FOTO: Ust. Imam Nafi' Junaidi Ketua PC JQH NU Depok
Ust. Imam Nafi’ Junaidi, Ketua PC JQH NU Depok

Oleh: Ust. Imam Nafi’ Junaidi

Bulan dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Ada 4 bulan dalam Al-Qur’an yang dimuliakan, sesuai firman Allah dalam surat At-taubah ayat 36. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.

            Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. Di dalam bulan dzulhijjah, Allah juga memilihkan hari-hari terbaik untuk hambanya agar melakukan ibadah-ibadah yang terbaik.

Rasulullah SAW juga memberikan informasi kepada kita semua mengenai bulan-bulan yang mulia. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya pen). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqadah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhirpen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Syaban. (HR. Al Bukhari). Di bulan-bulan inilah banyak keutamaan-keutamaan dari Allah SWT. Amal ibadah pada bulan-bulan mulia akan menjadi mulia karena dilakukan di bulan yang mulia. Ini berbeda ketika melakukan amal ibadah di bulan-bulan lain.

Selain bulan dzulhijjah sebagai bulan mulia, Allah juga memilihkan hari-hari istimewa di bulan dzulhijjah. Sepuluh hari pertama pada bulan dzulhijjah merupakan hari-hari yang istimewa. Umat Islam bisa melaksanakan ibadah secara bersamaan di sepuluh pertama pada bulan dzulhijjah yang tidak dimiliki pada bulan-bulan lain.

Ibadah shalat, puasa, berkurban dan ibadah haji bisa dilaksanakan secara berbarengan pada bulan dzulhijjah. Sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah menjadi momen yang luar biasa karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat Al Fajr ayat 1 dan 2 yang artinya, “Demi waktu subuh dan sepuluh malam. Firman Allah ini juga diperkuat dengan hadits yang dikutip Ibnu Katsir dari Sohih Bukhori yang artinya  “Dari Ibnu Abbas dengan kualitas hadis marfu’.

Tidak ada hari-hari di mana amal sholih lebih disukai Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, maksudnya sepuluh hari Dzul Hijjah. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Dan bukan pula jihad, ya Rasulallah?’ Rasul lalu menjawab, ‘Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudian ia pulang tak lagi membawa apa-apa,’” (HR Bukhari).

Jelaslah bahwa ibadah pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah sangat dianjurkan, baik shalat, puasa, sedekah atau berkurban dan lain sebagainya. Kecuali puasa yang dilarang pada hari idul adha. Dan di bulan dzulhijjah juga terdapat hari yang sangat agung, yaitu hari arafah.

Pada hari tersebut disunnahkan berpuasa bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Pahala puasa arafah sangat luar biasa, dalam satu riwayat Rasulullah bersabda Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.(HR. An Nasaa’i). Puasa arafah merupakan keistemewaan dari Allah bagi umat Rasulullah SAW. Allah juga melipatgandakan penghapusan dosa dalam puasa Arafah dua kali lipat lebih besar daripada puasa Asyura.

Itulah bulan dzulhijjah, bulan yang di agungkan oleh Allah SWT. Dan ada hari-hari di dalam bulan dzulhijjah yang di agungkan Allah juga. Oleh karenanya kita memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan, taufiq dan hidayah-Nya agar senantiasa kita bisa mengisi bulan dzulhijjah khususnya di pertama sepuluh hari bulan dzulhijjah dengan amal solih. Dan berharap apa yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT sebagai pemberat timbangan kita di hari kiamat kelak, amin. Wallahu ‘alam… (*)