SANI/RADAR DEPOK SOSIALISASI : Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) memberikan sosialisasi kepada Kader-kader di Kelurahan Limo tentang 'Bantuan Hidup Dasar' kegawatdaruratan secara mandiri.
SANI/RADAR DEPOK
SOSIALISASI : Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) memberikan sosialisasi kepada Kader-kader di Kelurahan Limo tentang ‘Bantuan Hidup Dasar’ kegawatdaruratan secara mandiri.

DEPOK – Para Dosen Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) bekerjasama dengan Kelurahan/Kecamatan Limo mengadakan pelatihan ‘Bantuan Hidup Dasar’ kegawatdaruratan secara mandiri.

Kegiatan ini diikuti oleh 17 kader peserta perwakilan dari dua RW di Puri Kerta Bumi, Kelurahan Limo, yakni RW 03 dan 04. Kegiatan pelatihan ini akan berjalan selama empat kali dalam sebulan, di mulai pada 29 September 2018.

“Pelatihan kegawatdaruratan ini harap diikuti secara baik. Karena hal ini merupakan ilmu yang belum pernah didapat dan sangat penting dalam menolong warga disaat kondisi yang tidak sadarkan diri,” kata Ketua Kader.

Ketua tim pelaksana, Santi Herlina mengungkapkan, gambaran penyakit tidak menular di Kota Depok yang beresiko mengalami kegawatdaruratan diantaranya adalah hipertensi primer 53,9 persen, Diabetes Melitus 11,6 persen, Gagal Jantung 1,17 persen .

“Pada wilayah Kota Depok di Kecamatan Limo angka kematian pada tahun 2010 untuk Bumil sebanyak 1769, Bayi 39.604, Bayi 18.869, Balita 146.201, Usia Lanjut 114.060 melihat Profil Kesehatan Kota Depok Tahun 2010,” ungkapnya.

Menurutnya, masalah kegawatan harus perlu diketahui oleh seluruh masyarakat, dengan diperantarai para kader kelurahan limo. Masalah kegawatan adalah masalah yang vital yang dapat menyebabkan kematian maka dari itu perlu adanya sosialisasi terkait Basic Life Support (BLS) atau bantuan hidup dasar (BHD) kepada para kader untuk terampil dalam menolong warga yang mengalami henti nafas dan henti jantung.

Sedangkan BHD sendiri adalah serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti nafas dan atau henti jantung. BHD sangat di butuhkan dalam keadaan kegawatdaruratan di sekitar masyarakat.

“Banyak kasus henti jantung yang harusnya bisa di tolong namun akhirnya tidak tertolong karena minimnya pengetahuan mengenai kegawatdaruratan. Kami tim Dosen Keperawatan khususnya Medikal Bedah mengajak para kader dengan harapan pelatihan ini bermanfaat untuk masyarakat sekitar,” terangnya.(san)