Beranda Utama Dewan Kecam Kenaikan BBM

Dewan Kecam Kenaikan BBM

0
Dewan Kecam Kenaikan BBM
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK MENUAI PRO-KONTRA: Pascadiumumkannya kenaikan harga BBM jenis Pertamax (1/7), sejumlah konsumen mengaku merasa keberatan dengan kenaikan tersebut.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MENUAI PRO-KONTRA: Pascadiumumkannya kenaikan harga BBM jenis Pertamax (1/7), sejumlah konsumen mengaku merasa keberatan dengan kenaikan tersebut.

DEPOK – Kebijakan pemerintah dengan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax menuai pro-kontra di kalangan masyarakat, khususnya pengguna atau konsumen Pertamax. Diketahui, harga BBM yang mulai naik per 1 Juli 2018 di antaranya Pertamax Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Terkait hal ini, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi Gerindra, Hamzah menilai, kenaikan harga BBM saat ini tidak tepat. Pemerintah tidak mempertimbangkan kenaikan harga barang-barang lainnya juga naik.

“Pemerintah tidak mempertimbangkan kepentingan rakyat, harga-harga naik dari bulan Ramadan dan Lebaran. Kok tiba-tiba BBM dinaikkan, itu bukan solusi,” kata Hamzah kepada Radar Depok.

Selain itu lanjut Hamzah, pemerintah seharusnya mulai sadar bahwa ada beberapa hal terkait kebijakan BBM yang tidak boleh di abaikan atau dilanggar. Yaitu, harus mempertimbangkan kepentingan rakyat.

“Di negara mana pun karena BBM komoditi hajat hidup orang banyak, harus pertimbangkan rakyat. Karena ini kepentingan rakyat, jadi harus transparan dan juga kepada wakilnya di dewan,” ucapnya.

Hamzah yang juga menjabat sebagai Sekjen DPC Partai Gerindra Kota Depok ini mengatakan, pemerintah sudah tidak memperhatikan rakyat kecil. Sebab, dari kenaikan BBM ini, akan diikuti dengan kebutuhan lain.

“Intinya #2019GantiPresiden, rakyat kecil sudah tidak diperhatikan pemerintah,” ucap Hamzah.

Senada, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PAN, Lahmudin Abdullah menilai, dengan dinaikannya BBM pemerintah seolah memiliki mata tapi tidak melihat, memiliki telinga tapi tidak mendengar.

“Tidak tahu lagi jeritan, tidak peduli lagi apapun kesulitan masyarakat. Para wakil rakyat di pusat sudah tidak bersuara lagi, masyarakat yang biasa bersuara, di saat pemerintah menaikan hargapun diam seribu bahasa,” kata Lahmudin.

Diketahui, kenaikan harga BBM berlaku se-Indonesia per 1 Juli 2018. Namun, besaran kenaikannya bervariasi, menyesuaikan provinsi masing-masing. Untuk Jakarta, BBM Pertamax naik Rp600 per liter menjadi Rp9.500 per liter dari sebelumnya Rp8.900 per liter. Sementara Pertamina Dex naik sebesar Rp500 per liter menjadi Rp10.500 per liter dari sebelumnya Rp10.000 per liter.

Sedangkan Pertamax Turbo naik Rp 600 per liter menjadi Rp 10.700 per liter dari sebelumnya Rp10.100 per liter. Serta Dexlite naik Rp900 per liter menjadi Rp9.000 per liter dari sebelumnya Rp8.100 per liter. Sementara BBM jenis lainnya, seperti Premium, Pertalite, Bio Solar, Solar NPSO, dan Pertamax racing tetap atau tidak berubah dari harga sebelumnya.

Hal berbeda disampaikan sejumlah warga. Seperti Nur Aprida warga Kelurahan Pancoranmas yang sedang mengisi BBM di SPBU Jalan Pitara, Senin (2/7). “Gak masalah kalau naiknya Rp600, kalau naiknya Rp2 ribu lumayan mahal. Kalau gitu saya pake yang subsidi saja,” tutur Nur, kepada Radar Depok.

Nur mengatakan, kenaikan BBM seperti Pertamax ini memang setiap tahun naik melihat kondisi harga minyak dunia. “Harga dolarkan naik, tembus Rp14 ribu lebih kan, pastinya minyak naik imbasnya harga Pertamax naik,” ujarnya.

Terpisah, Ferry Setiawan, warga Beji mengatakan, salah satu poin  alasan pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi untuk membantu  pelayanan kesehatan, khususnya pada program penerima bantuan iuran-PBI JKN KIS yang semakin meningkat. “Saya sebagai salah satu warga Depok cukup memahami alasan pemerintah menaikkan BBM, apalagi tujuannya untuk memaksimalkan jaminan kesehatan warga kurang mampu,” kata Ferry.

Dengan kenaikan ini sambung dia, masih mengunakan Pertamax, sebab sudah terbiasa mengunakan bahan bakar tersebut.

Berbeda dengan Ferry, Hendrik warga Sukmajaya justru mempertanyakan langkah pemerintah yang terkesan diam-diam dalam menaikkan harga BBM. Dia meminta kedepannya, pemerintah lebih transparan. Pemerintah juga harus menjelaskan kelangkaan Premium di SPBU saat ini. “Kalau menolak kan ngga mungkin, karena sudah ditetapkan. Cuma saya mempertanyakan transparansinya,” kata Hendrik.
Apalagi lanjut Hendrik, menaikkan harga BBM di tengah kesulitan ekonomi, menurutnya sangat tidak bijaksana. Terlepas BBM itu non subsidi atau subsidi. Hendrik berharap harga BBM jenis Pertalite tidak naik.”Kalau pertalite naik, saya warga yang berpenghasilan senin-kamis akan teriak pastinya,” ungkap Hendrik.
Terpisah, Kepala SPBU Jalan Kartini kawasan Kelurahan Pancoranmas Agus Syamsuryadi mengatakan, pasca kenaikan BBM kemarin, tidak ada perubahan yang signifikan pada jumlah pelanggan yang mengisi Pertamax pada jam yang sama di lokasi. Dirinya juga mengaku belum menerima keluhan atau komplain dari para pelanggan terkait kenaikan harga BBM Pertamax series ini.
“Normal aja ya, ngga ada perubahan sama sekali terlepas kenaikan harga pertamax kemarin. Hari ini dengan kemarin sama aja jumlah pelanggannya. Tidak ada penurunan yang mencolok,” singkatnya.(cky/irw)