INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK DEMI KEPENTINGAN BERSAMA: Koordinator FWKB, Junaedi Sitorus meminta Forkot Cijago di Kelurahan Baktijaya, berbesar hati untuk melepaskan lahan bangunan rumah.
INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
DEMI KEPENTINGAN BERSAMA: Koordinator FWKB, Junaedi Sitorus meminta Forkot Cijago di Kelurahan Baktijaya, berbesar hati untuk melepaskan lahan bangunan rumah.

DEPOK – Forum Warga Korban Banjir (FWKB) Perumahan Bukit Cengkeh di Kecamatan Cimanggis dan Pondok Duta di Kecamatan Sukmajaya, mendesak Forum Korban Tol (Forkot) Cinere-Jagorawi (Cijago) di Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, untuk meredam egoisme mereka dan berjiwa nasionalisme, serta peduli akan kepentingan masyarakat banyak, khususnya FWKB.

Koordinator FWKB, Junaedi Sitorus mengatakan, pihaknya akan membuat undangan musyawarah kepada pihak–pihak yang bersengketa dalam pembebasan lahan Tol Cijago Seksi 2, dalam hal ini Forkot melawan Panitia Pembebasan Tanah (P2T), dan turut mengundang Pemkot Depok, Dandim, Kapolres, Hutama Karya, dan PT Trans Lingkar Kita Jaya.

“Kepentingan kami dalam pembebasan lahan ini karena rumah kami di Bukit Cengkeh dan Pondok Duta sering kebanjiran. Solusi satu-satunya adalah dibuatkan sodetan. Tetapi pembuatan sodetan masih terhalang bangunan rumah milik Forkot yang belum dibebaskan,” kata Junaedi Sitorus.

Pertemuan tersebut dijadwalkan digelar pada 14 September di kantor Kelurahan Baktijaya atau di Kecamatan Sukmajaya.

Dikatakan Junaedi, setiap tahunnya ada 3.000 Kepala Keluarga (KK) di dua perumahan tersebut kebanjiran akibat luapan kali yang berada di sekitar perumahan.

Sedangkan jika dibangun sodetan sepanjang 1.200 meter, luapan air yang ada di Situ Pengarengan akan dialihkan ke Kali Sugu Tamu atau Sungai Ciliwung. Sehingga perumahan tersebut diyakini akan terbebas dari banjir.

“Sebagian badan sodetan sudah dibuat di kanan dan kiri jalan tol. Tetapi belum bisa difungsikan karena terhambat lahan di tengah–tengahnya milik Forkot yang belum dibebaskan oleh P2T,” sambungnya.

Junaedi meminta agar pembebasan lahan tersebut segera dilakukan karena mereka masih khawatir akan banjir yang akan melanda permukiman mereka.

Junaedi juga meminta anggota Forkot untuk berjiwa besar dan memikirkan pentingan umum dan kepentingan nasional.

“Apabila tidak juga ditemui kesepakatan pembebasan lahan tersebut, kami akan melakukan demo besar–besaran,” kata Junaedi. (dra)