AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK PEMERIKSAAN RUTIN : Salah satu pasien saat melakukan pemeriksaan rutin di salah satu dokter spesialis jantung di Rumah Sakit HGA, Jalan Raden Saleh, Kecamatan Sukmajaya, beberapa waktu lalu.
yamaha-nmax
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
PEMERIKSAAN RUTIN : Salah satu pasien saat melakukan pemeriksaan rutin di salah satu dokter spesialis jantung di Rumah Sakit HGA, Jalan Raden Saleh, Kecamatan Sukmajaya, beberapa waktu lalu.

DEPOK – Khalayak Kota Depok saat ini mesti menjadi pribadi yang hebat menjaga pola hidup. Musababnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok mecatat, selama tiga tahun terakhir tren pengidap penyakit jantung naik. Jenis penyakit gagal jantung pada 2016 sebanyak 730 orang, 2017 ada 1.225 orang, dan 2018 sebanyak 983 orang yang tercatat. Sedangkan untuk jenis penyakit jatung koroner di 2016 ada 5.183 orang, 2017 ada 2.656 orang yang mengalami sakit jantung.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Ernawati mengatakan, tren penyakit jantung di Depok yang dialami warga Depok dari tiga tahun belakangan ini turun naik.

Dimana jenis penyakit jatung di Depok ada dua jenis antara lain, jantung koroner dan gagal jantung. “Gagal jantung naik terus dari tiga tahun belakangan ini,” kata Ernawati, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Penanganan penyakit jantung, jelas Ernawati, merupakan kasus rujukan yang penanganan dan terapinya dilakukan di rumah sakit. Apa lagi dalam keadaan emergency perlu penanganan yang intensif, berupa perawatan diruang khusus yaitu intensive cardiac care unit (ICCU). “Bahkan, ada juga yang memerlukan tindakan Cito atau segera berupa operasi atapun keteterisasi,” jelas dia.

Ia pun berpesan, warga Depok tidak perlu khwatir jika mengalami penyakit jantung untuk berobat. “Di Depok hampir semua rumah sakit tipe C memiliki dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SPJP),” tuturnya.

Lalu rumah sakit yang sudah memiliki fasilitas ICCU dan Fasilitas Kateterisasi serta Angografi, di Rumah Sakit Khusus Jantung Diagram dan Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak. “Di Depok hanya ada dua rumah sakit yang khusus, itu yang saya tahu,” katanya.

Baca Juga  Bonus Porda Tak Pakai APBD Kota Depok

Pemerintah Kota Depok dalam hal ini tidak lepas begitu saja bagi warga yang mengalami sakit jantung. Kata dia, untuk pelayanan pengobatan dapat diberikan di Puskesmas, jika penyakit pasien sudah terkontrol atau terkendali. Sedangkan, peserta Jaminan kesehatan Nasional (JKN) jika obat diperlukan ada di Puskesmas seauai dengan formulariun nasional (Fornas), maka obat dapat diperoleh di Puskesmas.

“Tapi jika obat yang dibutuhkan tidak masuk fornas di Puskemas. Obat dapat diambil di Apotik yang berkerjasama dengan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah, dr Munadi Munadi mengatakan, serangan jantung dapat memberikan resiko kematian. Pembulu darah ada dua bagian yakni kiri dan kanan. Untuk bagian kiri, tiga perempat merupakan sumber kebutuhan jantung dan bagian kanan merupakan seperempatnya. Bagian kiri memiliki uda cabang dalam jantung yakni untuk memompa jantung dan memeluk jantung dan kanan bertugas menyuplai makanan ke distrik jantung.

“Apabila bagian kiri cabang utama mengalami gangguan dan tidak segera ditangani resiko kematian sangat tinggi,” ujar Munadi kepada Radar Depok.

Munadi menjelaskan, untuk penanganan pasien serangan jantung disebut golden period atau kesempatan emas untuk menolong untuk mencegah kelamahan kepada jantung, salah satunya gangguan akan pompa atau gagal jantung. Munadi menilai ada enam faktor yang dapat menyebabkan terkena penyakit jantung, seperti genetik, diabetes, hipertensi, kolesterol, obesitas, dan perokok. Munadi menambahkan, satu jam orang merokok maka selama 24 jam pembuluh darah akan menyempit.

Baca Juga  9 Jenis Ikan Asin yang Hiasi Kuliner Indonesia

Munadi mengungkapkan, Diabetes merupakan salah satu penyakit yang secara tidak langsung beresiko terkena penyakit jantung. Dia membandingkan dari sepuluh orang yang terkena penyakit diabetes, tidak dikelola atau mendapatkan penanganan. Delapan orang terkena penyakit jantung. Menurutnya, apabila pasien terkena diabetes diturunkan HBA1C atau wujud gula yang menggulai HB yang berada di sel darah merah, untuk ukuran keadaan normal yakni 5,5 namun untuk pasien diabetes hingga diatas 10. Apabila HBA1C mengalami penurunan minimal satu persen pada penderita diabetes, maka resiko kematian akan turun sebanyak 4,5 persen.

“Hampir setengah populasi penderita diabetes akan turun resiko kematiannya,” terang Munadi.

Munadi menjelaskan, untuk mencegah masyarakat tidak terkena penyakit Jantung, diperlukan rumus ABC. Yakni untuk A menjaga HBA1C apabila penderita diabetes dibawah angka tujuh miligram persen, B yaitu Blak Fresher artinya tekanan darah dibawah 125 miligram persen, C yaitu kolesterol dengan ukuran dibawah 70 miligram persen. Munadi menambahkan, olahraga dapat mencegah terkena penyakit jantung. Masyarakat dapat berolahraga minimal 30 menit atau seminggu tiga kali.

Tidak hanya itu, lanjut Munadi masyarakat diharapkan dapat mengkonsumsi makanan sebanyak lima porsi dalam sehari. Dengan mengkonsumsi makanan sehat dan berhenti merokok. Munadi mengakui, pasien yang datang berkonsultasi kepada dia, merupakan pasien yang sudah faktor resiko.

“Umumnya pasien terkena penyakit jantung berusia 50 tahun keatas,” ucap Munadi.

Pria yang dikenal santun tersebut menuturkan, salah satu pengobatan untuk menurunkan resiko kematian akibat serangan jantung dengan melakukan pemasangan ring. Pemasangan ring dapat dilakukan di bagian tangan. Nantinya, setelah dilakukan penanganan akan terlihat dan dilakukan observasi, apabila penyumbatan dibawah 70 persen untuk penanganan masih dapat dilakukan dengan obat dan menggunakan rumus HBC. Namun, apabila diatas 70 persen dan bukan cabang utama serta hanya dua menyumbat baik kiri dan kanan, masih dapat dilakukan penanganan dengan balon dan memasang cicin, sehingga aliran darah dan otot jantung full mendapatkan nutrisi.

Baca Juga  130 PPPK Guru SD Negeri di Depok dapat Pelatihan

Munadi membeberkan, apabila fungsi jantung mengalami masalah komplek, penderita dilakukan operasi bypass. Munadi mengakui, sejumlah rumah sakit mengalami keterbatasan fasilitas dalam penanganan penyakit jantung. Sehingga, masih ada penderita penyakit jantung harus menunggu jadwal operasi dan penanganan. Begitun yang juga terjadi di Kota Depok, sehingga hal tersebut masih dialami masyarakat Kota Depok.

“Di Jakarta sekalipun masih sedikit rumah sakit yang mampu melakukan penanganan pasien penyakit jantung,” ujar Munadi.

Munadi mengatakan, rata-rata pasien penderita penyakit jantung menggunakan BPJS. BPJS yang plafonnya mencukupi dirumah sakit swasta katagori kelas satu. Namun, untuk kelas tiga, sangat sedikit. Filosofi menolong penyakit jantung No Logistik, No procedure. Logistik sangat berhubungan dengan plafon yang diberikan pemerintah dan membuat rumah sakit swasta harus melakukan prediksi dan dilakukan repear ke rumah sakit non profit, seperti Rumah Sakit Harapan Kita dan RSCM.

Untuk itu, sambung Munadi masyarkat diharapkan untuk tidak merokok, memakan buah dan sayur lima porsi dalam sehari, berolahraga, menuruni HBA1C untuk penderita pasien, menjaga tekanan darah, mencegah kolesterol.

“Jagalah kesehatan jantung dengan menghindari penyakit serangan jantung,” tutup Munadi.(irw/dic)