AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK TERNYATA MASIH KURANG: Pejalan kaki melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) di kawasan Jalan Raya Margonda, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
TERNYATA MASIH KURANG: Pejalan kaki melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) di kawasan Jalan Raya Margonda, kemarin.

DEPOK – Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Kepolisian Resor Kota Depok, Komisaris Sutomo mengkritik minimnya jembatan penyeberangan orang atau JPO di Jalan Raya Margonda.

Menurut Sutomo, kondisi itu memicu kerawanan kecelakaan terhadap pejalan kaki. “Lima JPO di Margonda itu masih kurang,” kata Sutomo, kemarin.

Sutomo menjelaskan, pada 2016 terjadi kecelakaan yang mengakibatkan seorang mahasiswa Universitas Indonesia meninggal.

Korban ditabrak sepeda motor ketika menyeberangi Jalan Margonda. UI pun menyurati Pemerintah Kota Depok, kemudian dibangunlah jembatan penyeberangan.

Menurut Sutomo, Jalan Margonda sepanjang 4,8 meter harus ditambah beberapa jembatan penyeberangan. “Butuh sekitar dua (JPO) lagi,” katanya.

Sutomo berpendapat, jalur penyeberangan yang paling efektif di Depok berupa jembatan, bukan zebra cross atau pelican crossing.

Dia mengusulkan tambahan jembatan ditempatkan di beberapa titik keramaian, antara lain Margonda Segmen 2, yakni perempatan Jalan Juanda sampai pertigaan Jalan Arif Rahman Hakim atau Simpang Ramanda. “Di segmen tersebut antara lain terdapat Depok Mall,” kata dia.

Sebelumnya, Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan ingin membangun jembatan penyeberangan yang juga ditujukan bagi pedagang mikro, kecil, dan menengah.

Lokasinya di gerbang masuk Kota Depok dari arah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dengan anggaran Rp10 miliar pada akhir 2018.

Menurut Idris, jembatan penyeberangan itu bakal meniru skybridge atau jembatan layang di Pondok Indah, Jakarta Selatan. “Tapi ini kecil-kecilan lah dibanding Pondok Indah,” ucap Idris.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Depok, Azhari menegaskan bahwa pembuatann JPO di Jalan Margonda perlu diperhatikan kesematan bagi penggunanya. Terutama untuk anak-anak dan lansia. “Perlu diingat keselamatan, diperhatikan juga. Jangan asal membangun,” kata Azhari. (irw)