AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK SAKSI SEJARAH : Rian bin Riin (86) salah satu saksi sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan RI yang berada di Kota Depok saat ditemui dikediamannya Jalan Raya Muchtar, Kecamatan Sawangan, Sabtu (11/8).
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SAKSI SEJARAH : Rian bin Riin (86) salah satu saksi sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan RI yang berada di Kota Depok saat ditemui dikediamannya Jalan Raya Muchtar, Kecamatan Sawangan, Sabtu (11/8).

DEPOK – Tepat pukul 14.00 awak tim Radar Depok mendatangi salah satu rumah pejuang kemerdekaan RI di wilayah Kecamatan Sawangan, dia adalah Rian bin Riin. Di halaman rumah itu terdapat pria tinggi berkulit putih tengah duduk ditemani secangkir kopi. Ternyata dia adalah salah satu anak dari pejuang tersebut.

Saat memasuki rumah berkelir cat putih, dan bangku sofa coklat tampak masih baru. Engkong Rian-sapaan karibnya tengah asik menonton televisi. Mengenakan sarung motif kotak-kotak hijau dan baju hitam ia keluar dari ruang tv menghampiri awak Radar Depok.

Pria kelahiran Sawangan, 86 tahun silam itu ternyata salah satu pejuang di Kota Depok pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sambil mengerahkan sarungnya, engkong Rian bercerita pada saat penjajahan dahulu. Kala itu sekitar usia 10 tahun, dia ikut andil dalam perang melawan dan mengusir penjajah Kompeni Balanda.

Tidak seperti sekarang yang penuh dengan rumah. Dulu sekitar 1942, tanah kelahirannya itu masih dibalut dengan hamparan kebun karet yang membentang hingga perbatasan Parung (Bogor). Rumah pun masih bertembok bambu berbentuk panggung.

“Wah di sini mah ujung ke ujung gelap sama kebun karet, itu juga salah satu mata pencaharian kami warga sawangan,” kata Rian kepada Radar Depok, ditemui di Rumahnya yang berlokasi di Jalan Raya Muchtar, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan.

Anak ke empat dari empat bersaudara ini rupanya anak kesayangan ayahnya yang juga tokoh pejuang 45, Riin. Pada masa penjajahan Belanda dirinya dan keluarga sangat amat susah ekonomi, banting tulang menyayat getah karet untuk menyambung hidup. Kompeni menguasai Depok sampai Jepang datang.

Bukan malah hidup senang, Rian dan keluarga semakin kesusahan hidupnya. Laki-laki pada masa itu banyak yang ditembak dan dibuang di kali mati dengan cuma-cuma. Karena saat itu laki-laki dianggap bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Lahan 10 hektar miliknya dikuasai oleh tentara Jepang. Wanita banyak yang diculik, diperkosa, hingga tidak kembali ke rumah karena dibunuh. Masa-masa itu adalah yang sangat mencekam bagi Rian. Selain peluru pistol dan bambu runcing yang menancap di badan, amunisi yang keluar dari mulut Tank pun juga mengarah ke badan warga tanpa baju itu.

“Dulu pas ada tank Jepang datang, ayah saya langsung ajak kami sekeluarga ngumpet di lubang besar entah bekas apa saya lupa. Itu adalah tempat teraman agar tidak terinjak dengan tank yang jalan kesana kemari,” ujarnya.

Suara dentuman bom dimana-mana saat masa perjuangan mengusir penjajah. Jepang semakin beraksi di Depok, saat negara mereka juga dilepaskan bom Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu. TKR mengerahkan tenaganya hingga Jepang mundur dan Indonesia merdeka.

“Pernah juga saya ditangkap di pabrik gudang garam, disangkanya mau ikut-ikutan perang tapi nyatanya mah ngga,” jelasnya.

Matanya berkaca-kaca dan sesekali mengusap air mata saat Rian mengingat masa kecilnya tersebut. Mulutnya seakan terkunci setiap kali ingin menceritakan lebih jauh kehidupannya dahulu. Kini, Rian tinggal bersama anak ke empat bernama Asmit. Sejak 12 tahun lalu, dia sudah ditinggalkan oleh istri tercinta.

Walaupun memasuki usia renta, postur badan Rian masih sangat fit. Menjelang HUT RI, rumahnya kerap disambangi rombongan dari Koramil 05/Sawangan. Ada yang singgah untuk bersilaturahmi hingga ingin memperbaiki rumah. Namun, Rian menolak tawaran itu. Katanya ini adalah hasil jerih payahnya bersama sang istri.

“Biarin aja hidup dengan begini malah lebih enak, daripada di renovasi. Yang penting saya pintanya badan tetap sehat supaya bisa melihat Kota Depok semakin maju dan berkembang,” pungkasnya. (san)