REGI/RADAR DEPOK RUSAK: Kondisi Situ Cilodong pasca-diubek puluhan warga, Minggu (14/10).
REGI/RADAR DEPOK
TIDAK BERIZIN: Kondisi Situ Cilodong usai diubek puluhan warga, Minggu (14/10) lalu.

DEPOK – Ngubek Situ Cilodong yang berlangsung pada Minggu (14/10) lalu, rupanya belum menempuh perizinan dari instansi terkait. Bahkan, Camat Cilodong, Mulyadi mengecam kegiatan tersebut.

“Tidak ada izinnya. Saat itu sudah diberikan peringatan untuk warga yang turun. Namun, warga tetap saja terus melakukan aksi tersebut. Tapi memang ngubek situ menjadi tradisi,” kata Mulyadi kepada Radar Depok, Rabu (17/8).

Puluhan warga, menurutnya, tetap melakukan aksi tersebut walau sudah diberikan peringatan untuk naik dan tidak meneruskan aksi ngubek situ. Saat ditanya siapa yang memulai aksi yang merusak ekosistem Situ Cilodong, Mulyadi mengaku tidak mengetahui.

“Waktu ke lokasi ternyata sudah banyak puluhan warga yang sednang menangkap ikan,” kata Mulyadi.

Menanggapi pernyataan Camat Cilodong tersebut, Ketua LPM Kelurahan Kalibaru, Burhanudin Abuy menyatakan tidak ada tradisi untuk melakukan perngurasan Situ Cilodong. Sebab, katanya, kegiatan tersebut mengakkibatkan kerusakan pada ekosistem Situ Cilodong. “Tidak ada izin, tidak ada juga tradisi yang tidak baik,” tegas Abuy.

“Kita coba melestarikan alam dengan menjaga dan merawat habitat alam situ. Tapi kalau dengan diubek malah merusak,” ujar Abuy.

Dia juga menyayangkan pihak Dinas PUPR Kota Depok dalam hal ini bidang Sumber Daya Air (SDA) dinilai kurang tanggap dengan adanya perusakan ini.

Sejak awal, kata Abuy, pihaknya sudah meminta untuk diadakan relokasi berupa pengerukan. Agar sampah yang ada di situ bisa terkondisikan.

“Juga mata airnya tidak tertutup dengan sampah. Jadi nggak kering situnya. Kan sampai sekarang belum ada pengerukan. Jadi, pada saat mulai surut warga punya inisiatif sebetulnya. Ditambah, dengan adanya pihak yang menjadi provokator untuk turun ke dalam Situ. Ya makin jadi,” beber Abuy.

Abuy menegaskan, sumber ngubek situ bermula dari akun media sosial Facebook dengan nama pemilik akun berinisial TSP. Akun tersebut menyebarkan info seperti undangan untuk bersama-sama melakukan aksi ngubek Situ Cilodong.

“Seharusnya ditanya dulu. Betul atau tidak dan dari siapa orang yang terkait untuk mengadakan aksi merusak itu. Baiknya diberikan efek jera oleh pihak yang berwenang. Jika perlu ditempuh melalui jalur hukum,” pungkas Abuy.

Pantauan Radar Depok di pinggir Situ Cilodong, terdapat papan pemberitahuan tentang pasal dan peraturan resmi dibuat oleh Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam.

Tertulis di papan tersebut UU No. 7 Tahun 2004. Ada beberapa pasal tertulis di papan tersebut. Salah satunya berbunyi, setiap orang/badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, menggangu upaya pengawetan air dan mengakibatkan pencemaran air. (cr1)