AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK DIPROTES WARGA : Suasana pabrik pewangi laundry yang diprotes warga di kawasan Jalan Keadilan, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
DIPROTES WARGA : Suasana pabrik pewangi laundry yang diprotes warga di kawasan Jalan Keadilan, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas, kemarin.

DEPOK – Penghuni Pesona Madani Kelurahan Rangkapanjaya Baru (RJB),  marah sejadinya atas pernyataan Pengelola CV Mawar Cipta Mandiri (MCM). Penghuni merasa pihak pabrik telah melakukan pembohongan publik dengan menyebutkan sudah memiliki izin.

Kuasa hukum perumahan Pesona Mandiri, Ibnu Abas menegaskan, pengelola CV MCM telah melakukan pembohongan kepada publik. Karena mengklaim telah memiliki izin dari Pemerintah. Fakta yang sebenarnya CV MCM tidak memiliki izin, warga belum menandatangani persetujuan. “Dulu pihak CV MCM pernah meminta ijin lingkungan kepada warga, tapi kami tolak,” kata Ibnu Abas kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Menurutnya CV MCM tidak memiliki izin lingkungan, dan tidak memiliki izin edar. CV MCM hanya memiliki SIUP adalah surat izin untuk dapat melakukan kegiatan usaha perdagangan (sesuai Peraturan Menteri Perdagangan No.36/M-DAG/PER/9/2007).

Sehingga SIUP bukan sebagai legalitas untuk melakukan Usaha/Produksi Deterjen Laundry. Sebab untuk menjadi penyedia deterjen laundry produsen harus memiliki izin edar dari Dinas Kesehatan, serta Ijin HO dan Izin Lingkungan/UKL-UPL dari DLHK.

Pihaknya juga menganggap pengelola CV MCM seolah-olah menganggap warga tidak koperatif. Justru sebaliknya sejak CV MCM melakukan kegiatannya pada Februari 2018, warga cukup bersabar menerima bau yang membuat pusing dan mual. Bersabar menerima dampak lingkungan dan gangguan kesehatan yang terjadi sejak Februari hingga Agustus.

Warga juga sangat koperatif dengan memberikan kesempatan kepada Pengelola CV  MCM untuk melakukan relokasi sejak Maret sampai Mei 2018. Faktanya, alih-alih melakukan relokasi, CV MCM justru meningkatkan produksinya serta tidak mempunyai itikad baik untuk mematuhi hasil kesepakatan mediasi yang dihadiri oleh Lurah, Bhabinkamtibmas, Ketua RT, dan RW, dan Tokoh Masyarakat.

“Fakta yang sesungguhnya adalah Pihak Pengelola CV MCM yang tidak kooperatif dan memiliki itikad buruk untuk melanggar Kesepakatan Hasil Mediasi,” tambah Ibnu Abas.

Pengelola CV MCM telah menyesatkan fakta dengan membuat pernyataan bahwa dampak wewangian yang ditimbulkan oleh Hasil Produksi CV MCM tidak masuk akal, karena fakta yang sesungguhnya hasil Uji Laboratorium menunjukkan adanya pencemaran udara yaitu kandungan Hydrogen Sulfide yang melebihi ambang batas normal.

Sementara itu, sebelumnya pengelola CV Mawar Cipta Mandiri, Rubadi mengaku, telah menghentikan operasional pabrik. Pabrik juga akan segera pindah dari lokasi yang sekarang di Jalan Keadilan, Kelurahan Rangkapanjaya Baru (RJB), Pancoranmas. “Sejak beredar pemberitaan di Harian Radar Depok, Jumat (3/8) kami telah menghentikan operasional, dan kami berencana akan pindah lokasi produksi,” kata Rubadi kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Rubandi mengklaim, telah memiliki ijin dari pemerintah, dia juga mengatakan sebenarnya konflik dengan warga telah lama selesai, melalui sejumlah mediasi yang dilaksanakan dengan pihak pemerintah. “Sebenarnya sudah selesai konflik dengan warga, kami juga telah mendapat kesepakatan, tapi seolah warga tidak kooperatif,” terang Rubadi.

Dia juga mengatakan, alasan yang disampaikan oleh warga tidak masuk akal. Belum lagi dampak dari wewangian yang mampu menusuk hidung menurutnya tidak benar. “Sempat salah satu warga kami ajak periksa ke dokter untuk mengetahui penyebabnya, tapi warga menolak. Kalau benar itu terjadi mungkin karyawan kami sudah banyak yang mati,” terang Rubadi. (rub)