Beranda Utama Iwan Bule Nego Kemenag

Iwan Bule Nego Kemenag

0
Iwan Bule Nego Kemenag
SITI FATONAH/JAWA POS Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan.
SITI FATONAH/JAWA POS
Penjabat Gubernur Jawa Barat, Mochamad Iriawan.

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah menghadirkan bandara terbesar kedua di Indonesia yakni Bandara Internasional Jawa Barat. Pasalnya Pemprov berencana bisa memberangkatkan haji masyarakat Jabar melalui BIJB, Kertajati.

Penjabat (Pj) Gubernur Jabar, M Iriawan mengatakan pihaknya akan bersikeras mengupayakan bisa memfasilitasi jemaah haji asal Jabar ke tanah suci. Namun saat ini masih terus berkoordinasi dengan pihak Kementerian Agama (Kemeg) terkait perizinan dan lainnya.

Untuk bisa berangkat dari Kertajati, kata pria yang kerap disapa Iwan Bule, sudah bertemu dengan Menteri Perhubungan, Menteri Hukum yang sudah dalam membantu kelancaran angkutan udara dengan beberapa biaya yang masih kurang dari Provinsi dan imigrasi pun sudah siap.

“Ini yang belum siap kementerian agama, tapi kita maksimal agar bisa berangkat dan ini dalam keadaan nego juga,” kata Iwan Bule di Bandung, Selasa (3/7).

Sehingga ke depannya Iwan Bule akan terus mengupayakan bisa berangkat haji via BIJB. Selin itu, dirinya pun meminta doa untuk kelancaran dalam proses negoisasi dengan pihak Kemenag RI.

Adapun salah satu alasan Kemenag belum siap memberangkatkan jamaah haji dari BIJB adalah kesiapan infrastruktur penunjangnya. Yakni embarkasi haji dan sarana dan prasarananya, seperti embarkasi haji di Bekasi.

“Contoh itu kan kalau masuk embarkasi tidak keluar lagi 24 jam. Ada pemeriksaan kesehatan, istirahat (sebelum) pemberangkatan, alat-alat, dan sebagainya. Ini yang disampaikan Kementerian Agama belum siap,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekda) Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan pada 2018 ini, Jabar mendapatkan kuota haji terbesar di Indonesia yang mencapai 38.852 orang dari total kuota nasional yang mencapai 221.000 lebih.

“Untuk itu, Panitia yang handal dan profesional dalam melayani para jemaah di lapangan merupakan hal yang mutlak,” ujar Iwan.

Panitia menurut Iwa, perlu mengantisipasi berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan, khususnya ketersedian penginapan, makanan dan transportasi, serta layanan kesehatan.

“Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sebagai garda terdepan yang bertatapan langsung dengan jemaah, oleh karenanya, evaluasi senantiasa terus kita lakukan dalam berbagai kesempatan khususnya pada saat dilaksanakannya pelatihan Petugas yang menyertai Jemaah Haji,” tandasnya. (ona/JPC)