Revolusi Industri 4.0 dan Pendidikan Kita

In Ruang Publik
Supartono, Pengamat Pendidikan Nasional dan Sosial

Oleh: Supartono JW*)

 Sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa kementeriannya sudah menyiapkan standar strategi pembelajaran khusus untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. yang dibuat jauh-jauh hari, ternyata hingga saat ini, pembelajaran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia tetap berjalan seperti biasa, tidak ada perubahan seperti yang telah didengungkan oleh Bapak Menteri.

Bahkan, jangankan para peserta didik dan para mahasiswa, para guru dan dosen di seluruh Indonesia pun masih banyak yang asing dengan apa itu Revolusi Industri 4.0. Ini, di area dunia pendidikan yang menjadi pondasi lahirnya anak bangsa yang seharusnya senantiasa melek kemajuan zaman. Bagaimana dengan masyarakat awam? Apakah masyarakat awam di seluruh Indonesia telah memahami bahwa kini, dunia sudah memasuki era Revolusi Industri 4.0?

Padahal, informasi tentang standar untuk pembelajaran sebagai strategi menghadapi Revolusi Industri 4.0 disampaikan Muhadjir usai memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Setali tiga uang, saat penyiapan diri bangsa ini menghadapi Revolusi Indoustri 4.0 masih tercecer, para elit bangsa dengan para pendukungnya, kini justru sedang menyibukkan diri demi kepentingan pribadi dan golongannya, berproses demi meraih sebuah jabatan/kursi menjelang Pemilu 2019. Para mahasiswa tak lagi terdengar bersuara, diam seperti dikebiri, meski berbagai kebutuhan pokok dan bahan bakar naik tak terkendali.

Swasta menginspirasi metode pendidikan baru

Di tengah kemirisan karena terkesan adem ayemnya Pemerintah dan Kemendikbud sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam menyikapi Revolusi Industri 4.0 dan baru sebatas mengapungkan wacana tentang rencana-rencana starteginya, saya cukup terkesan dengan pihak swasta yang justru menginspirasi menyikapi hadirnya Revolusi Industri 4.0 dengan menyelenggarakan seminar.

Demi meneruskan misi Presiden Joko Widodo yang telah meluncurkan “Making Indonesia 4.0”, serta dalam rangka mengubah serta memperbaiki sumber daya manusia demi dapat bersaing dalam era revolusi industri 4.0, Jababeka Group bekerjasama dengan Glasgow University dan President University telah menggelar seminar bertajuk “The Future of Global Higher Education” di Menara Batavia, Jakarta, Sabtu (4/9).

Seminar ini membicarakan tentang metode pendidikan baru untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Negara wajib dapat mengubah tiga hal dari sisi edukasi, di antaranya pertama, mengubah sifat dan pola pikir anak-anak zaman sekarang. Kedua, sekolah harus dapat mengasah dan mengembangkan bakat seorang anak. Ketiga, institusi pendidikan tinggi seharusnya mampu mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman now.

Bila selama ini para elit bangsa di negeri tercinta, sangat akrab dengan budaya KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) yang wajib diberantas, maka di zaman revolusi industri 4.0 ada KKN baru yang wajib ditanam, dirawat, dan dipupuk, karena dia bernama komunikasi, kolaborasi, dan networking. Teknologi akan selalu berubah. Bahkan, pasti setelah revolusi industri 4.0 akan lahir revolusi baru.

Sejatinya, selain dalam rangka meneruskan misi Presiden, seminar ini pun sejalan dengan rencana program yang diluncurkan Kemendikbud. Menurut Mendikbud, Pemerintah Indonesia sudah siap sebelum Revolusi Industri 4.0 digulirkan. Kemendikbud sudah membuat standar untuk pembelajaran.

Berikutnya, Kemendikbud juga berencana mendesain ulang Kurikulum Pendidikan Indonesia melalui lima kompetensi, di antaranya, kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama, dan percaya diri.

Namun, hingga saya menulis artikel ini, baik program “Making Indonesia 4.0” maupun program Kemendikbud masih sebatas wacana, karena belum ada program yang digulirkan. Terkait hal ini, Muhadjir membela diri bahwa, pada sisa masa jabatannya yang hanya tinggal satu tahun lagi, ada target tertentu yang masih jauh dari harapan. Selain alasan berkejaran dengan waktu, juga harus lebih mempertajam prioritas-prioritas yang memang harus dilakukan serta terbatasnya anggaran. Semakin terbatas pula kesempatan untuk mengeksekusi program-program menyoal Revolusi Industri 4.0.

Apa yang terjadi di lapangan?

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi menyampaikan, pemerintah Indonesia harus benar-benar memiliki cetak biru pendidikan yang jelas. Menurutnya, hingga saat ini cetak biru pendidikan belum terlihat. “Renstra belum jelas sampai menjelang habis masa pemerintahan, bahkan belum merespon kebutuhan revolusi industri 4.0. tidak heran pendidikan karakter juga jalan di tempat karena bentuk, model, dan strateginya belum jelas,” terang Unifah di Jakarta, baru-baru ini.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, faktanya pemerintah belum meluncurkan program kegiatan tentang bagaimana  menyiapkan platform sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, lalu  terbuka terhadap ide-ide baru, kreatif, memiliki ketrampilan hard and soft skill, visioner sesuai dengan tuntutan revolusi industri 4.0.

Kendati kurikulum pembelajaran nasional telah mengacu pada Kurikulum 13 (K13), faktnya masih banyak sekolah yang menggunakan dua kurikulum, antara kurikulum 2013 dan 2006. Padahal kedua kurikulum sangat berbeda substansi dan pendekatannya. Ada yang sudah menggunakan higher order thinking skills (HOTS).Dalam HOTS, bukanlah soal yang sulit, tapi soal yang cara menjawabnya menuntut penalaran dan logika berpikir tingkat tinggi, bersifat abstraksi. Proses pendidikan di lapangan masih banyak yang jauh dari arah itu,  sehinga jelas ada rekasi ketika Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), peserta didik kesulitan menjawab soal.

Nah, persoalan menjalankan K-13 saja masih runyam, sementara kini pendidikan di Indonesia juga harus berkejaran dengan Revolusi Industri 4.0. Bagaimana menyiapkan sumber daya guru/dosen yang siap sesuai tuntutan Revolusi Industri 4.0? Sementara, lahirnya guru-guru yang cerdas, kreatif, senantiasa berkarya dan mendedikasikan pengabdian kepada profesinya sebagai pendidik tidak semudah membalik telapak tangan.

Bahkan sebaliknya, kisah miris tentang kondisi pendidikan di sebagian pelosok negeri karena sebagian guru belum optimal melaksanakan tugasnya, juga fasilitas pendidikan yang belum merata. Masih banyak sekolah di pedalaman yang operasionalnya belum memenuhi standar pelayanan minimal.

Kondisi guru minim kualitas dan kuantitas. Guru adalah ujung tombak dan aktor utama dalam menghadirkan proses pembelajaran di kelas yang sesuai perkembangan zaman. Karenanya,  proses pendidikan di sekolah selalu menuntut kehadiran peran dan dedikasi guru-guru yang cerdas, kreatif, dan inovatif.

Sejak Pemerintah memberlakukan UU No.23 Tahun 2014 yang membatasi Provinsi hanya mengurusi jenjang pendidikan SMA/SMK dan pendidikan khusus/layanan khusus, maka masih banyak pendidik yang belum tersentuh layanan. Ironisnya, justru guru-guru SD dan SMP yang menjadi podasi pendidikan dan seharusnya menguasai teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) yang menjadi roh dari Revolusi Industri 4.0 justru menjadi kurang tersentuh karena tugas ini menjadi kewenangan kabupaten/kota.

Di tengah derasnya pengaruh teknologi yang sekarang sudah berada pada tahap generasi keempat, dunia pendidikan formal kita di daerah masih dihadapkan pada persoalan-persoalan mendasar. Misalnya, rendahnya minat belajar siswa atau kepedulian masyarakat yang tidak signifikan dengan semangat menciptakan ouput berdaya saing tinggi. Sementara para tenaga pendidik kita (guru/dosen)  masih banyak yang  belum melek informasi dan teknologi (IT)  dan tidak memiliki the fighting spirit untuk maju, menjadi suatu hal yang kontradiktif, bila dikaitkan dengan kehadiran Revolusi Industri 4.0

Inilah realitas kekinian pendidikan kita. Harusnya kita sudah bergerak ke level yang sesuai dengan kondisi objektif masa kini, yaitu menyiapkan generasi yang oleh mantan Mendikbud Anies Baswedan disebut sebagai cara berpikir pendidikan abad 21, dengan mengubah mindset dari “kamu mau jadi apa?” menjadi “kamu mau buat apa” setelah menyelesaikan proses pendidikan. Hadirnya Revolusi Industri 4.0, maka terjadi perubahan besar pada tatanan kehidupan, terutama menyangkut lapangan kerja.

Revolusi Industri 4.0 berakibat terjadinya distruptif teknologi yang melahirkan  kecerdasan buatan atau intelegensi artifisial. Imbasnya, pekerjaan yang dilakukan secara manual akan terganti oleh robot.  Oleh karena itu, sekolah dan tenaga pendidik seharusnya menyediakan dirinya untuk lebih siap menjawab tantangan tersebut. Yakni, menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan dan kesulitan era pada saat mana lulusan sekolah harus bersaing dengan robot dan kecerdasan buatan. Yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan justru wajib menyiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi, kolaborasi, kepemimpinan, kreativitas dan inovasi. Inilah bidang-bidang yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Langkah antisipasi

Mengingat hingga kini Kemendikbud dan Pemerintah baru sebatas memberikan wacana program-program yang menggaransi Indonesia tidak gagap di ranah Revolusi Industri 4.0, namun masa jabatan tinggal satu tahun, maka seluruh stakeholder tidak boleh diam terpaku menunggu langkah konkrit pemerintah.

Terkhusus untuk dunia pendidikan, wajib menjadi perhatian seluruh stakeholder pendidikan di luar Kemendikbud, yaitu memerhatikan tersedianya sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis dan komputerisasi di semua jenjang pendidikan. Meng-upgrade guru dan dosen untuk melek TIK dan IT. Dalam proses pembelajaran menyangkut Revolusi Industri 4.0 juga didengungkan berkolaborasi dengan materi pelajaran. Maka, peserta didik menyadari bahwa kini sudah masuk era Revolusi Industri 4.0.

Berikutnya, adanya sikap responsif dan aplikatif. Lembaga pendidikan merespon dan mengaplikasikan kebutuhan-kebutuhan zaman now dalam pembelajaran.  Tanpa harus menunggu Kemendikbud mengubah rancangan kurikulum.

Untuk masyarakat luas, di luar dunia pendidikan harus ada sosialisasi yang menyadarkan bahwa kini Revolusi Industri 4.0 telah hadir. Maka masyarakat juga harus melek zaman dan memahami apa itu Revolusi Industri 4.0.  Bisa melalui penyuluhan yang diorganisir mulai Kabupaten/Kota, terus turun ke bawah ke Kecamatan, Kelurahan, Rukun Warga (RW), hingga Rukun Tetangga (RT).

Revolusi apapun, termasuk Revolusi Industri 4.0, masyarakat bangsa Indonesia yang terpelajar maupun yang belum sempat menikmati bangku pendidikan, tak terkecuali harus selalu melek perkembangan zaman, agar terus dapat “bersaing” dengan dirinya, orang lain, hingga persaingan dengan bangsa lain dan menjadi bangsa pemenang! Menjadi tuan rumah Asian Games 2018, sukses. Maka, hadapi Revolusi Industri 4.0 pun, wajib sukses. Amin. (*)

*)Pengamat Pendidikan Nasional dan Sosial

You may also read!

kantor bawaslu depok ditutup

Ada yang Terkena Covid-19, Sekretariat Bawaslu Depok Tutup

TUTUP : Penampakan Kantor Sekretariat Bawaslu Kota Depok di Jalan Nusantara Raya, Nomor 1 RT03/13

Read More...
penertiban masker di kecamatan bojongsari

66 Pelanggar Terjaring di Kecamatan Bojongsari

HUKUMAN : Anggota Satpol PP Kota Depok saat memberikan sanksi sosial kepada pelanggar yang tidak

Read More...
Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida

Istri Walikota Depok Positif Covid-19

Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida.   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Awan mendung seakan menghiasi langit PKK

Read More...

Mobile Sliding Menu