PODSI KOTA DEPOK FOR RADAR DEPOK BUKTIKAN KUALITAS: Asep Mukti (tengah) bersama pelatihnya, Shandy Nuryadi usai pengalungan medali di venue Slalom, Jeram Columbus, Rancabungur, Selasa (10/10).
BUKTIKAN KUALITAS: Asep Mukti (tengah) bersama pelatihnya, Shandy Nuryadi usai pengalungan medali di venue Slalom, Jeram Columbus, Rancabungur, Selasa (10/10). Foto: PODSI KOTA DEPOK FOR RADAR DEPOK

RADAR DEPOK – Atlet Slalom Kota Depok, Asep Mukti berhasil membuktikan kualitasnya dengan mempersembahkan satu medali perunggu dalam perhelatan Porda Jawa Barat XIII.

Perunggu tersebut diraih Asep setelah menjalani partai final untuk nomor canoe perorangan putra pada Selasa (10/10) di Jeram Columbus, Rancabungur.

Meski belum mampu mengungguli kecepatan pedayung Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung, Asep tetap bersyukur atas medali yang diraihnya.

“Semoga ini merupakan hasil terbaik,” ujar Asep kepada Radar Depok, kemarin.

Pedayung kelahiran 15 April 25 tahun lalu ini menilai,  faktor utama yang menghalanginya dari prestasi puncak adalah peralatan dan penguasaan lintasan.

“Tuan rumah berhasil menang karena perahunya lebih baik. Ditambah, mereka memiliki waktuyang cukup untuk mempelajari lintasan untuk Porda ini,” imbuhnya.

Menurut Asep, prestasi yang diraihnya ini tak lepas dari dukungan dari rekan, pengurus dan keluarganya. Karena itu, dia mempersembahkan medali yang diraihnya untuk orang-orang terkasihnya tersebut.

“Terutama, saya mempersembahkan medali ini untuk pelatih Shandy Nuryadi dan Manajer tim Slalom Kota Depok, Fajar,” seru Asep yang merupakan warga Rawageni, Kecamatan Cipayung.

Sebagai perebut medali pertama di tim Slalom Kota Depok, Asep berpesan kepada rekan setimnya untuk selalu mengerahkan seluruh kemampuan dalam setiap pertandingan.

“Karena kesempatan dalam tiap pertandingan tidak akan terulang. Jadi harus mengeluarkan kemampuan maksimal agar tidak ada penyesalan,” imbuhnya.

Pelatih tim Slalom Kota Depok, Shandy Nuryadi mengacungkan jempol kepada Asep atas prestasi yang ditorehkannya ini. Sebab, Asep mampu memberikan hasil maksimal dengan kondisi serba terbatas yang dialaminya.

“Asep berhasil merebut medali meskipun menggunakan perahu yang kondisinya kurang prima. Malah, perahunya baru selesai diperbaiki beberapa saat sebelum bertanding,” kata Shandy.

Sebagai pelatih, Sandy mengaku khawatir prestasi atletnya tidak maksimal akibat faktor peralatan ini.

“Bagaimana tidak, setiap atlet harus sibuk bertukar dan saling pinjam alat setiap sebelum bertanding. Padahal, harusnya mereka bisa fokus kepertandingan,” seru Shandy.

Meski begitu, Shandy berharap dua timnya yang berlum bertanding, yakni tim  dapat mencatatkan prestasi sebaik Asep.

“Semoga pengalaman menjajal lintasan dan prestasi Asep ini dapat mengangkat mental rekan setimnya yang lain,” pungkas Shandy. (mg2)