DEPOK – Di masa melinial ini serangan jantung tidak lagi melulu dicap penyakit milik orang tua. Faktanya, setiap tahun di Kota Depok tren penyakit gagal jantung dan koroner, mengalami kenaikan. Bagaimana para penderita dalam berjuang hidup.

Umumnya, orang terkena penyakit jantung konorer atau yang sering disebut serangan jantung. Tapi, tak sedikit pula yang mengidap jantung bocor selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Seperti Mochamad Tohir, seorang Wiraswata yang berdomisili di Jalan Jati RT4/5 No59, Kelurahan Sawangan Baru, Sawangan.

Tohir-sapaannya- mengidap penyakit jantung bocor sejak pertengahan tahun 2003. Kala itu usianya baru menginjak 30 tahun yang berprofesi sebagai karyawan di salah satu mall di Kota Depok. Dada deg-degan dan keringat yang melebihi kadarnya (Gobyos), menjadi tanda awal dirinya mengidap penyakit jantung bocor.

“Awalnya saya ga menyangka kalau sakit jantung. Pertama yang buat saya ketanya-tanya saat jalan ke seberang kantor, yang biasanya cepat malah membuat saya sampai istirahat tujuh kali dan baju saya basah kuyup karena keringat dan dada yang berdegup cepat,” kata Tohir kepada Radar Depok.

Kejadian seperti itu, Tohir rasakan hampir setiap hari. Dia mengaku, tidak pernah bisa tidur saat malam hari. Sampai suatu ketika dia pingsan di tempat kerja, dan dibawa ke klinik yang berlokasi di Bojongsari. Disitulah baru mengetahui keadaan yang sebenarnya bahwa dia mengidap penyakit jantung bocor.

Hal itu dibuktikan dengan mendengar detak jantung yang ia bandingkan dengan dirinya dan sang dokter melalui stetoskop. Bunyi “deg blush” yang ia dengar itulah pertanda jantungnya bocor. Dengan perasaan yang campur aduk, Tohir mendatangi Rumah Sakit Bakti Yudha untuk memastikan yang sebenarnya terjadi.

“Pas saya ronsen hasilnya kasih lagi ke dokter yang di klinik ternyata pembuluh jantung saya mencapai 7cm. Pada umumnya hanya 2-3 cm. Karena bengkak, dikhawtirkan jantung saya pecah dan bisa merenggut nyawa saya,” jelasnya.

Di kondisi wajah yang pusat pasi, tepat November 2003 dirinya di rujuk ke RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Saat diteliti lebih jauh oleh sang dokter spesialis Jantung mengatakan bahwa katup aortanya sudah bocor. Kemudian langsung disarankan untuk melakukan operasi.

Pada saat itu belum ada asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dapat mengcover pengobatan. Karena diminta 145 juta rupiah oleh pihak RS Jantung Harapan Kita, akhirnya Tohir mencari pengobatan lain dengan cara tradisional. Uang puluhan juta sudah dihabiskan dengan cara pengobatan tersebut yang tak kunjung sembuh.

Dengan bermodalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Tohir menjalani operasi penggantian katup di RS Jantung Harapan Kita dengan uang 5 juta rupiah, tepat di Juli 2004. Selama 14 tahun hingga hari ini, dia masih rutin setiap satu bulan sekali cek up (kontrol) ke RS Permata Depok dan RS Graha Permata Ibu.

“Penyakit jantung itu walaupun sudah di operasi berkali-kali, tetapi tidak akan sembuh total, pasti akan berulang. Tapi alhamdulillahnya selama saya sakit tidak pernah dipersulit dalam pengobatan di RS,” pungkas Tohir.

Hal yang sama pun juga dialami Mariyah Misran. Dia sudah 25 tahun mengidap penyakit jantung. Bedanya penyakit yang di deritanya adalah Efusi Perikardial. Dimana, kondisi kelebihan cairan pada kantung di sekitar jantung.

Cairan tersebut mengganggu fungsi kerja jantung yang mengakibatkan kesulitan untuk berkontraksi (bekerja) secara maksimal. Sesak nafas, kaki bengkak, lemas, dan air liur mengalir deras adalah tanda-tanda yang dialami Mariyah.

Dia mengetahui, penyakit tersebut saat memeriksa kondisinya di RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Ketika itu sedang mengandung di usia 4 bulan. Perempuan yang mengenakan kerudung biru tua tersebut mengatakan sempat di rawat selama dua minggu di RS Fatmawati tepat Desember 2016.

“Untungnya ngga sampai di operasi karena saya makannya pantang. Apapun yang dilarang dokter saya turutin. Dan alhamdulillah cairan di jantung saya kering dengan sendirinya sampai sekarang,” ungkap Mariyah.

Karena lokasi RS yang terlalu jauh dari rumahnya di daerah Pitara Raya, Keluarahan/Kecamatan Pancoranmas. Membuat dirinya mengalihkan pengobatan rutin di RS Grha Permata Ibu, Beji, Depok. Minum obat setiap malam dan kontrol setiap bulan menjadi kegiatan rutin dirinya.

Selain jantung, Mariyah juga mengidap penyakit darah tinggi dan tulang keropos. Walaupun menggunakan BPJS, ada beberapa obat yang tidak tercover. Namun, dirinya tetap bersyukur semenjak ada kartu “ajaib” tersebut dapat menekan angka pengeluaran biaya pengobatannya.

“Selagi ada kartu (BPJS) itu, saya aman kemana-mana. Dan tak masalah kalau harus minum obat terus, karena itu akan tetap dilakukan sampai kapanpun. Yang penting saya bisa pantang untuk tidak makan yang dilarang dokter,” tutup Mariyah. (san)