Pengemat Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Banu Muhammad Haidir

DEPOK – Nilai tukar rupiah semakin liar. Berdasarkan data reuters pada Selasa (4/9) siang, Mata Uang Garuda bergerak ke level Rp14.920 per dolar AS atau melemah 105 poin atau 0,70 persen dari nilai tukar kemarin sore, Senin (3/9) yang berada di level Rp14.815 per dolar AS.

Bahkan, pada penutupan perdagangan pasar, Selasa (4/9) sore nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mencapai Rp14.935, melemah 120 poin atau 0,81 persen.

Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dipengaruhi berbagai faktor, dan didominasi faktor eksternal. Hal tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Banu Muhammad Haidir.

Faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor luar yang tidak bisa dikendalikan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Penguatan Dolar AS oleh pemerintah AS menjadi faktor pertama melemahnya nilai tukar rupiah.

“USD memang sedang dikuatkan oleh pemerintah AS sendiri, karena untuk menghadapi ketidakpastian perang dagang antara AS dengan China,” ucap Banu kepada Radar Depok, kemarin (4/9).

AS yang selalu menaikan suku bunga, diikuti China dengan mengevaluasi suku mata uangnya berdampak pada situasional ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia.

“Itu yang sebenarnya paling sulit, mengontrol negara-negara besar (AS-China) itu. Kita harus bereaksi, hari ini kita berada dalam kondisi yang tidak sehat,” terangnya.

Bahkan, lanjut Banu, jika ini terus dibiarkan maka nilai tukar tupiah terhadap dolar bisa tembus dan melebihi Rp15.000. Faktor kedua yang mempengaruhi nilai rupiah adalah kecenderungan para importir demi kepentingan bisnis mereka memegang kendali USD. “Padahal BI selalu melakukan intervensi moneter dengan menjual mata uang dolar yang dimiliki ke pasar. Ketika permintaan rupiah tinggi otomatis menyeimbangkan,” tutur Banu.

Namun yang terjadi di lapangan, suasana di pasar adalah rupiah tidak dicari orang. “Semakin tinggi permintaan dolar ya semakin mahal. Makanya BI mencoba menetralisir dengan cara mengeluarkan devisanya,” bebernya.

Yang harus lebih dipikirkan sebenarnya dampaknya. Karena ketika peningkatan di respon BI dengan menaikkan suku bunga maka akan berdampak pada melemahnya investasi, dan banyak sektor terpengaruh. Salah satunya perdagangan dan perindustrian.

“Efek dari ini yang dikhawatirkan adalah meningkatnya hutang luar negeri, karena dengan sendirinya akan menyebabkan anggaran pembayaran cicilan hutang meningkat dan APBN terkuras,” bebernya.

Kekhawatiran lainnya adalah naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak pada banyak hal, salah satunya kenaikkan bahan pangan. “Tapi saat ini masih relatif kokoh secara internal makro ekonomi,” ujar Banu.

Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok Miftah Sunandar menilai, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup membuat kaget masyarakat, terutama para pelaku pengusaha. Tetapi, pada situasi ini juga ada pihak yang diuntungkan, yaitu para pengusaha tambang. Karena mereka menjual barangnya dengan uang dolar.

“Ada dua yang dirugikan dan diuntungkan. Tentu pengusaha yang dirugikan seperti perumahan, makanan, farmasi, dan lainnya. Sebab biaya produksi pembelian menggunakan rupiah,” kata Miftah, kepada Radar Depok, kemarin (4/9).

Kenaikan dolar AS ini memang bertahap, dan membuat para pengusaha harus memutar otak untuk biaya produksi. Miftah mengatakan, pada Selasa (4/9) pukul 16.00 sudah tembus di angka Rp15.000 per dolar AS. Ia berharap, nilai tukar rupiah bisa kembali stabil di angka Rp13.500.

“Pengusaha pasti khawatir dengan situasi ini, bagaimana memproduksi. Hanya segelintir pengusaha di bangsa ini yang diuntungkan dengan kenaikan dolar,” tegas Miftah.

Sementara itu, salah satu pemilik Money Changer di Kota Depok yang enggan disebutkan namanya mengaku, kenaikan dolar AS tidak berdampak pada penukaran uang di tempatnya. “Tidak ada antrean panjang, biasa saja. Justru dolar AS turun ramai. Kalau naik cenderung biasa saja,” katanya.

Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih di angka Rp14.700. “Gak ngaruh, bagusan dolar turun. Harga pun stabil dan tidak ada kenaikan. Kami harap dolar turun,” ucapnya. (san/irw)