REGI/RADAR DEPOK MEMBAHAYAKAN: Gapura di Jalan Kartini tidak ada pengerjaan alias mangkrak. Tak ayal, sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut bertanya-tanya, kemarin.
REGI/RADAR DEPOK
MEMBAHAYAKAN: Gapura di Jalan Kartini tidak ada pengerjaan alias mangkrak. Tak ayal, sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut bertanya-tanya, kemarin.

DEPOK – Kawasan Heritage di Jalan Pemuda, Kelurahan Depok, Pancoranmas memang mau dibangun. Tapi kemarin, gapura di Jalan Kartini tidak ada pengerjaan alias mangkrak. Tak ayal, sejumlah warga dan pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut bertanya-tanya.

Kepada Harian Radar Depok, Agus M mengaku, tidak mengetahui itu gapura apa yang akan dibangun. Ini dikarenakan bangunan tersebut tidak ada perkerja sama sekali. Sehingga sangat mengkhawatirkan bagi pengguna.

“Saya tidak tahu mau buat gapura apa. Yang jelas tidak adanya penrjaan dan banyaknya bambu serta terpal sangat membahayakan pengguna jalan,” terangnya siangkat warga Perumnas itu.

Masih di Jalan Kartini, driver becak, Warto mengatakan, sudah beberapa bulan ini tidak ada pembangunan lanjutan. Tidak diketahui alasannya apa. Yang pasti setelah sudah jadi setengah jalan seluruh pekerja tidak ada lagi.

“Sudah satu bulan lebih gapura dibiarkan sepeti itu. Saya kurang tahu alasannya,” tegasnya.

Sebelumnya,  Ketua LPM Kelurahan Depok, Adi Ghofur mengungkapkan, di kawasan Jalan Pemuda akan dibangun heritage. Dua gapura tersebut terletak di Jalan Kartini perempatan Jalan Pemuda, dan Jalan Siliwangi dekat Jembatan Panus.

“Sekarang ini proses pembangunan Gapura Heritage di Depok Lama dekat Puskesmas Pancoranmas. Pembangunan tersebut diprakarsai Disporyata Depok,” kata Adi Ghofur kepada Harian Radar Depok.

Dia mengatakan, dikawasan tersebut terdapat bangunan bersejarah. Diantaranya, Gedung Pertemuan Eben Haezer, Gedung SDN Pancoranmas 2 yang ada di Jalan Pemuda, Tugu Peringatan Cornelis Chastelein di Rumah Sakit Harapan Depok, Jembatan Panus di Jalan Siliwangi. Tidak hanya itu, juga terdapat Gereja GPIB Immanuel, Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), serta Rumah Tinggal Presiden Depok.

“Jadi masyarakat wajib mendukung upaya pelestarian cagar budaya itu. Kita perlu rawat bersama seluruh peninggalan sejarah yang ada di Kota Depok, agar keberadaannya tetap terjaga dan bangga terhadap peninggalan sejarah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, peninggalan sejarah yang ada di Kota Depok, nantinya dapat dimanfaatkan termasuk menjadi objek wisata. Sehingga pelestariannya dapat terus dilakukan dengan baik.

Terpisah, Anggota Komunitas Sejarah Depok (KSD), JJ Rizal mengungkapkan, berencana untuk membuat perayaan sejarah di Kota Depok. Hal tersebut tentu harus dimulai dari kesadaran dan kecintaan masyarakat serta pemerintah Kota Depok, untuk sama-sama merawat situs sejarah.

Dia mengatakan, KSD juga memiliki program merayakan sejarah selama tiga bulan sekali. “Kedepan kami ingin mengajak anggota KSD untuk jalan menyelusuri Situs sejarah yang ada, guna mengenalkan bangunan sejarah yang ada di Kota Depok,” tandas Rizal.(cr1/rub)