AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK BANGUNAN BERSEJARAH : Situs bersejarah Rumah Cimanggis yang berada di kawasan Kecamatan Sukmajaya.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BANGUNAN BERSEJARAH : Situs bersejarah Rumah Cimanggis yang berada di kawasan Kecamatan Sukmajaya.

DEPOK – Memaknai dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia bisa dengan berbagai hal positif. Dahulu, meraih kemerdekaan perlu berkorban jiwa dan raga mengusir penjajah. Namun, bentuk penjajahan saat ini bisa berupa kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan. Hal itu disampaikan Walikota Depok, Mohammad Idris.

Idris mengaku, guna memaknai hari kemerdekaan Pemkot Depok akan terus melakukan pelayanan kepada masyarakat menuju kesejahteraan.

“Anak bangsa ini harus merdeka dari moral, mental, dan nila- spiritual,” kata Idris kepada Radar Depok.

Selain itu lanjut Idris, dalam mengisi kemerdekaan Pemkot Depok tetap mengikuti aturan dan nilai etika sebagai pelayan masyarakat yang akuntabel serta transparan. Ditambah peningkatan kinerja dengan membuat fasilitas umum dan sosial.

“Peninggalan situs-situs bersejarah bisa dijadikan bahan pelajaran warga Depok. Situs-situs ini cukup banyak, dan perlu dilestarikan,” harap Idris.

Anggota Komisi A DPRD Kota Depok, Hamzah mengatakan, untuk mempertahankan kemerdekaan pihaknya berjanji berupaya menyelamatkan situs bersejarah di Kota Depok, salah satunya Rumah Cimanggis. Diketahui, keberadaan Rumah Cimanggis sempat membuat heboh karena dikabarkan bakal digusur imbas dari pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

“Kami di DPRD meminta Pemkot Depok tidak melakukan penggusuran Rumah Cimanggis, dan agar tetap mempertahankannya. Sebab, itu bagian dari sejarah Depok,” terang Hamzah kepada Radar Depok.

Hamzah berharap, Pemkot Depok dan pemerintah pusat harus melestarikan Rumah Cimanggis sebagai situs bersejarah.

“Ini bagian dari kearifan lokal, punya nilai sejarah tinggi. Rumah Cimanggis harus tetap ada, meski di sekitarnya dibangun UIII,” ujar Hamzah.

Senada, Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yeti Wulandari mengatakan, Depok mempunyai situs bersejarah yang tidak hanya berupa bukti pada masa penjajahan Belanda saja. Melainkan juga zaman kerajaan. Dan tak sedikit dari situs yang ada kondisinya memprihatinkan.

“Kalau dipelihara, pastinya mampu mendongkrak dunia wisata di Depok. Apalagi Depok dikenal sebagai kota pendidikan yang dikelilingi kampus ternama,” tutur Yeti kepada Radar Depok.

Tidak hanya itu, pelestarian situs bersejarah juga sebagai wisata napak tilas sejarah di Depok dari zaman kerajaan hingga zaman penjajahan Belanda.

“Kita ketahui ada Rumah Tua Pondok Cina, Jembatan Panus, situs jejak-jejak prajurit Sultan Agung di Tapos, rumah Presiden Depok, gedung pemerintahan kolonial Belanda, gedung SD peninggalan Belanda, rumah tua Cimanggis, hingga Mbah Beji,” ungkap Yeti.

Meski begitu, Yeti mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok melakukan pemeliharaan dengan mengatur anggaran untuk bangunan bersejarah tersebut.

“Besarannya (anggaran pemeliharaan, Red) saya belum hapal, nanti kita lihat lagi. Jika berharap pada masyarakat pastinya akan terbebani. Maka ini kewajiban pemerintah menyuntikan anggaran pemeliharaan,” tegas Yeti.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Depok, Yelis Rosdiana mengaku belum mengetahui perihal keberadaan tempat – tempat sejarah atau lokasi pertempuran saat perjuangan kemerdekaan di Kota Depok.

“Setahu saya, di Depok gak ada gedung atau bangunan bekas perjuangan kemerdekaan,” ujarnya Yelis.

Selain itu lanjut Yelis, Kota Depok hanya memiliki bangunan peninggalan Belanda saja dan tidak ada kaitanya dengan perjuangan kemerdekaan, seperti Rumah Cimanggis yang merupakan rumah istri Jenderal VOC, bangunan peninggalan Belanda di Jalan Pemuda dikelola oleh Yayasan Lembaga Cornelis Chastelen (YLCC). “Gedung atau tempat yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan sepertinya belum ada atau belum ditemukan, maaf bila saya salah,” tutupnya. (irw/dra)