AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK BELUM DITAHAN : Tersangka Harry Prihanto (baju batik) didampingi pengacaranya usai menjalani pemeriksaan mengenai kasus korupsi pelebaran Jalan Nangka di Satreskrim Polresta Depok, beberapa waktu lalu.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BELUM DITAHAN : Tersangka Harry Prihanto (baju batik) didampingi pengacaranya usai menjalani pemeriksaan mengenai kasus korupsi pelebaran Jalan Nangka di Satreskrim Polresta Depok, beberapa waktu lalu.

DEPOK – Setelah Polresta Depok melimpahkan berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Depok, Jumat (21/9) lalu. Hingga kemarin, Kejari Depok belum menentukan status tersangka Korupsi Jalan Nangka, Nur Mahmudi Ismail (NMI), dan Harry Prihanto (HP). Padahal, sudah memakan waktu 12 hari.

Kepala Kejari, Depok, Sufari mengatakan, hingga kemarin masih meneliti berkas yang yang telah dilimpahkan Polresta Depok. Pria berkumis ini mengaku, belum bisa menentukan apakah berkas sudah P21 (lengkap), atau malah P19 (belum lengkap). “Kami masih teliti,” singkat Sufari kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Padahal sebelumnya, Sufari mengatakan akan menyelesaikan berkas sebelum batas akhir 14 hari dari masa pelimpahan.

Sementara, Kepala Kantor Imigrasi II Depok, Dadan Gunawan mengatakan, masa pencegahan mantan Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail dan mantan Sekertaris Daerah (Sekda Depok), Harry prianto sudah habis.

“Saya tadi cek di sistem nama NMI dan HP sudah tidak ada lagi nama mereka. Kan memang sudah habis masa pencegahannya dari tanggal 22 September. Jadi ya otomatis sudah tidak ada lagi di sistem,” ucap Dadan.

Imigrasi mencegah Nur Mahmudi dan Harry, berdasarkan permintaan pihak kepolisian. Polisi meminta keduanya dicegah hingga 22 September.(rub)