DEPOK – Khalayak Depok kedepannya mesti harus hati-hati lagi, terhadap nyamuk mematikan Aedes Aegepty. Apalagi, dengan anomali cuaca yang tak menentu saat ini. Keladinya, hingga 2017, Kota Depok masih berstatus edemis Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sekeretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok, Ernawati mengatakan, terpenting pencegahan DBD di lingkungan dengan melakukan gerakan Menguras, Mengubur, dan Membersihkan (3M) Plus.

“Depok daerah endemis DBD maka diutamakan melakukan 3M,” kata Ernawati, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dari data pemeriksaan jentik berkala tahun 2017, semua daerah di Kota Depok masuk kategori endemis (selalu ada) DBD. “Artinya semua daerah di Depok masuk rentan DBD,” terang dia.

Oleh sebab itu, sambung Ernawati, sebagai upaya pencegahan pihaknya rutin memeriksa jentik berkala setiap dua minggu sekali. Dengan memeriksa jentik sebanyak 20 rumah perkelurahan.

Jika daerah itu dinyatakan endemis DBD. Maka, pihaknya akan melakukan kegiatan 3M plus, dan menyemprot anti nyamuk. Serta menggerakkan masyarakat untuk kerja bakti bersih-bersih lingkungan.

“Nah kalau kolam renang yang nggak bisa dikuras maka harus diberi Abatesasi untuk pencegahan. Kami juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta jangan ada gantungan baju-baju sehingga nyamuk dewasa sembunyi disitu,” jelas Ernawati.

Nyamuk DBD, jelas dia, berkembangbiak digenangan air jernih. Warga diminta untuk rutin mengganti tampungan air jernih yang mungkin ada dirumah. Seperti tempat minum burung, genangan air disisi pot atau vas bunga dan sebagainya. “Nyamuk Aedes aegypty hanya bertelur ditampungan air bersih. Sehingga menimbulkan jentik-jentik nyamuk DBD. Bukan di selokan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, nyamuk Aedes Aegypty biasanya menyerang pada waktu angin sedang rendah yakni pagi antara pukul 07:00-10:00 WIB dan sore antara pukul 15:00-17:00 WIB.(irw)