IRWAN/RADAR DEPOK : Kapolresta Depok (depan, kanan) menunjukan barang bukti handphone milik korban pembunuhan.
Kapolresta Depok (depan, kanan) menunjukan barang bukti handphone milik korban pembunuhan. Foto:Irwan/Radar Depok

RADAR DEPOK – Motif A. Rifai alias Pay (19) membunuh AA (11) ternyata ingin menguasai handphone (Hp) korban. Pembunuhan ini pun sudah direncanakan pelaku Pay sebelum membawa korban AA ke sebuah empang yang tak jauh dari rumah korban.

Pay mengambil pisau dari rumahnya sebelum sampai ke lokasi kejadian.

“Setelah melakukan pemeriksaan, kami mendapatkan informasi bahwa latar belakang pelaku adalah ingin menguasai handphone korban yang saat itu dibawa,” kata Kapolresta Depok, Kombes Pol Didik Sugiarto di Mapolresta Depok, Selasa (9/10).

Didik mengatakan, pelaku Pay dan korban AA memang saling kenal. Keduanya pernah satu sekolah ketika di sekolah dasar (SD). Mereka adalah teman nongkrong dan tidak ada kecurigaan dari korban ketika pelaku mengajaknya ke empang.

“Saat korban sedang megang handphone, pelaku sudah mengamati. Pelaku berpura-pura minta diantar ke empang dan korban ikut saja,” katanya.

Ketika di perjalanan, keduanya melewati rumah pelaku Pay. Saat itu pelaku masuk ke dalam rumah dan mengambil pisau. Ketika sampai di TKP, pelaku langsung menganiaya korban sampai tewas.

“Keduanya jalan bersama ke empang. Di sana pelaku menganiaya korban dan merampas handphonenya,” kata Didik.

Setelah korban tewas, pelaku Pay langsung pergi begitu saja. Handphone korban pun dibawa. Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 351 (3) subsider pasal 338 dan 340 Jo Pasal 80 (2) UU No 35 tahun 2014 tentang pembunuhan berencana dan pembunuhan terhadap anak. “Ancaman di atas 10 tahun,” kata Didik.

Orang tua AA awal mengetahui anaknya menjadi korban ketika ada kabar ada bocah dibunuh di dekat empang.

“Ibunya baru dapat informasi ada anak dibunuh dan melihat anaknya jadi korban pembunuhan. Kaget dan tidak menyangka,” katanya.

Peristiwa pembunuhan ini membuat Didik terenyuh, karena korban adalah anak satu-satunya dan keluarga sangat menyayangi.

“Saya lebih prihatin lagi, bahwa anak satu-satunya dari keluarga korban,” kata Didik.

Pelaku Pay hanya menunduk malu dan takut atas perbuatan yang sudah dilakukanya diproses secara hukum. Pay mengaku menghabisi korban dengan cara menusuk berkali-kali ke tubuh korban. Kemudian tubuh korban dihempaskan ke empang.

“Saya cuma pakai pisau saja, nggak pakai benda tumpul. Terakhir saya tusuk ke leher. Saya langsung tinggalin korban. Balik ke rumah ganti baju dan kabur ke Cipete, Jakarta Selatan,” kata dia. (irw)