IRWAN /RADAR DEPOK SAMPAIKAN KETERANGAN: Kuasa Hukum Nur Mahmudi Ismail (NMI), Iim Abdul Halim menjelaskan kepada awak media soal ketidakhadiran NMI dalam pemeriksaan pertama di Polresta Depok, Kamis (6/9).
IRWAN /RADAR DEPOK
SAMPAIKAN KETERANGAN: Kuasa Hukum Nur Mahmudi Ismail (NMI), Iim Abdul Halim menjelaskan kepada awak media soal ketidakhadiran NMI dalam pemeriksaan pertama di Polresta Depok, Kamis (6/9).

DEPOK – Tersangka kasus dugaan korupsi pelebaran Jalan Nangka, Kelurahan Sukamaju Baru Tapos, Nur Mahmudi Ismail (NMI) tidak hadir dalam pemeriksaan penyidikan Polresta Depok, Kamis (6/9).

Alasan ketidakhadiran NMI pada penyidikan pertama, disampaikan oleh kuasa hukum NMI, Iim Abdul Halim. Ia menyebutkan, NMI masih dalam kondisi sakit pascaterjatuh saat bermain voli, beberapa waktu lalu.

“Saya baru ketemu (NMI, Red) kemarin, kondisi kesehatannya masih sakit. Beliau memohon minta penundaan,” kata Iim kepada Radar Depok.

Bahkan lanjut Iim, keadaan fisik setelah terjatuh leher NMI masih tampak lebam. Tetapi sudah mengempis, dan bekasnya ada di bagian pelipis mata.

“Daya ingat masih bagus ya, masih bisa komunikasi jadi beliau memang udah siap pemeriksaan,” terang Iim.

Kesediaan mantan Presiden Partai Keadilan (PK) ini untuk diperiksa Polresta Depok, kemungkinan pekan depan. Dalam kasus ini, eks Walikota Depok dua periode ini menerjunkan lima pengacara.

“Setelah tanggal 10 September. Ada lima pengacara yang dampingi pak Nur. Saya mewakili Law Firm Soleh Adnan Asociates,” kata Iim.

Pada pertemuannya dengan NMI, Iim mengatakan bahwa NMI mengaku pernah memiliki riwayat stroke. Terkait kliennya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pelebaran Jalan Nangka, Iim menegaskan NMI sama sekali tidak mengeluh dan akan tetap mengikuti proses hukum.

“Beliau mengaku pernah ada riwayat stroke, kemudian terjadi benturan. Nanti akan terlihat posisinya secara fisik, dia jalan agak terpincang-pincang. Sampai sekarang kita belum ke materi, seluruh penetapan tersangka kita ikuti,” tegas Iim.

Penetapan tersangka dilakukan setelah polisi melaksanakan gelar perkara dalam kasus tersebut, Senin (20/8). Total kerugian dalam kasus dugaan korupsi pelebaran Jalan Nangka mencapai Rp10,7 miliar. Walaupun sudah berstatus tersangka, NMI dan tersangka lainnya yaitu mantan Sekda Depok Harry Prihanto belum ditahan.

Selain NMI, sebelumnya Harry Prihanto mangkir dalam pemanggilan pertama oleh Polresta Depok, Rabu (5/9). Kuasa Hukum Harry Prihanto, Ahmar Ihsan Rangkuti mengatakan, surat pemanggilan baru sampai ke pihaknya pada 4 September 2018. Karena keterbatasan informasi, Harry tidak bisa datang.

“Pak Harry pergi ke Cirebon, ia meminta untuk diwakilkan dulu dan minta penundaan pemeriksaan,” kata Ahmar.

Ia memastikan, Harry akan datang pada Rabu depan untuk pemeriksaan di Polresta Depok. “Kami minta pekan depan, nanti baru diperiksa. Pak Harry Insya Allah datang,” ucap dia.

Menurut Ahmar, kasus ini masih dipelajari. Ahmar menilai, pelaksanaan penganggaran proyek pelebaran Jalan Nangka pada 2015 kata Harry sudah clear. “Tapi gak tahu dari pemeriksaan pihak kepolisian,” kata Ahmar.

Namun, Ahmar menegaskan kondisi Harry usai ditetapkan sebagai tersangka dalam keadaan sehat, dan beraktivitas seperti biasa. (irw)