Catatan Kecil dari Palu dan Sigi (3) Rumah pun Pindah RT

In Utama

Oleh Hazairin Sitepu

Amukan lumpur juga terjadi di Balaroa. Komplek perumahan besar di Kota Palu.  Ratusan rumah yang dibangun  Perum Perumnas itu luluh lantak. Ribuan orang menemui ajalnya di sini. Sebagian ditemukan, sebagian lainnya terkubur bersama harta-bendanya. Ditelan lumpur.

Balaroa, Perumnas pertama di Palu. Rumah-rumah di sini, pada umumnya dihuni pegawai menengah ke bawah, guru, dan pensiunan.  Sebelum ada Perumnas, Balaroa adalah tempat yang sejuk, hijau. Banyak pohon sagu tumbuh di sini. Ada mata air yang jernih. Saat ini Balaroa seperti ditelan bumi.

Jumat sore pekan lalu saya hanya bisa berdiri di ujung tebing, batas antara patahan yang anjlok  dan yang masih setengah utuh. Posisi Balaroa sudah jauh di bawah posisi jalan yang patah.  Kira-kira empat meter. Keadaan Balaroa tampak mirip sebuah lapangan besar yang berantakan.

Sama seperti di Jono Oge, begitu gempa mengguncang, rumah-rumah dan bangunan lainnya di Balaroa  roboh. Lalu datang lumpur dari dalam tanah. Mengeluarkan suara bising.  Mengaduk-aduk. Membolak-balik. Bahkan ada yang menyaksikan seperti memblender wilayah itu.

Gelombang lumpur kemudian menggulung apa saja di permukaan tanah. Rumah yang hancur akibat guncangan gempa makin hancur. Yang masih utuh hanyut mengikuti arah dorong gelombang lumpur. Ada rumah  yang bahkan hanyut setengah lingkaran dalam momplek seluas 80 ha itu. Bergeser lebih 200 meter dari tempatnya semula. Permukaan tanah di komplek itu memang amblas cukup dalam.

Keluarahan Balaroa memiliki 1.071 rumah penduduk. Jika satu rumah, saat itu, berisi empat orang saja, maka ada kurang-lebih 4284 jiwa berada di situ. Ada yang menyebut lebih dari 3000 orang tewas di Balaroa. Sebagian ditemukan, sebagian lagi terkubur bersama harta-bendanya.

Tetapi ada satu rumah,  bertingkat dua. Ada garasi, yang waktu terjadi bencana sedang ada dua mobil di dalamnya. Ada taman. Ada pohon yang tingginya melebihi tinggi rumah. Posisi rumah itu saat ini bergeser kira-kira lebih dari 100 meter. Hanyut  dibawa lumpur.

Rumah milik Alhizam itu hanyut bersama garasi dan tamannya.  Masih utuh di tempat barunya. Dua mobil dalam garasi juga utuh. Tetap dalam posisinya. Pohon yang tinggi itu juga tampak seperti tidak terjadi apa-apa. Berdiri tegak, hijau dan rimbun.

Yang berbeda hanya tempat. Entah sebelumnya di RT berapa, dan sekarang rumah itu berada di RT berapa. Tidak hanya penduduk, rumah juga ternyata bisa pindah RT.  Ini terjadi pada saat bencana gempabumi besar di Palu dan Sigi 28 September petang. Hanya dalam hitungan detik.(*)

You may also read!

kantor kelurahan duren seribu tutup

Kini Kantor Kelurahan Duren Seribu yang Ditutup Sementara

Kantor Kelurahan Duren Seribu.   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Tampaknya sejumlah kantor Kelurahan di Kota Depok mulai melakukan

Read More...
sukatani bebas korona

Bersyukur , 24 Staf Sukatani Bebas Covid-19

SEHAT : Saat pemeriksaan swab untuk staff Kelurahan Sukatani, di Kantor Kelurahan setempat. FOTO :

Read More...
ilustrasi harga vaksin korona

Terjawab! Harga Vaksin Merah Putih Rp 75.000 Perdosis

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Diprediksi vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan Indonesia rencananya akan diproduksi pada

Read More...

Mobile Sliding Menu