AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK TEMPAT BERSEJARAH : Nasan (75) menunjukkan bekas pondasi mesin pabrik karet yang sekarang menjadi perkebunan di RT01/RW13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Minggu (12/8).
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
TEMPAT BERSEJARAH : Nasan (75) menunjukkan bekas pondasi mesin pabrik karet yang sekarang menjadi perkebunan di RT01/RW13, Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, Minggu (12/8).

Depok memiliki sejumlah bangunan peninggalan zaman Belanda.  Ada yang saat ini masih eksis dan dijadikan cagar budaya, ditelantarkan seperti Rumah Cimanggis di RRI Kecamatan Sukmajaya, bahkan sudah menyisakan puing saja seperti yang terdapat di RT01/RW13, Kecamatan Tapos.

 Laporan : Ricky Juliansyah – Depok

Kecamatan Tapos berada di wilayah timur Kota Depok menjadi lokasi hunian baru yang diminati kaum urban. Bagi mereka yang baru bermukim di sana, mungkin tidak banyak yang tahu jika kecamatan yang kini dipimpin Camat Hasanuddin ini memiliki nilai histori begitu besar, terutama saat zaman penjajahan.

Namun, untuk pribumi berusia lanjut tentu paham betul sejarah kemerdekaan di Kecamatan Tapos. Meski pun ada beberapa kisah yang diturunkan dari orang tua atau kakek orang tersebut.

Beruntung, Radar Depok bisa menjumpai Nasam, kakek berusia 75 tahun ini mau berbagi informasi yang ia dapat dari orangtua dan pengalamannya. Akan tetapi, untuk mengulik sejarah dan keadaan Tapos tempo dulu, tidak akan cukup dalam pertemuan singkat antara awak Radar Depok dan Nasan pernah menjabat sebagai ketua RW di lingkungan tinggalnya.

“Kalau ngomongin sejarah Tapos, tidak akan cukup waktu setengah hari,” tutur Nasan.

Ada sedikit yang menggelitik memori awak Radar Depok, sebab pernah mendapat informasi jika di sekitar lokasi tersebut terdapat bangunan peninggalan Belanda yang saat ini berada di atas lahan milik perusahaan.

Nasan yang kala itu baru selesai dari empang pun mengajak awak Radar Depok untuk melihat puing-puing sisa peninggalan zaman Belanda yang memang berada di areal perkebunan tepat di depan warung yang kini dijaga anak perempuannya.

“Itu ada diseberang, tapi sekarang sudah tinggal puing,” ungkapnya.

Derap langkah Nasan masih lincah dan perawakannya pun masih segar. Bahkan, memori otaknya untuk mengulang sejarah yang pernah dialami tak terlewatkan. Baru saja memasuki pintu masuk ke perkebunan tersebut, Nasan langsung menceritakan jika lokasi itu merupakan gerbang masuk menuju gedung peninggalan Belanda.

“Dulu di sini ada dua gedung peninggalan Belanda, satu untuk sekolah rakyat (SR) satu lagi dipakai untuk pabrik karet,” kenang Nasan sambil menyusuri semak belukar yang sudah cukup tinggi.

Kata Nasan, waktu gedung itu masih berdiri, ukurannya besar, satu gedung yang berbentuk persegi panjang itu berukuran 20×30 meter. Nasan sendiri cukup familiar dengan lokasi tersebut lantaran, dirinya pernah menjadi pekerja di pabrik karet tersebut.

“Saya dulu kerja di perkebunan  karet, namanya PT. Tapos. Saya sendiri tidak tahu gedung itu dibangun tahun berapa, sampai bapak saya juga tidak tahu dan tidak menceritakan awal mula gedung itu dibangun kapan,” kata Nasan.

Berdasarkan penuturan Nasan, dahulu lokasi tersebut menjadi pusat dari perkebunan karet dari beberapa daerah, di Tapos sendiri mencapai 268 hektar, meskipun tidak satu hamparan. Sedangkan, perkebunan karet seperti di Pamulang Indah, Citayam, Gedong Ijo Jakarta, Bentuk (Sekarang golf Jagorawi), Wanaherang, Kranggan, Kranji dan Halim Bekasi.

“Paling luas di daerah Saketi Banten, itu sampai 1.000 hektar, sekitar tiga gunung di sana,” kisah Nasan.

Sayang, begitu lahan tersebut diakuisisi oleh perusahaan lain, sekitar November 1990 seluruh karyawan di perkebunan karet tersebut di PHK. Dan gedung peninggalan Belanda tersebut mau dibongkar.

Sejurus mata memandang, memang lokasi tersebut hanya tampak beberapa tanaman buah dan hamparan ilalang. Maklum saja, lahan tersebut saat ini disewa oleh penjual tanaman buah.

“Sekitar tahun 1998 atau 1999 gedung dibongkar, dan sekarang sudah rata sama tanah. Hanya menyisakan pondasi saja,” terang Nasan.

Nasan pun kembali mengajak awak Radar Depok untuk berjalan menuju lokasi pondasi yang masih tersisa.  Yang membuat lokasi tersebut sudah tidak banyak menyisakan puing-puing gedung, Nasan melanjutkan, ada cerita harta karun yang dipendam oleh sang empunya pabrik saat itu.

“Saya ngomong begini karena memang saya yang menemukan emasnya berdasarkan peta. Waktu itu saya membongkarnya bersama tuan kuasa (Sekarang pimpinan perusahaan.red) pak Toto Yanto yang merupakan orang Cina bersama tukang untuk membongkar,” kisahnya.

Saat itu, ia menemukan emas berbentuk koin ringgit yang diperkirakan memiliki berat 10 kilogram. Saat itu pun, ia diberikan lima keping dan tukang bongkarnya dua keping.

Atas perintah bosnya, ia pun diminta untuk mengantarkan sisa emas yang ditemukan ke CTC wilayah Kramat 7, Senen Jakarta Pusat.

“Saya antar sendiri pakai mobil Willys waktu itu. Saya juga tidak tahu kalau itu emas murni 24 karat, baru tahu pas tukang yang bongkar membawa jatah emasnya ke tukang sepuh emas untuk dibuatkan liontin. Bentuknya seperti koin gobangan,” ungkapnya.

Namun, berdasarkan peta tersebut, masih ada dua gembing besi atau setara 10 kilogram, masih tertanam emas putih dan sampai sekarang belum ditemukan.

Dari cerita tersebut, di tahun 1986 hingga 1989, banyak pemburu harta karun datang ke lokasi tersebut untuk melakukan penggalian.

“Ada yang dari Jawa, Sumatera Selatan dan wilayah lain pada datang. Tapi belum ketemu, yang saya lihat dari peta, dijelaskan dikubur tiga meter dari gerbang, tapi sampai sekarang belum ketemu yang emas putihnya,” ucap Nasan. (*)