubang angin atau ventilasi berbahan kayu peninggalan abad ke-18 di Rumah Cimanggis, sempat dicuri. Beruntung, perbuatan tersebut sempat diketahui sebelum laku dijual. Kini, angin-angin antik kayu berukir berukuran 1,62 x 1,48 meter tersebut dititipkan di Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), di Jalan Pemuda, Kelurahan Depok, Pancoranmas.

Aktivias Komunitas Sejarah Depok (KSD), JJ Rizal menjelaskan, pencurian ini bermula saat anggota KSD ditawari angin-angin antik kayu berukir berukuran 1,62 x 1,48 meter oleh seseorang. Anggota KSD itu lalu mencari tahu, dan ternyata benda yang hendak dijual ventilasi di atas pintu kamar anak kesayangan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) yang terdapat di situs sejarah Rumah Cimanggis.

Penjual, kata dia menawarkan barang tersebut dengan harga puluhan juta rupiah. Mengetahui hal tersebut, aktivis KSD lalu mencari tahu soal barang yang ditawarkan. Setelah dicek ke Rumah Cimanggis, ternyata benar ada ventilasi yang dicuri.

“Terkonfirmasi memang benar angin-angin yang berharga itu telah dicuri. Hampir bersamaan juga orang yang menawarkan angin-angin itu telah ditemukan dan mau dengan sukarela mengembalikan angin-angin yang didapatnya dari pelaku pengambilannya,” kata JJ Rizal.

Mereka juga mengaku, sedang mengatur pengembaliannya dengan melibatkan LBH Jakarta agar sesuai aturan yang berlaku. Ironisnya, ventilasi kayu yang dicuri dengan cara memotong situs tersebut menjadi potongan-potongan yang kemudian disambung kembali dengan lem kayu.

Dia mengatakan, ada sekitar enam ornament serupa yang ada di Rumah Cimanggis, dan besar kemungkinan ornament lain bakal di curi dari Rumah Cimanggis.

Sementara itu, dia mengatakan pemerintah Kota Depok seharusnya mau segera menandatangani Rumah Cimanggis sebagai benda cagar budaya, agar keberadaan Rumah Cimanggis berketatapan hukum.

Sementara menurut aktivis KSD lainnya, Ferdy Jonathan. Pencurian ini merupakan penanda yang sangat jelas, bahwa situs sejarah Rumah Cimanggis terancam. Pengelola tanah di mana situs sejarah itu berdiri yaitu Kementerian Agama RI dan Pemerintah Kota Depok tidak memenuhi amanah UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya.

Sebab tidak melakukan kewajiban mereka yang disebut di pasal 1 UU tersebut yaitu, melindungi melestarikan, menyelamatkan, mengamankan, dan memelihara situs sejarah. Ironisnya, pencurian angin-angin situs sejarah Rumah Cimanggis terjadi tidak sampai 20 hari setelah Presiden Jokowi meletakkan batu pertama pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di Cimanggis pada 5 Juni 2018 lalu.

“Sayang sekali proyek raksasa yang peresmiannya itu dihadiri nama-nama besar, tidak menjamin situs sejarah Rumah Cimanggis dirawat dari ancaman dan gangguan apalagi sampai dibobol maling,” pungkasnya.(rub)