Dosen Jepang Kunjungi SMA Perjuangan Terpadu Depok

In Pendidikan
SANI/RADAR DEPOK
KUNJUNGAN: Pelajar SMA Perjuangan Terpadu belajar bersama Sugizaki Satoko, guru bahasa Jepang dari dari Shizouka University Japan, Kemarin (21/9).

DEPOK – Suasana di SMA Perjuangan Terpadu mendadak ramai, rupanya ada yang tak biasa. Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Rangkapanjaya Baru, Kecamatan Pancoranmas itu kedatangan tamu spesial dari Jepang. Tamu tersebut adalah Sugizaki Satoko, Dosen dari Shizouka University Japan.

Wakil Kepala SMA Perjuangan Terpadu Bidang Kurikulum, Gita Handayani mengatakan, kedatangan Sugizaki ke sekolah awalnya untuk bertemu dan melihat langsung cara mengajar mantan anak muridnya dahulu yang bernama Rizka Auliana.

“Ternyata berubah tujuannya saat di Indonesia. Dia ingin merasakan dan melihat langsung perbedaan belajar B ahasa Jepang di negaranya dengan di Indonesia,” katanya kepada Radar Depok, kemarin (21/9).

Gita menerangkan, ini merupakan kali pertama pihak sekolah kedatangan tamu dari luar sebagai native speaker. Walaupun keberadaan Sugizaki hanya sehari di sekolah, akan tetapi pihaknya merasa bangga karena anak didiknya dapat belajar tentang Jepang langsung dengan warga aslinya.

“Ke depan mudah-mudahan bukan hanya dari bahasa jepang saja, tetapi juga mendatangkan native speaker dari negara lain lagi. Semoga anak-anak semakin termotivasi untuk terus belajar bahasa asing,” terangnya.

Saat Sugizaki datang, pihak sekolah langsung menyambut kedatangannya dengan tradisi adat Betawi, yakni Palang Pintu. Kemudian di lanjut dengan tarian Manuk Dadali, Jali-Jali, dan pengalungan dasi Pramuka.

“Kami sekaligus memperkenalkan kesenian yang dimiliki Indonesia. Dan pemberian dasi pramuka sebagai simbol bahwa pendidikan karakter anak bangsa di mulai dari Pramuka,” ujar Gita.

Sementara itu, Sugizaki mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang ramai dan menyenangkan. Terlebih semangat yang diperlihatkan siswa SMA Perjuangan Terpadu untuk belajar. Selama satu hari, dia lebih menekankan belajar menulis huruf Hiragana dan Kanji.

“Disana huruf Hiragana dan Kanji dijadikan sebagai seni menulis (kaligrafi). Jadi yang lebih utama adalah anak pandai dahulu menulis. Jika ada kesempatan ke Indonesia lagi akan persiapan lebih lagi,” tutup Sugizaki.(san)

You may also read!

logo UI dari jauh

Peneliti dan Akademisi UI Soroti Kebijakan Prioritas untuk Covid-19

SUASANA ASRI : Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Universitas Indonesia (UI). FOTO : AHMAD FACHRY

Read More...
santunan yatim di jatimulya

423 Warga Jatimulya Terima Santunan

BERBAGI : Camat Cilodong Supomo didampingi Ketua Panitia Santunan Yatim dan Dhuafa Jatimulya, H Adi

Read More...
sosialisasi empat pilar milenial

Hasbullah Sosialisasi Empat Pilar ke Milenial Cilodong

SOSIALISASI : Anggota DPRD Jawa Barat, HM. Hasbullah Rahmad (Kedua dari kanan) di damping istri

Read More...

Mobile Sliding Menu