IRWAN/RADAR DEPOK SEMAKIN BERKEMBANG: Dian Sukmawati memperlihatkan Donat Salzy Bakery Depok di rukonya, Jalan Raya Margonda, Kecamatan Beji, kemarin.
IRWAN/RADAR DEPOK
SEMAKIN BERKEMBANG: Dian Sukmawati memperlihatkan Donat Salzy Bakery Depok di rukonya, Jalan Raya Margonda, Kecamatan Beji, kemarin.

SEBELUM keinginan tercapai seperti sekarang ini, cobaan kerap dialami Dian Sukmawati. Rugi besar pernah ia pernah rasakan. Tetapi hal itu justru membuatnya semakin bangkit menekuni usahanya.

Laporan: MUHAMMAD IRWAN SUPRIYADI

KEGAGALAN adalah pengalaman penting dalam kesuksesan bagi Dian Sukmawati, dalam merintis usaha donat yang kini sudah memilik bran tersendiri. Bahkan kini, dia disebut sebagai master donat.

Ibu dua anak ini tidak ada basic seorang perajin kue kering dan basah.

“Saya mencoba belajar sendiri buka google, buka youtube. Membuat sendiri gagal coba lagi, gagal coba lagi,” cerita Dian, sambil menggendong sang buah hati.

Dalam hal belajar membuat donat tanpa patah semangat, akhirnya Dian bisa membuat kue apa saja. Mulai dari kue basah, kering, dan cake decorating.

Melihat kondisi ketika itu, Dian mengingat perekonomian sedang down. Ia memulai menjual hasil buatan kue yang belajar dari media sosial. Dari situlah mulai berkembang terus produk hasil olahan tangan Dian.

Kue hasil produksi dijual bervariatif. Seperti kue basah kisaran Rp15.000 sampai Rp3000 per picis. Sedangkan kue kering lebaran Rp40.000 hingga Rp75.000.

“Ada produk unggulan kami yang lainnya, yaitu donat kentang salzi dan stick salzi yang juga sudah ada izinnya,” katanya.

Dalam olahan memproduksi kue donat mengikuti syariat Islam seperti contoh menjaga kesucian dan kebersihan bahan untuk memulai produksi atau homemade.

“Kami sangat memperhatikan soal pelayanan yang baik pada para konsumen. Sebagai bukti sudah banyak pelanggan dari awal usaha sampai sekarang masih menjadi pelanggan setia Salzi Bakery,” ungkapnya.

Usaha yang digeluti Dian baru masuk dua tahun. Memanfaatkan media sosial untuk ajang promosi produk. “Walhasil, sangat membantu yang sebelumnya kami hanya berjualan di warung kue kami saja,” kata dia.

Mendapatkan penghasilan dari kue sebagai bentuk syukur kepada ilahi. Saat awal membuka usaha hanya bermodal Rp100.000.Sehingga ia mengangap dapur adalah sebagai kantor.

“Variatif per bulannya sekitar Rp20 sampai Rp30 juta per bulan dengan cuma 1 warung kue dan memanfaatkan media sosial,” kata dia.

Dari buah kesabaran dan ketekunan dilakukan Dian, kini banyak orderan dan pelanggan. Sehingga pemasukan untuk perekonomian keluarga kian membaik.

Tentunya, dalam mengembangkan usahanya, Dian menyadari sebagai seorang istri dan ibu. Ia tetap meminta ridha dari suami. Sebab, kata dia, suami adalah panutan istri dan imam. “Sekarang suami saya bisa buat kue apapun,” ucapnya sambil tertawa.

“Karena bila ridha suami sudah didapat, kedepannya pasti jalan usaha dimudahkan Allah,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Dian pun sering melakukan silaturahmi. Tapi yang paling penting niat usaha karena Allah SWT. “Be positive thinking. Insya Allah rezeki mengalir, usaha lancaŕ berkah,” katanya. (Bersambung)