Beranda Politika Ikut Ajang Internasional, 700 Untaian Sajak dari 11 Negara

Ikut Ajang Internasional, 700 Untaian Sajak dari 11 Negara

0
Ikut Ajang Internasional, 700 Untaian Sajak dari 11 Negara
RICKY/RADAR DEPOK BERAKSI : Penyair Depok, Ade Novi sedang membacakan puisi di Rumah Seni Asnur, komplek Perumahan Kavling UI, Jalan Cahaya Titis, RW 002 Kelurahan Tanah Baru, Beji.
RICKY/RADAR DEPOK
BERAKSI : Penyair Depok, Ade Novi sedang membacakan puisi di Rumah Seni Asnur, komplek Perumahan Kavling UI, Jalan Cahaya Titis, RW 002 Kelurahan Tanah Baru, Beji.

Depok tidak pernah kehabisan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Kali ini, ada tiga penyair asal Kota Depok, yakni Asrizal Nur, Eddy Pramduane dan Ade Novi terpilih mengikuti ajang internasional dalam acara Konvensyen Penyair Dunia 2018 yang berlangsung di Bachok, Kelantan, Malaysia pada 20-22 Juli 2018.

Laporan : Ricky Juliansyah

Meski tidak memiliki sumber daya alam (SDA) yang dapat dikelola sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), Kota Depok memiliki keunggulan di sektor SDM. Bagaimana tidak, warga kota sejuta belimbing ini banyak yang menduduki posisi penting di pemerintahan, instansi keamanan, swasta, olahraga dan juga dunia seni.

Kali ini, di dunia seni, ada tiga penyair asal Depok, yakni Asrizal Nur, Eddy Pramduane dan Ade Novi berkesempatan menjadi peserta dalam ajang Konvensyen Penyair Dunia 2018 di Malaysia. Bisa dibilang, sebuah prestasi yang membanggakan dari kota satelit DKI Jakarta.

Dari ketiga penyair tersebut, nama terakhir, yakni Ade Novi bersedia untuk berbagi informasi kepada awak Radar Depok. Kata Ade, untuk mengikuti ajang tersebut, penyair harus mengirimkan tiga puisi yang temanya sudah ditentukan oleh panitia.

“Dalam proses seleksinya setiap penyair yang ingin turut serta mengirim 3 puisi bertema penyair, alam dan bisik Tuhan. Kemudian puisi-puisi itu disunting oleh Rahman Shaari, penyair Malaysia. Alhamdulillah dari 3 puisi yang saya kirim, dua puisi karya saya lolos, sekaligus dapat mengantarkan saya ikut menghadiri acara antar negara ini,” kata Ade.

Perempuan berhijab ini melanjutkan, dua puisi yang lolos adalah Rindu Alam dan Kampoeng Bachok, Kelantan Malaysia, dimana terinspirasi dari keindahan pantai yang ada di Kelantan, aroma alamnya yang begitu menggoda imajinasi untuk mengutarakannya lewat kata-kata.

“Dan yang lebih khususnya, ketika puisi Rindu Alam tercipta adalah setelah percakapan saya dengan salah seorang sahabat yang secara langsung memberitahukan acara bergengsi ini agar ikut serta dalam menghantarkan puisi karya saya,” papar Ade.

Ajang tersebut, bisa dibilang luar biasa. Sebab, ada 226 penyair dari 11 negara, yakni Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Thailand, Timor-Leste, Taiwan, India, Korea Selatan dan Rusia. Menurutnya, Konpen 2018 ini benar-benar membuktikan tidak ada batas yang memisahkan suara penyair.

“Alhamdulillah, lebih 700 untai sajak dari 11 negara. Saya sangat senang dan berterima kasih pada pihak panitia, khususnya kurator yang sudah meluangkan waktu, pikiran serta tenaganya demi terselenggaranya acara antar negara ini,” ucap Ade. (*)