IRWAN/RADAR DEPOK DIUNGKAP LAGI : Polresta Depok berhasil membongkar kasus prositusi online di apartemen di Jalan Margonda Depok. Sebanyak tiga orang diamankan.
IRWAN/RADAR DEPOK
DIUNGKAP LAGI : Polresta Depok berhasil membongkar kasus prositusi online di apartemen di Jalan Margonda Depok. Sebanyak tiga orang diamankan.

DEPOK – Fungsi apartemen di Kota Depok sudah berubah, dari tempat singgah ke prostitusi. Ini dibuktikan, dengan adanya tangkapan baru Polresta Depok di sebuah apartemen di Jalan Margonda Raya, kemarin.

Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Bintoro menuturkan, telah melakukan pemanggilan terhadap pengelola apartemen. “Harusnya hari ini (kemarin) diperiksa, namun yang bersangkutan tidak bisa,” ucap Bintoro kepada Harian Radar Depok saat ditemui di ruangannya,  Kamis (23 /8).

Bintoro menuturkan, selama ini pihak pengelola apartemen Margonda Residence, kooperatif. Pasalnya, telah membuka akses dan mempersilahkan pihak kepolisian untuk mengusut kasus tersebut.

“Bahkan manager utamanya menyuruh untuk menghantam saja, intinya pemilik apartemennya sudah siap dan kooperatif, sudah angkat tangan soal ini,” katanya.

Seperti diketahui, petugas berhasil mengungkap kasus prostitusi yang dilakukan oleh sejumlah PSK pada Selasa 14 Agustus 2018. Para PSK yang diamankan yaitu SG (20), AD (19), FO (19), dan DP (22), kepada petugas mereka mengaku menjaring lelaki hidung belang melalui aplikasi online we chat.

Selang kurang lebih sepekan, yaitu pada Selasa dini hari 21 Agustus, sekitar pukul 01.00 WIB. Petugas Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok dan Polsek Beji, mengamankan tiga orang tersangka yang diduga melakukan praktek prostitusi online anak di bawah umur, di apartemen Margonda Residence, ketiganya berinisial TM, R dan IS.

Bintoro menegaskan, dari ketiga pelaku diketahui telah menjalankan bisnis birahi tersebut, kurang lebih selama satu tahun. “Satu tahun, mereka melakukan ini dan walaupun terselubung tapi terlihat terstruktur,” bebernya.

Menurutnya, para tersangka membagi tugas dalam modus operandinya, ada yang berperan transaksi dengan konsumen, kemudian lainnya mempersiapkan tempat (kamar) apartemen.

“Untuk menjaring konsumen mereka menggunakan aplikasi online (Beetalk), akunnya juga dibuat dengan foto wanitanya (PSK). Setelah deal harganya dan si PSK mau, baru mereka bertemu di apartemen tersebut,” tegasnya.

Untuk satu kali transaksi itu Rp900 ribu, yang dibagi-bagi buat PSK-nya bersih Rp350 ribu, kamar apartemen Rp250 ribu dan bagi ketiga tersangka masing-masing Rp100 ribu.

Hingga saat ini, ketiga tersangka telah mendekam dibalik jeruji besi Mapolsekta Beji. Mereka diganjar Pasal 296 jo 506 dengan tuduhan melakukan praktek prostitusi dengan peran sebagai mucikari.

“Untuk pasal mucikarinya, ancamannya satu tahun empat bulan penjara, namun kalau ditambah lagi dengan pasal perdagangan anak di bawah umur hukuman tentu bertambah,” pungkasnya.

Salah satu tersangka, TR mengaku, uang hasil prostitusi online yang diperolehnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Uangnya untuk makan dan ngerokok aja, saya ga nyuruh dia (PSK) yang mau sendiri malahan minta saya buat dapetin tamu,” paparnya.

Pria yang kesehariannya berprofesi di tempat pencucian motor ini juga mengaku, biasa menjajakan PSK yang masih dibawah umur. “Ya siapa aja, tapi biasa yang masih sekolah dibawah umur,” pungkasnya.(irw)