Beranda Metropolis Pemalsu Surat Tanah 49.010 Meter di Depok Dituntut 4 Tahun

Pemalsu Surat Tanah 49.010 Meter di Depok Dituntut 4 Tahun

0
Pemalsu Surat Tanah 49.010 Meter di Depok Dituntut 4 Tahun
RUBIAKTO/Radar Depok DITUNTUT: Emir (43) dituntut 4 tahun, untuk mempertanggung jawabankan perbuatannya atas pemalsuan sertifikat tanah.
RUBIAKTO/Radar Depok
DITUNTUT: Emir (43) dituntut 4 tahun, untuk mempertanggung jawabankan perbuatannya atas pemalsuan sertifikat tanah.

DEPOK – Jaksa penuntut umum menuntut terdakwa Muhammad Emir Firmansyah (43), dengan hukuman empat tahun penjara. Dalam sidang tuntutan yang dilaksanakan, di Pengadilan Negeri Depok, Kamis (5/7). Emir dinyatakan, bersalah karena telah membuat sertifikat palsu untuk tanah seluas 49.010 meter, yang sebelumnya telah dimiliki Sendi Bingei Purba Siboro.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kozar Kertyasa menyatakan, terdakwa Emir terbukti bersalah memalsukan sertifikat tanah milik Sendi Bingei Purba Siboro. “Terdakwa terbukti yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan membuat surat palsu atau memalsukan surat,” kata Kozar.Atas bukti yang terpapar dalam persidangan Kozar menuntut terdakwa 4 tahun kurungan penjara, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Menuntut terdakwa hukuman penjara selama empat tahun,” kata Kozar saat dalam persidangan.Sertifikat tanah palsu yang dibuat Emir merupakan tanah milik Sendi yang terletak di RT3/15, Desa Cilangkap, Cimanggis. Kozar mendakwa Emir dengan dakwaan alternatif yakni pasal 264 ayat (1) ke 1 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, pasal 266 ayat (1) KUHP jo pasal 55 Ayat (1) KUHP, dan pasal 263 ayat (1) KUHP jo pasal 55 Ayat (1) KUHP.

“Terdakwa pada 2002 berniat untuk menjual tanah tersebut dengan cara meminta saksi Imam Sudibyo mencarikan seseorang untuk berperan sebagai Sendi Binge Purba Siboro selaku pemberi kuasa,” katanya.

Hasilnya, Iman meminta Dayat alias Lesmana Basuki untuk berperan sebagai Sendi dan kini masih diburu polisi. Mereka membuat sertifikat tanah palsu melalui notaris PPAT H.M. Afdal Gazali lalu menyerahkan kuasa tanah kepada kepada Aleks Tjahjadi yang juga belum diringkus polisi.

Usai membuat sertifikat tanah dan surat kuasa penerimaan palsu, mereka menjual tanah seharga Rp5,2 miliar itu kepada Hendri Prastowo. Pada 2002 itu, Hendri melalui notaris Liza Riani mengajukan permohonan blangko sertifikat tanah kepada Badan Pertanahan Nasional.

Akibatnya Sendi terpaksa merelakan kepemilikan tanah seharga lebih dari Rp5 miliar itu. “Akibat perbuatan terdakwa bersama-sama saudara Aleks Tjahjadi tersebut Sendi Bingei Purba Siboro kehilangan haknya atas tanah tersebut karena sertifikat hak milik No 32 telah berganti kepemilikan,” sambung Kozar. (rub)