RATA DENGAN TANAH: Proses evakusi korban yang tertimbun reruntuhan di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Rabu (3/10). Guncangan gempa masih sering terjadi dan membuat proses evakuasi terhambat.SAIPUL ANWAR/KALTIM POST
RATA DENGAN TANAH: Proses evakusi korban yang tertimbun reruntuhan di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Rabu (3/10). Guncangan gempa masih sering terjadi dan membuat proses evakuasi terhambat.(SAIPUL ANWAR/KALTIM POST)

DEPOK – Gempa dan tsunami yang melanda Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, Palu meninggalkan luka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih menjadi pertanyaan besar apa penyebab terjadinya gempa dan tsunami tersebut.

Ahli Geologi Universitas Indonesia Reza Syahputra, Tsunami Palu dipicu oleh patahan akibat beradunya dua lempeng hingga lempeng yang satu terdorong ke atas atau ke bawah dibanding lempeng yang menabraknya di sepanjang permukaan horizontal dasar laut.

“Pergerakan patahan itu menyebabkan longsor di dasar laut teluk Palu-Koro. Tapi ini masih dalam proses penelitian lebih jauh lagi, diduga inilah faktor utama penyebabnya,” kata Reza kepada Radar Depok saat ditemui di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI Gedung A Lantai 2, Kota Depok, Kemarin (3/10).

Reza menyebutkan, ketika air mengalir ke arah sesar Palu-Koro yang sempit, dapat menyebabkan gelombang di sekitar teluk kian membesar.

Gempa Palu tersebut sebenarnya tidak berpusat di dasar laut, namun efek tsunami diakibatkan karena topografi dari teluk Palu yang menyebabkan gelombang super posisi.

“Energi gelombang air laut di Donggala hanya 1-3 meter, tapi di Palu mencapai 7 meter tsunaminya. Salah satu penyebab terjadinya tsunami adalah gempa berpusat di laut, tetapi Palu tidak. Seharusnya tsunami tidak cukup besar datangnya kalau dilihat kategori,” terangnya.

Diketahui, Kota Palu tercatat sebagai daerah rawan gempa karena memiliki aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia. Pertemuan lempeng-lempeng pun paling banyak terdapat di wilayah Timur Indonesia.

Sementara itu, Dosen Geologi Kebencanaan UI Muhammad Rizqy Septyandy menambahkan, ada tiga bencana yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya.

Pertama, gempa bumi yang merusak bangunan. Kedua, tsunami yang tidak diprediksi kedatangannya. Serta ketiga, adalah efek dari gempa itu sendiri yang bernama Likufaksi.

“Likuifaksi itu larutnya suatu benda padat ke cair. Jadi ibarat pasir belum kuat membentuk batuan, tapi sedikit saja digoyang gempa kestabilitasannya goyah dan runtuh ke bawah. Runtuhan itulah yang menyebabkan tsunami naik ke atas,” tambahnya.

Dari data terbaru per Rabu (3/10), Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bertambah menjadi 1.407 Orang. Selain itu, sebanyak 2.549 orang luka berat.
“Yang hilang ada 113 orang, dan yang tertimbun 152 orang. Adapun pengungsi jumlahnya lebih dari 73.000 orang. Rincian korban tewas, yakni 1.177 orang berada di Palu, 153 orang di Donggala, 12 orang di Parigi Moutong, dan 65 orang di Sigi,” papar Sutopo.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menemui para korban gempa dan tsunami begitu tiba di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (3/10). Ini merupakan kali kedua kunjungan Presiden Jokowi di Sulteng, setelah bencana yang terjadi pada 28 September lalu.

Jokowi mendarat di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu sekira pukul 10.15 WITA. Kedatangannya disambut oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Setelah turun pesawat, Jokowi langsung mengunjungi korban gempa dan tsunami yang mengungsi sekaligus dirawat di rumah sakit darurat yang berada di bandara tersebut. Ada sekitar 23 pasien yang ditemui dan disapa suami Iriana satu per satu. Mantan gubernur DKI Jakarta ini mendengarkan langsung keluhan-keluhan dari para pasien, sekaligus berupaya membesarkan hati mereka agar tetap sabar menghadapi cobaan ini.

Di mana sejumlah pasien berada di rumah sakit darurat Bandara Mutiara Sis Al-Jufri untuk diterbangkan ke Makassar dan Manado guna mendapat perawatan lebih intensif. Dari bandara, Jokowi melanjutkan aktivitasnya untuk melihat langsung penanganan yang dilakukan jajaran terkait bagi para korban dan kerusakan sarana umum di sejumlah lokasi. (san/gun/fat)