RICKY/RADAR DEPOK PRAKTEK : Mahasiswa STKQ Al-Hikam berfoto usai menjalani praktek pentashihan Al Quran di Auditorium STKQ Al Hikam, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji.
RICKY/RADAR DEPOK
PRAKTEK : Mahasiswa STKQ Al-Hikam berfoto usai menjalani praktek pentashihan Al Quran di Auditorium STKQ Al Hikam, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji.

Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al Hikam bekerjasama dengan Lajnah  Pentashihan Mushaf Al Quran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI mengadakan Pembinaan Pentashihan Mushaf Al Quran bagi mahasiswa STKQ Al Hikam di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji.

Laporan : Ricky Juliansyah

Puluhan Mahasiswa Al Hikam menjalani praktek pentashihan Alquran. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir dari Pembinaan Pentashihan Mushaf Alquran.

Kepada Radar Depok, Kasi Pentashihan Al Qur’an Kemenag RI, Tuti Nurhayati mengatakan, setelah mendapatkan beragam materi, sebagai materi terakhir mereka praktek pentashihan Aquran secara langsung.

“Secara latarbelakangnya mereka ini adalah para santri Huffadz (penghafal Alquran 30 juz-red), jadi sudah tidak asing dengan bacaan yang tidak sama dan bisa langsung menemukan kesalahannya. Dengan hafalan juga menjadi bekal pentashihan,” kata Tuti di Auditorium STKQ Al Hikam, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji.

Tuti menuturkan, dalam prakteknya para peserta diberi naskah berbeda,  yaitu yang asli sedang di tashih dan naskah yang sengaja dibuat kesalahan. Dalam praktek tersebut, lanjutnya, adalah mengajarkan bagaimana melatih, mengoreksi dan cara pembetulannya.

“Dalam praktek itu juga para peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pentashihannya,”terangnya.

Pihaknya juga membutuhkan pengkaderan tenaga baru yang bisa disiapkan sebagai tenaga yang membantu pentashihan Alquran. Selain itu, Pihaknya juga memberikan kesempatan untuk magang dalam pentashihan Alquran.

“Kegiatan ini juga bagian dari Sosialisasi kepada masyarakat terkait pentashihan mushaf Alquran. Apalagi, sempat ramai di medsos bagaimana ditemukan Alquran palsu. Diharapkan, generasi saat ini tahu bagaimana proses pentashihan atau sebelum penerbitan dilakukan pentashihan dulu. Setelah lulus tashih, baru mushaf Alquran diterbitkan,” paparnya.

Pengasuh Pesantren Al-Hikam KH. Yusron Ash-Shidqi mengapresiasi kegaiatan tersebut. Terlebih lagi, para mahasiswa yang juga santri ini setiap hari bersentuhan dengan hafalan dan teks Alquran.

“Kita berharap kerjasama dan kegiatan ini terus dilanjutkan. Para santri ini mendapatkan manfaat dari kegiatan ini,” harap Yusron. (*)