Commuter Line Masih Ada PR

In Utama
Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi

DEPOK – Memang saat ini Kereta Rangkaian Listrik (KRL), khsusnya PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) jadi primadona. Apalagi, sejumlah fasilitas sangat memanjakan penumpang. Namun, ada beberapa hal yang perlu dibenahi.

Menurut  Pengamat Transportasi, Djoko Setikowarno. Ketika pelayanan di dalam area stasiun dan KRL sudah mumpuni. Masih ada kekurangan yang perlu dibenahi. Dengan meningkatnya frekuensi commuter line dan KRL, sangat berpengaruh pada tiitk temu setiap kereta di beberapa stasiun besar. Seperti Stasiun Manggarai.

“Kapasitas jalur untuk kereta dan peron untuk penumpang di beberapa stasiun harus segera diproses penambahan. Demikian pula lintas Duri-Tangerang yang ada tambahan kereta bandara. Harus dipikir jalur kereta bandara dan KRL terpisah di lintas,” terangnya kepada Harian Radar Depok.

Bukan hanya itu, sterilisasi kebersihan di luar stasiun pedagang liar dan pemukinan kumuh menjadi PR terberat pemerintah. Dan pintu perlintasan kereta ilegal yang kerap masih ditemukan di beberapa titik menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Menurut Djoko, perlintasan kereta ilegal tersebut harus segera di tutup. Selain mengurangi kecelakaan juga dapat meningkatkan frekuensi dari commuter line dan KRL. Untuk menekan angka kemacetan baik di sekitar atau menuju stasiun, dia memberikan usulan untuk mendukung integrasi moda angkutan umum.

“Mestinya ada trayek angkutan umum dari semua kawasan perumahan dan pemukiman warga menuju stasiun KRL terdekat. Warga tidak perlu membawa kendaraan parkir di stasiun dan bayar. Cukup gunakan angkutan umum,” terangnnya.

Hanya saja sata ini, sambungnya kondisi transportasi di Indonesia sudah jauh mengalami perubahan trennya dari tahun ke tahun. Terutama dalam bidang Kereta Api dan Kereta Rangkaian Listrik (KRL).

Sejak dilakukan revitalisasi KRL di 2013, layanan dalam moda transportasi tersebut jauh mengalami kepesatan. Selama kurun waktu lima tahun, di 2018 animo masyarakat yang menggunakan Commuter Line Jabodetabek mencapai 1 Juta orang perhari. Hampir mendekati target Pemerintah yang menginginkan 1,2 Juta orang perhari.

“Pada dasaranya KRL Jabodetabek sekarang sudah setara seperti kereta perkotaan sejenis di kota-kota metropolitan dunia,” kata Djoko kepada Radar Depok.

Menurut Djoko, KRL dianggap kelas dunia karena layanan yang sudah mengikuti tren dunia masa kini. Seperti, pembelian tiket yang sudah meninggalkan tradisi manual beralih ke mesin. Serta pemberian informasi tentang keberangkatan, dan kedatangan kereta baik di stasiun dan dalam commuter line yang sudah mumpuni.

“Sebagian stasiun pun kini sudah di bangun ramah bagi penyandang disabilitas. Pemerintah sekarang sangat memperhatikan warga berkebutuhan khusus dalam segala hal, termasuk tranportasi yang nyaman dan ramah bagi mereka,” pungkasnya.(san)

You may also read!

walikota depok pakai masker CFD

Ini Penjelasan Walikota Depok Bisa Negatif, Meski Istrinya Positif Covid-19

Walikota Depok, Mohammad Idris.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Berkaitan dengan Elly Farida yang terpapar virus Korona (Covid-19),

Read More...
alfamidi SMK Putra Bangsa

SMK Putra Bangsa Gulirkan Alfamidi Class

LULUSAN TERBAIK : Siswa-siswa SMK Putra Bangsa yang menjadi calon peserta Program Alfamidi Class berfoto

Read More...
kantor bawaslu depok ditutup

Ada yang Terkena Covid-19, Sekretariat Bawaslu Depok Tutup

TUTUP : Penampakan Kantor Sekretariat Bawaslu Kota Depok di Jalan Nusantara Raya, Nomor 1 RT03/13

Read More...

Mobile Sliding Menu