INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK MENGOLAH : Nining sedang mengolah sambal baby cumi dirumahnya.
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
MENGOLAH : Nining sedang mengolah sambal baby cumi dirumahnya.

Berkat Katering Rantanganya itu, Nining bisa mempekerjakan sebanyak sepuluh orang warga. Namun, hal tersebut juga yang belakangan membuat usaha kateringnya merosot, akibat perilaku curang dan tak jujur dari salah seorang pekerja.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO SIREGAR

Dia merekrut warga disekitar untuk membantu produksi kateringnya. Ada yang menjadi kurir dan juga menjadi koki. Rata–rata orang yang direkrutnya adalah pengangguran dan orang tidak tamat sekolah jenjang SMA.

“Waktu itu saya sempat dapat orderan dari pabrik di Jakarta Timur dan orderan dari perorangan yang seharinya bisa 50 pesanan. Jadi saya memutuskan untuk merekrut orang untuk bantu – bantu saya,” ujarnya.

Pada tahun 2014, Nining mendapat sebuah anugerah sekaligus dilema. Karena anak bungsunya yang bernama Zidane lolos seleksi dalam ajang pencarian bakat memasak anak, Master Chef Junior. Nining diwajibkan mendampingi anaknya selama tiga bulan penuh sepanjang ajang tersebut. Karena anaknya selalu lolos dalam setiap  babak eliminasi hingga akhirnya anak Nining meraih juara ke-2 dalam ajang tersebut. “Harus mendampingi Zidane selama tiga bulan penuh, katering saya dipegang oleh kepala masak di katering saya,” tuturnya.

Ternyata, selama tiga bulan orang kepercayaanya tidak dapat mengurus katering sesuai standar yang telah ditentukan. Sehingga, kualitas katering terus menurun dan mendapat banyak komplain dari konsumen langganan Nining.

“Saya sering dapet complain dari konsumen seperti potongan ayamnya kecil, rasa masakanya beda dan banyak lagi,” sambungnya.

Parahnya lagi, selama Nining melepas kateringya. Salah seorang oknum karyawanya ada yang melakukan kecurangan, dengan seorang pekerja suplaiyer bahan–bahan pokok kateringnya.

“Sayakan kalau belanja sayur biasanya belinya 100 kilo, tapi sama karyawan saya dibelinya 90 kilo dan 10 kilo lagi di korupsi sama dia,” ungkapnya.

Lantas semakin hari omset kateringnya semakin merosot, bahkan hingga merugi. Lalu pada tahun 2015, dia memutuskan untuk berhenti berbisnis katering dan dengan berat hati seluruh pegawainya diberhentikan.

“ Daripada saya makin rugi dan anak saya terikat kontrak selama tiga tahun, saya memutuskan untuk gulung tikar dan fokus mendampingi anak saya,” ujarnya.

Selama mendampingi anaknya, masih banyak permintaan yang masuk untuk membuat katering. Tapi, belum menarik kembali hasratnya untuk membuka kembali bisnisnya. Hingga suatu hari di tahun 2017, ketika anaknya sudah selesai kontrak dengan televisi. Hasrat untuk berbisnis kuliner kembali menyeruak.

“Berawal ketika teman saya orang Medan baru pulang kampung dan bawa oleh–oleh baby cumi– cumi mentah buat saya. Saya bingung cuminya mau diapain dan saya juga senang sambal ya saya buat sambal aja,” sambungnya.

Sambal buatanya tersebut diposting ke media sosial (medsos)nya. Ternyata banyak teman medsosnya yang tertarik, dan penasaran dengan sambalnya tersebut. Melihat peluang usaha tersebut, akhirnya dia mencoba kembali membuka bisnis kuliner, namun hanya membuat sambal saja.

“Saya coba cari penyalur baby cuinya dan akhinya saya coba produksi masal. Alhamdulilah respon pasar positif,” lanjutnya.

Melihat peluang usaha yang bagus lewat medsos, dia serius mengikuti pelatihan Smart fotografi di Margocity. Mengingat medsos yang dia guanakan untuk berdagang adalah Instagram yang menonjolkan keindahan foto.

“ Saya jadi tau cara membuat foto makanan yang bagus dan menggugah selera followers saya,” katanya.

Bukan hanya di pesan untuk pasar lokal, sambal buatannya tersebut juga dipesan hingga luar negeri, seperti Australia, Rusia, Jepang, Arab Saudi, Jepang, Malaysia , dan Singapura.

“ Ke Australia saya sudah kirim 60 botol sambal, ke Arab 20, Rusia 5, Jepang 4, Malaysia 20, Singapura 15,” ungkapnya.

Sambal tersebut bisa sampai ke luar negeri berkat pesanan teman, yang hendak bepergian ke luar negeri untuk berwisata maupun menempuh pendidikan di sana.

“Biasanya mereka bawa untuk dijual lagi atau bekal mereka di sana. Karena susah sekali menemukan sambal di luar negeri. Saya jualnya Rp. 35 ribu per botol,” tutupnya. (bersambung)