PEBRI/RADAR DEPOK KEAGAMAAN: Orang tua dan anaknya sedang mengikuti kegiatan manasik haji yang diadakan BKPAKSI Kota Depok di Lapangan HW, Sabtu (8/9).
yamaha-nmax
PEBRI/RADAR DEPOK
KEAGAMAAN: Orang tua dan anaknya sedang mengikuti kegiatan manasik haji yang diadakan BKPAKSI Kota Depok di Lapangan HW, Sabtu (8/9).

DEPOK – Badan Koordinasi Pendidikan Al-Qur’an dan Keluarga Sakinah Indonesia (BKPAKSI) Kota Depok membuat terobosan untuk kegiatan manasik haji yang diikuti santri-santri di lembaga pendidikan yang menjadi anggotanya. Tidak hanya santi-santri saja yang ikut serta, tetapi orang tua siswa juga ikut dalam kegiatan manasik haji tersebut.

Direktur Utama BKPAKSI Kota Depok, Addy Kurnia Komara mengatakan, pihaknya memang sengaja melibatkan orang tua dalam kegiatan manasik haji. Agar ada keterikatan dalam kegiatan keagamaan antara orang tua dan anak. Jadi dalam kegiatan manasik haji yang diadakan dk Lapangan HW, Kecamatan Beji tersebut, diikuti 1.032 santri dan sekitar 800 orang tua yang ikut serta.

Baca Juga  LPK Rosmalia : Lestarikan Budaya hingga Mahir Merias Wajah (1)

“Kami memang dari awal adalah gerakan pendidikan Alquran dan keluarga sakinah. Jadi, dalam kegiatan manasik haji, kami kolaborasikan semuanya,” ucapnya kepada Radar Depok.

Addy menjelaskan, dari dua tahun melaksanakan konsep manasik haji kekeluargaan dan melakukan evaluasi, menyertakan orang tua justru membuat pelaksanaan menjadi lebih tertib. Bahkan, santri-santri lebih terjaga dan bisa diawasi dengan baik selama kegiatan manasik haji berlangsung.

“Kita juga ingin mengadakan kegiatan yang selaras dengan program Pemkot Depok, yakni ketahanan keluarga,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Komis D DPRD Kota Depok, T. Farida Rahmayanti yang hadir dalam kegiatan tersebut menuturkan, manasik haji yang diadakan BKPAKSI cukup unik, karena menyertakan orang tua. Sehingga, jadi kegiatan yang mengusung konsep Sahabat Keluarga.

Baca Juga  Rektor UPNVJ Beri Penghargaan Mahasiswa Pemenang PON XX Papua-Komcad di Peringatan Sumpah Pemuda

Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan pemberian pemahaman, kalau pendidikan yang utama dan pertama adalah dari orang tua. Sedangkan sekolah adalah mitra pengembangan pendidikannya.

“Dengan menyertakan kegiatan keagamaan antara anak dan orang tua, maka nantinya akan terjalin komunikasi keagamaan yang baik. Jadi, semacam pembicaraan keimanan,” tuturnya. (peb)