Beranda Utama Balita STOP Minum Susu Kental Manis

Balita STOP Minum Susu Kental Manis

0
Balita STOP Minum Susu Kental Manis
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK PICU KONTROVERSI : Pedagang menunjukkan salah satu produk susu kental manis di kios dagangnya yang berada di kawasan Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Jumat (6/7).
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
PICU KONTROVERSI : Pedagang menunjukkan salah satu produk susu kental manis di kios dagangnya yang berada di kawasan Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Jumat (6/7).

DEPOK  – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan keputusan bahwa susu kental manis (SKM) tidak bisa digunakan sebagai pelengkap gizi, apa lagi untuk balita. BPOM menyebutkan, kadar lemak susu kurang dari delapan persen.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok segera mengeluarkan surat edaran yang bakal disebar di supermarket mau pun ritel di Kota Depok.

“Surat yang kami edarkan, intinya imbauan agar susu kental manis tidak dikonsumsi balita,” tutur Sekretaris Dinkes Depok, Ernawati kepada Radar Depok, Jumat (7/6).

Dinkes Depok mengeluarkan edaran sebagai tindak lanjut edaran dari BPOM RI dengan Nomor 06.5.51.511.0518.2000 Tahun 2018 tentang label dan iklan produk SKM.

“Kita lanjutkan di daerah mengeluarkan surat edaran sesuai BPOM,” kata Ernawati.

Disebutkan Ernawati isi dalam surat edaran antara lain, pertama dilarang menampilkan gambar anak-anak berusia lima tahun dalam bentuk apa pun. Kedua, dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk SKM dan analognya katagori pangan 01.3 disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah dan pelengkap gizi.

Ketiga, dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan susu dalam gelas disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Keempat, khusus untuk iklan dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak. “Intinya SKM ini kurang diperuntukan balita, karena kadar susu sedikit kurang dari 10 persen,” tuturnya.

Terpisah, Kasi Perindustrian dan Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Epi Ardini mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan label di supermarket dan warung, berkoordinasi dengan Dinkes Depok.

“Kami cek sesuai surat edaran BPOM,” kata Epi di kantornya di Balaikota lantai enam.

Sementara itu, pascakeluarnya edaran BPOM, sejumlah produsen susu kenal manis (SKM) mengganti label produknya dengan menghilangkan kata susu. Ada yang mengubah jadi krimer kental manis ada juga hanya kental manis saja.

Penggantian label itu tindak lanjut dari keputusan dari BPOM yang menyatakan bahwa SKM tidak bisa digunakan untuk pelengkap gizi. Selain itu iklan produk SKM tidak lagi boleh melibatkan anak-anak.

Berdasarkan pantauan di beberapa minimarket, beberapa produk SKM sudah tidak mencantumkan tulisan susu. Ada yang berubah menjadi krimer kental manis, ada juga yang di labelnya hanya tertulis kental manis.

“Karakteristik jenis susu kental adalah kadar lemak susu tidak kurang dari 8 persen dan kadar protein tidak kurang dari 6,5 persen untuk yang plain,” kata Kepala BPOM, Penny Lukito.

Dia meminta masyarakat bijak menggunakan dan mengonsumsi susu kental sesuai peruntukannya. Selain itu, asupan gizi, khususnya gula, garam, dan lemak, harus seimbang. Dia mengatakan bahwa BPOM telah menyosialisasikan agar SKM dikonsumsi dengan tepat.

Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Doddy Izwardi telah meminta BPOM agar SKM tidak dikategorikan sebagai produk susu bernutrisi untuk menambah asupan gizi.

“Kental manis ini tidak diperuntukkan balita. Namun, perkembangan di masyarakat, SKM dianggap sebagai susu untuk pertumbuhan. Kadar gulanya sangat tinggi,” tutur Doddy.

Dia menyatakan bahwa produk kental manis bisa dikonsumsi untuk campuran dessert atau topping makanan. (irw/lyn/JPC)