AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK KEMBALI DENGAN SELAMAT : Sejumlah jamaah haji asal Kota Depok saat tiba di Halaman Balaikota Depok, Rabu (5/9).
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
KEMBALI DENGAN SELAMAT : Sejumlah jamaah haji asal Kota Depok saat tiba di Halaman Balaikota Depok, Rabu (5/9).

DEPOK – Sebanyak 819 jamaah haji Kota Depok yang berasal dari Kloter 28 dan 30 tiba dengan selamat. Hanya  ada satu jamaah bernama Surip, warga Kecamatan Sukmajaya meninggal dunia karena sakit di Mekah, Arab Saudi, pekan lalu.

Kepala Kementerian Agama Kota Depok, Asnawi menyebutkan, almarhum Surip masuk dalam daftar di kloter 30, dan telah dimakamkan di Mekah.

“Almarhum Surip meninggal dunia setelah menunaikan ibadah haji, dimakamkan di sana karena mengurusnya susah,” terang Asnawi kepada Radar Depok.

Kloter 28 merupakan kloter pertama Kota Depok yang tiba di embarkasi Bekasi pada pukul 14.00 wib. Dan tiba di Depok pada pukul 16.00 wib.

Sedangkan jamaah di kloter 30 tiba di Kota Depok pada pukul 23.00 wib. Mereka datang bersamaan dengan barang bawaan dan oleh-oleh.

“Semua datang sehat dan tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit. Kloter 30 tidak lengkap karena itu tadi ada yang meninggal,” tutur Asnawi.

Salah satu jamaah, Qurtifa Wijaya mengaku selama menjalankan ibadah haji berjalan lancar. Ia bersyukur bisa pulang kembali ke tanah air.

“Pelayanan cukup bagus dari tempat tinggal hingga makan. Semoga bisa pergi lagi ke Tanah Suci,” kata dia.

Terpisah, penyelenggara ibadah haji dari Komite Haji Arab Saudi memuji kinerja pengelolaan haji Indonesia. Cara Indonesia mengelola ibadah haji jamaah dari Tanah Air disebut sistematis dan unik dibandingkan negara-negara lain. “Kalian bekerja sangat baik dalam menangani jamaah haji,” kata Kepala Pelayanan Kesehatan Komite Haji Arab Saudi untuk Asia Tenggara, Ehsan A Bouges, Rabu (5/9).

Menurutnya, kerja pelayanan haji pemerintah Indonesia membuat koordinasi kian mudah dan penanganan pelaksanaan ibadah haji bisa lebih terkendali. Secara khusus, Ehsan kagum dengan pendataan haji Indonesia yang tergolong rapi. “Kalian punya sistem. Ini hal yang tak dipunyai pengelola haji negara lain,” kata dia.

Ia mencontohkan, saat petugas atau pekerja medis Saudi menangani jamaah dari Indonesia, mereka tinggal mengirim nomor paspor jamaah bersangkutan ke Panitia Penyelenggaraan Ibadan Haji (PPIH) Arab Saudi baik dari Kementerian Agama maupun Kementerian Kesehatan. Berdasarkan nomor paspor itu, pihak Saudi bisa langsung mengetahui data jamaah terkait mulai dari data pribadi hingga riwayat kesehatannya dan mengambil tindakan.

“Saya bertemu dengan banyak misi haji dari negara lain, dan mereka bahkan tak memiliki laporan lengkap soal jamaah,” kata dia.

Ia menilai, petugas-petugas haji Indonesia juga sangat mudah diajak bekerja sama dan sangat suportif dalam membantu pelayanan haji. Tahun depan, Ehsan menjanjikan akan dilakukan peningkatan terkait pelayanan jamaah haji, termasuk dari Indonesia. Mereka saat ini sudah mengajukan proposal soal penambahan ambulans dan klinik kesehatan. (irw/rep)