PEBRI/RADAR DEPOK SAMBUTAN: Ketua Sanggar MGBK SMK Kota Depok, Tatang Komarudin (dua kiri) sedang memberikan sambutan saat pembukaan Program PKB yang diadakan MGBK SMK Kota Depok di SMKN 2 Depok, Selasa (18/9).
PEBRI/RADAR DEPOK
SAMBUTAN: Ketua Sanggar MGBK SMK Kota Depok, Tatang Komarudin (dua kiri) sedang memberikan sambutan saat pembukaan Program PKB yang diadakan MGBK SMK Kota Depok di SMKN 2 Depok, Selasa (18/9).

DEPOK – Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMK Kota Depok mengadakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) untuk anggota-anggotanya. Kegiatan yang diadakan dari September 2018 – Maret 2019, menggunakan pola 60 jam, dengan rincian In 42 jam dan Ob 18 jam.

Ketua MGBK SMK Kota Depok, Mochammad Soleh mengatakan, Program PKB berguna untuk wadah guru dalam belajar, karena belajar itu tidak mengenal status profesi, belajar itu tidak boleh putus. PKB merupakan kelanjutan dari Guru Pembelajar dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru.

PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa guru pada perubahan yang diinginkan, yaitu pengembangan profesinya.

“Muara akhir yang diharapkan sebenarnya berkaitan dengan keberhasilan siswa,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar MGBK SMK Kota Depok, Tatang Komarudin menuturkan, pengetahuan harus diperbaharui terus, agar terus meningkat kemampuan sesuai dengan perkembangan zaman. Peran guru BK sangat penting di sekolah, seorang guru BK mengasuh lima rombongan belajar (rombel) atau 150 siswa atau 24 jam mengajar.

“Sekolah harus memiliki guru BK, karena perannya sangat penting. Tidak hanya menjadi pembinaan siswa dalam belajar, tetapi juga pembinaan mental siswa dan juga pandangan hidup,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Kepala KCD wilayah 2, Dadang Ruhiyat menjelaskan, guru BK tidak hanya mengawasi atau memberikan pendampingan ke siswa yang bermasalah saja, tetapi untuk keseluruhan siswa. Karena, guru BK harus bisa memahami karakter siswa, lebih dari guru yang lainnya. Misalnya seperti potensi dan bakat, sampai dengan pandangan siswa terhadap kehidupannya.

“Ibaratnya adalah tempat siswa untuk berkonsultasi berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan dan juga kehidupan siswa tersebut. Semua itu, tentu saja untuk menjadi siswa yang berkarater,” jelasnya. (peb)