TENDAKU ISTANAKU: Muzaki (35) dan Fauziah Hairih (22) bersama anak dan keluarganya tinggal di tenda darurat yang dibangun warga di halaman Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat.
TENDAKU ISTANAKU: Muzaki (35) dan Fauziah Hairih (22) bersama anak dan keluarganya tinggal di tenda darurat yang dibangun warga di halaman Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat.

Trauma yang dialami warga Lombok setelah lindu 7,0 skala Richter menghajar pulau seribu masjid, ahad lalu (5/8) kian akut. Warga menjadi parno. Mereka lebih memilih tinggal di tenda dibanding di dinding-dinding beton rumah-nya. Saking traumanya bunyi pesawat ataupun alat konstruksi bahkan dikira gempa.

 Laporan: Rubiakto

 Arifin Said  hanya bisa menatap nanar. Dia tak tenang. Stres. Sudah tiga hari air bersih sulit. Isi perutnya pun hanya indomi dan nasi. Dia sulit terlelap. Karena dingin menusuk ketika malam. Tak ada selimut. Jalannya pun masih oleng. Sedikit pusing.Tapi pria 65 tahun itu enggan pindah ke rumahnya yang masih utuh di RT 01/01 Dusun Pakel, Kecamatan Gunung Sari.

Jaraknya tak sampai 10 meter dari tempat pengungsiannya di halaman Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat. “Tak aman tinggal di rumah. Tinggal disini (tenda) lebih aman, walaupun serba kurang,” bebernya kepada Radar Bogor, kemarin sore (8/8).

Padahal dua hari pasca gempa pemerintah sudah menganjurkan agar warga bisa kembali tinggal di rumah. Sebab gempa yang sekarang terjadi hanya sekedar aftershock (gempa susulan) bukan mainshock (gempa utama). Himbauan itu pun hanya ditanggapi Arifin dengan angin lalu.

Bagi dia gempa kemarin adalah hari terburuk. Dibandingkan gempa dua minggu sebelumnya (29/7). Arifin dengan mata kepalanya sendiri melihat tetangganya meninggal karena tertimba reruntuhan rumah. Di hari ke-17 menjelang Lebaran Haji itu, Arifin bersama anak, cucu dan menantunya dikagetkan suara gemuruh di sekeliling rumah. Lantai berderak-derak.

Badannya bergoyang, susah-payah menahan gravitasi. Ia segera melesat keluar rumah bersama anak, cucu dan menantunya. Di luar, ia melihat tembok rumah tetangga roboh. Debu putih mengepul. “Tetangga saya yang baru pulang salat Isya kok gak keluar rumah,” ucapnya.

Dia terus berteriak memanggil namun sia-sia. Dia yang sibuk menyelamatkan menantu dan anaknya itupun hanya tertegun sambil menunggu bantuan tiba. “Diduga dia (korban) ketiduran pas gempa,” lirihnya.

Sejak kejadian itu dia pun bulat memutuskan untuk tidak tingggal di rumah. Apalagi saat kejadian menantunya Fauziah Hairih (22)  sedang hamil besar cucu keduanya. Akhir bulan kata dokter sudah bisa melahirkan. Anaknya Muzaki (35) pun semakin waspada. Semua indra-nya dipaksa peka. Sampai-sampai ada kejadian suara pesawat pun dikiranya gempa.

“Iyah saat itu saya lagi buang air. Kok ada suara gemuruh tidak terlalu besar tapi lambat. Wah ini gempa kayakynya,” cerita Muzaki.

Meski buang hazatnya belum beres dia mengambil langkah seribu. Ternyata dia baru sadar ketika melihat istrinya sedang cengesan di tenda bersama para ibu-ibu lainnya. Dia pun hanya bisa mengelus dada.”Trauma ini susah hilang.Kadang kita di jalan masih saja serasa gempa. Tapi ternyata tidak,” ucapnya.

Kejadian serupa juga terjadi pada tetangganya di pengungsian yang mengira suara alat berat yang sedang membersihkan reruntuhan rumah adalah gempa. “Jadi ketika pemerintah bilang sudah aman bisa balik lagi di rumah, warga tak percaya. Karena ini masalah nyawa,” lirihnya.

Ketakutan Arifin dan anaknya untuk tinggal di rumah sebenarnya  hampir dirasakan semua warga NTB. Sejak tiba di Bandara International Lombok kemarin, pemandangan tenda di depan rumah warga menjadi sesuatu yang wajib. Apalagi getaran gempa dengan skala lebih kecil terus berulang hingga kemarin. Sejak gempa 5 Agustus tercatat sudah ada 230 gempa susulan.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) total korban meninggal dunia menjadi 131 orang. Perinciaanya Kabupaten Lombok utara 78 orang, Lombok Barat 24 orang, Lombok Timur 19 orang, Kota Mataram 6 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Denpasar 2 orang.(*)