Beranda olahraga Depok Sport Hari Ini Asprov Ketemu Askot Depok

Hari Ini Asprov Ketemu Askot Depok

0

DEPOK – Komite Adhoc Normalisasi Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Depok mengundang Komite Banding Kongres Luar Biasa (KBP-KLB) Askot PSSI Kota Depok untuk rapat di Sekretariat PSSI Jawa Barat, Jalan Lodaya No. 20, Kota Bandung, hari ini pukul 13:00 berdasarkan surat undangan.

Rapat tersebut dilaksanakan untuk meengambil keputusan atas pengajuan banding Meiyadi Rakasiwi, sekaligus menetapkan calon Ketua Komite Eksekutif Askot PSSI kota Depok.

“Pada tanggal 9 Juli 2018, kami juga akan menentukan komposisi Organizing Comittee KLB Askot PSSI Kota Depok,” ujar Wakil Ketua Komite Adhoc Normalisasi Askot PSSI Kota Depok, Delif Subeki.

Diberitakan sebelumnya, bermula dari mosi tidak percaya yang diajukan oleh 29 voters atas KBP KLB Askot PSSI Kota Depok, Asprov PSSI Jawa Barat mengambil alih kepengurusan Askot PSSI Kota Depok dan berwenang untuk memimpin sidang dan proses pemilihan pada KLB Askot PSSI Kota Depok.

Tak pelak, keputusan tersebut menuai pro dan kontra dari khalayak sepak bola di Kota Depok. Salah satu yang mendukung keputusan Asprov Jabar tersebut adalah anggota Komite Banding Pemilihan Kongres Luar Biasa (KBP-KLB) Askot PSSI Kota Depok, Dedy Juansyah.

Menurut Dedy, pengambilalihan tersebut wajar lantaran KBP KLB Askot PSSI Kota Depok berulang kali mengabaikan instruksi dari Asprov PSSI Jawa Barat.

”Kalau saja mereka mau mendengarkan dan melaksanakan arahan Asprov, Askot tidak akan diambil alih,” ujarnya kepada Radar Depok, Kamis (5/7).

Dia menyebutkan, setidaknya ada dua instruksi Asprov yang tidak dindahkan oleh KBP. Pertama, instruksi menambah personil KBP, kedua, arahan dari Komite Disiplin PSSI Pusat yang mengizinkan Meiyadi Rakasiwi mengikuti proses pencalonan pada KLB Askot PSSI Kota Depok.

”Saya sangat menyesalkan sikap teman-teman di KBP yang mengabaikan arahan Komdis PSSI Pusat melalui saya tersebut,” imbuhnya.

Sebaliknya, pandangan berbeda disampaikan oleh pengamat sepak bola nasional dari Kota Depok, Supartono. Dia berpendapat, tahapan pelaksanaan KLB Askot PSSI Kota Depok yang dijalankan oleh KP dan KBP sudah sesuai dengan statuta dan regulasi yang berlaku di tubuh PSSI. Hanya saja, demi mencapai kepentingannya, Asprov seolah menghalalkan segala cara dan membuat pembenaran sepihak.

”Inilah akibatnya kalau sepak bola dicampuri kepentingan politik,” kata pemilik SSB Sukmajaya tersebut.

Untuk menghadapinya, lanjut Supartono, harus ada kelompok yang bergerak untuk menguak kebenaran dan meng-counter manuver yang dilancarkan oknum yang berniat mengacaukan KLB Askot PSSI Kota Depok.

”Solusinya, klub atau individu yang memang peduli dengan sepak bola Kota Depok harus bergerak. Masalah ini kan bermula dari mosi tidak percaya 29 voters, coba teman-teman bikin mosi percaya,” usul Supartono.

Dia meyakini, dengan membuat mosi percaya dari semua klub yang memiliki hak suara di KLB Askot PSSI Kota Depok, akan terlihat mana klub yang mendukung Askot, dan mana klub yang memang mengajukan mosi tidak percaya.

”Karena sampai sekarang, Asprov saja tidak berani mempublikasikan nama 29 klub, yang katanya, mengajukan mosi tidak percaya. Bisa jadi kan itu hanya kongkalikong mereka saja,” kata Supartono.

Dia pun berharap, agar persoalan yang terjadi ini dapat segera diselesaikan, sebelum masalahnya terus membesar dan mencederai banyak pihak. Terutama, atlet dan masa depan sepak bola di Kota Depok.

Sementara Mantan Ketua Askot PSSI Depok periode 2014-2018, Yuyun Wirasaputra mengaku sedih dan prihatin atas kejadian ini. Menurut Dia, Asprov PSSI telah menyalahi ketentuan di statuta PSSI dan hasil kesepakatan pada Kongres Askot PSSI Kota Depok.

”Kalau Asprov merasa benar, kenapa mereka mengambil alih? Dalam setiap tingkat kepengurusan, forum tertinggi ya kongres. Termasuk penetapan anggota KP, KBP dan kode pemilihan calon ketua Askot” ujar Yuyun.

Dia pun mengimbau, pengurus PSSI di setiap tingkatan dapat mengambil keputusan berdasarkan statuta, bukannya berdasarkan kepentingan pribadi. Karena, lanjut Yuyun, organisasi dihargai berdasarkan etika organisasi anggotanya.

”Yang penting kita mengacu pada statuta saja. Saya juga berharap plt Ketua Askot Kota Depok (Pradi Supriatna) mau mengambil sikap, karena status dia sekarang juga merupakan hasil kongres,” pungkasnya.(mg2)