IST FOR RADARDEPOK ANTUSIAS: Tim Pengmas Program Pendidikan Vokasi UI sedang menyampaikan materi pelatihan kepada Relawan KASEP di Kawasan Kilometer nol Sungai Citarum, Kabupaten Bandung.
IST FOR RADARDEPOK
ANTUSIAS: Tim Pengmas Program Pendidikan Vokasi UI sedang menyampaikan materi pelatihan kepada Relawan KASEP di Kawasan Kilometer nol Sungai Citarum, Kabupaten Bandung.

DEPOK – Tim Pengabdian Masyarakat (pengmas) Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) melakukan pelatihan pemanfaatan ganggang hijau air tawar di Kawasan Kilometer nol Sungai Citarum. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama vokasi UI dengan para relawan.

Kegiatan ini merupakan salah satu program pengabdian masyarakat UI yang dilakukan dalam rangka revitalisasi Daerah Aliran Sungai Citarum dengan pembentukan relawan atau kelompok anti sampah entaskan  polutan (KASEP).

Menurut Ketua Pengmas, Deni Danial Kesa mengatakan, keterkaitan sumber mata air kilometer nol dengan daerah Aliran Sungai Citarum sebagai instrumen penting dalam perkembangan budaya. Untuk itu masyarakat sekitar harus bisa menstimulisasi gerakan dalam ranah kampanye yang berkelanjutan (sustain).

“Disadari atau tidak masyarakat akan mengubah kebiasannya apabila ada perubahan mindset atau paradigma berpikir, termasuk dalam pengelolaan sampah,” kata Deni.

Deni mengungkapkan, kampanye mengelola sampah apabila tidak melibatkan masyarakat justru akan menjadi moral hazard bagi institusi pemerintah. Dengan menggunakan metode Intervensi Sosial relawan KASEP akan mensosialisasikan pola pilah sampah dan mendeteksi sumber polutan.

“Mereka akan sosialisasi bagaimana mengolah ganggang hijau di daerah sekitar Danau atau situ menjadi kompos, baik padat maupun cair,” ungkapnya.

Deni melanjutkan, intervensi sosial perlu dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan banyak pihak. Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan Lima Fase Perancangan.

“Pengajaran Model Spiral Pengembangan model dimulai dari fase definisi (yang merupakan titik awal kegiatan), menuju kearah fase desain, peragaan, pengembangan, dan penyajian yang dalam prosesnya berlangsung secara spiral dan melibatkan masyarakat sebagai relawan,” lanjutnya.

Ganggang Hijau banyak ditemui di sekitar Danau Cisanti, dan diangkat ke daratan untuk menjernihkan dan mengurangi pertumbuhaan. Ketika pembersihan dilakukan ganggang belum dimanfaatkan secara maksimal dan hanya di tumpuk dikhawatirkan menimbulkan bau maka timbul ide untuk memanfaatkan Ganggang hijau tersebut untuk Kompos padat maupun cair.

“Kagiatan ini diikuti oleh 70 orang peserta, terdiri dari masyarakat dan anggota Satgas Citarum harum dengan melakukan pelatihan  pembuatan kompos dan reportase berbasis website. Harapan dan antusiasme peserta terlihat ketika diskusi berjalan dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Taruma Jaya, Ayi menuturkan, banyak manfaat dari pelatihan ini diantaranya, memberikan pengetahuan tentang manfaat pilah untuk mengolah kembali sampah organik dan anorganik. “Kami akan terus berupaya selalu membersihkan sungai setiap harinya,” tutup Ayi. (san)