DICKY/RADARDEPOK
SEPIPEMBELI : Salah seorang pedagang tengah melayani pembeli ditengah minimnya pembeli di Pasar Masumba, Kecamatan Palu Utara, kemarin.

PALUUTARA – Usai di guncang gempa 7,4 magnitudo dan tsunami, Pasar Masumba, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) lumpuh. Hanya ada beberapa toko dan pedagang menjajakan dagangannya, kemarin siang. Tak banyak, pedagang di Pasar Masumba melakukan transaksi jual beli seperti layaknya pasar tradisional lainnya.

Ditengah teriknya matahari, salah seorang pedagang Tomat dengan sebatang rokok ditangan, Abdul Majid (37) tengah menunggu pembeli. Pria yang kerap disapa Majid mengatakan, pasca Pasar Masumba terguncang gempa, pasar mengalami kelumpuhan di bidang ekonomi.

“Masih sedikit warga yang datang untuk membeli kebutuhan pokok di pasar Masumba,” ujar pria asal bugis tersebut kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Sambil menata tomat, Majid mengungkapkan, mimimnya pembeli membuat dirinya mengalami kerugian. Tomat yang dia jual tidak dapat bertahan lama, sehingga menyebabkan kebusukan. Dia mengaku, sejak gempa, sudah banyak tomat yang dia jual terpaksa dibuang, dikarenakan sudah mengalami kebusukan. Akibatnya, kerugian telah membayangi dia dalam berjualan tomat.

Untuk menghindari kerugian, lanjut Majid satu kantong plastik dia jual seharga Rp5 ribu. Satu kantong plastik tersebut berisikan 1,2 kilogram tomat. Apabila dijual dengan harga normal seharga Rp8 ribu, dia sudah mengalami kerugian mencapai Rp3 ribu perkilogram. “Mau bagaimana lagi lebih baik untung sedikit dari pada merugi,” terang Majid.

Kenaikan harga kebutuhan pokok juga dirasakan pedagang warung nasi di Pasar Masumba milik Dewi (52). Dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, terpaksa dia menaikan harga dagangannya untuk menghindari kerugian. Perempuan asal Banyuwangi tersebut menuturkan, kenaikan harga kebutuhan pokok sudah terjadi sejak dua hari pasca gempa. “Awalnya saya tidak ingin membuka, namun karena kebutuhan hidup terpaksa saya membuka warung,” ucap Dewi.

Dewi mengutarakan, akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dia terpaksa menaikan harga dagangannya untuk menghindari kerugian. Satu porsi makanan yang sebelumnya dia jual sebesar Rp15 ribu, kini dijual menjadi Rp25 ribu.

Uniknya, akibat gempa menjadi keberkahan tersendiri buat dia. Pasalnya, walaupun harga makanan dia naikkan, namun tetap tidak mengalami penurunan. Bahkan, setiap harinya dia menglami kebanjiran pesanan dari sejumlah relawan maupun posko pengungsian. “Disini makanan masih susah jadi banyak warga maupun relawan yang mencari makan,” tutup Dewi. (dic)