DICKY/RADARDEPOK PEDULI : Tim Relawan Bogor saat memeriksakan kesehatan warga di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah, kemarin siang. Insert : Relawan berbicang dengan Pimpinan Redaksi Radar Sulawesi Tengah di halaman.
DICKY/RADARDEPOK
PEDULI : Tim Relawan Bogor saat memeriksakan kesehatan warga di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah, kemarin siang. Insert : Relawan berbicang dengan Pimpinan Redaksi Radar Sulawesi Tengah di halaman.

Gedung Graha Pena yang menjadi home base Radar Bogor Group, menjadi titik tolak pemberangkatan Relawan Bogor. Minggu (7/10) dini hari pukul 00:30 WIB, Relawan Bogor yang terdiri Dinkes Pemkab Bogor, spesialis urut dan patah tulang Cimande, Jurnalis Radar Bogor dan Radar Depok, berkumpul di gedung berkelir biru.

Laporan : Dicky Agung Prihanto, Depok

Setelah mendapatkan pengarahan dan dilepas CEO Radar Bogor Group, Hazirin Sitepu. Sebanyak 16 Relawan Bogor dengan mengenakan rompi biru, bertolak menuju Bandara Soekarno Hatta. Sekira pukul 02:45 WIB, Relawan Bogor sampai di bandara Soekarno Hatta dan bersiap menuju Kota Palu.

Menggunakan pesawat komersil berjenis Boeing 737-800, tepat pukul 04:30 WIB Relawan Bogor bertolak menuju Palu. Selama perjalanan tampak keceriaan dan cerita dilontarkan personil tim Relawan Bogor. Namun, saat akan mendarat di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah. Sejumlah relawan sontak kaget. Maklum aktifitas di bandara ini menjadi padat, pasca becana gempa dan tsunami.

Di dalam perjalanan, Ketua Tim Relawan Bogor, Benny Irawan mengatakan, sebanyak 16 relawan telah siap melakukan aksi kemanusiaan untuk membantu masyarakat Palu yang mengalami musibah gempa bumi dan tsunami. Relawan Palu membuka basecamp dio salah satu rumah milik warga di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. “Kami membawa sejumlah obat-obatan untuk pengobatan masyarakat terdampak,” ujar Benny.

Pria yang berkerja di Harian Radar Bogor tersebut mengungkapkan, sekitar 20 dus dengan berat 400 kilogram merupakan barang bawaan Relawan Bogor. Untuk memenuhi tugas kesehatan dan kebutuhan Relawan Bogor.

Setelah beristirahat dan makan siang bersama, sejumlah relawan melakukan persiapan untuk pengobatan masyarakat Masumba. Dibawah terpal dengan tali sebagai pengikat, Relawan Bogor telah berkoordinasi dengan masyarakat sekitar untuk membuka pengobatan masyarakat.

Warga antusias mendatangi Posko Relawan Bogor, untuk mendapatkan pengobatan secara gratis. Salah seorang dokter yang tergabung dalam Relawan Bogor, Hafiz Ar Qursoy menuturkan, sebanyak 20 masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan. Umumnya masyarakat terkena infeksi saluran pernapasan.

“Pasien terkena penyakit batuk, pilek, dan ada beberapa yang mengalami demam,” ucap dokter muda tersebut.

Disela menangani pasien, Hafiz mengatakan, penyakit Ispa yang dialami masyarakat berasal dari debu yang banyak ditemukan hampir setiap sudut wilayah Palu, pasca gempa dan penularan penyakit antar masyarakat. Untuk itu, dia meminta masyarakat untuk menjaga kesehatan dan menggunakan masker saat berpergian.

Usai melakukan pengobatan, sebagian Relawan Bogor bergerak untuk melihat lokasi sekitar Palu. Banyak ditemukan bangunan yang mengalami kerusakan. Bahkan, sejumlah kendaraan roda empat hancur lebur diseret tsunami dan rerutuhan bangunan. Menjelang matahari akan terbenam, Relawan Bogor menyempatkan diri mendatangi kantor Radar Sulawesi Tengah.

Bangunan tiga lantai tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. Memasuki pintu kantor bagian belakang, sejumlah dinding, atap, hingga anak tangga mengalami kerusakan. Lantai satu mengalami kerusakan yang terparah. Namun, lantai dua dan tiga hanya mengalami keretakan bangunan.

Saat ditemui di halaman bekalang kantor Radar Sulawesi Tengah (Sulteng), Pimpinan Redaksi Radar Sulawesi Tengah, Murtalib, pasca terkena tsunami, Harian Radar Sulawesi Tengah mengalami kelumpuhan dan tidak dapat beroperasional. Hingga kini, kantor masih mengalami kerusakan dan belum dilakukan perbaikan. “Alhamdulilah semua karyawan selamat namun belum dapat beroperasi,” ujar Murtalib.

Dia bersyukur, gedung Graha Pena Sulawesi Tengah tidak hancur porak poranda. Padahal, gedung tersebut berjarak 100 meter dari bibir pantai. Hal itu dikarenakan, gedung Radar Sulawesi Tengah memiliki ketinggian empat hingga lima meter.(dic)