RICKY/RADAR DEPOK PEMBINAAN: Narasumber sedang mengisi materi dalam menggelar acara pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. Bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI di Kelurahan Kukusa, Kecamatan Beji.
RICKY/RADAR DEPOK
PEMBINAAN: Narasumber sedang mengisi materi dalam menggelar acara pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI di Kelurahan Kukusa, Kecamatan Beji.

Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an ((STKQ) Al-Hikam Depok menggelar acara pembinaan Pentashihan Mushaf Alquran. Bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI di Kelurahan Kukusan Beji.

Laporan : Ricky Juliansyah

Seluruh peserta yang mayoritas mahasiswa Al-Hikam serius mendengarkan apa yang sedang dibahas narasumber. Bagaimana tidak serius, acara tersebut merupakan acara pembinaan Pentashihan Mushaf Alquran.

Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok KH. Yusron Ash-Shidq menuturkan, pembinaan ini menghadirkan para mahasiswa Al-Hikam yang juga Huffadz (hafal Alquran 30 juz), yang juga sebagai bagian dari pengkaderan pentashihan mushaf Alquran.

‚ÄúSebab, untuk menjadi pentashih mushaf adalah orang yang dengan kriteria tertentu,” ujar Yusron.

Sebagaimana diketahui, tashih mushaf Alquran merupakan upaya mengkoreksi mushaf atau lembaran teks oleh tim ahli. Bila ditemukan kesalahan maka akan diperbaiki cetakan mushaf Alquran tersebut.

Yusron mengungkapkan dengan adanya pelatihan tersebut juga bukti bahwa Pemerintah fokus pada Alquran. Terlebih lagi, lanjutnya, mengingat banyaknya jumlah cetakan mushaf yang beredar di masyarakat dan perlunya pengkaderan pentashih.

“Kita menyambut baik kegiatan ini atau untuk mencetak kader pentashih mushaf Alquran. Harapannya seluruh masyarakat muslim Indonesia meningkatkan literasi dalam bidang Alquran. Dalam artian, menjadi awal literasi dalam arti lebih luas mampu memaksimalkan nilai-nilai dalam Alquran dalam jati diri sebagai seorang muslim,” paparnya.

Ia menambahkan, kegiatan yang berlangsung selama empat hari atau (1-4/10) diakhiri dengan praktik pentashihan di Bait Qur’an TMII. Menurutnya, para peserta mendapatkan beragam materi diantaranya: Sejarah mushaf di Indonesia, Rasm atau bentuk tulisan dan mushaf standar Indonesia (MSI), Pentashihan Alquran di dunia, sejarah penulisan dengan tulisan Braile.

“Setelah mendapatkan materi, di hari terakhir langsung praktek. Diharapkan, mereka menjadi pentashih Alquran di masa mendatang,” harap Yusron.

Sementara, Dr. Mukhlis Hanafi mengungkapkan saat ibu Penerbit di Indonesia mencetak 5 sampai 7,5 juta mushaf Alquran. Menurutnya, mushaf tersebut harus lolos uji keshahihan oleh lajnah pentashihan. Dirinya menghimbau, ketika ada kesalahan penulisan mushaf yang sudah lulus uji lajnah pentashih, tidak selalu disebabkan kesalahan pentashih. Namun, lanjutnya, bisa jadi faktor mesin atau program yang eror.

“Untuk itu, ketika masyarakat menemui kesalahan laporkan pada kami, bukan diviralkan, sehingga bisa selesaikan. Sebab, dengan memviralkan bukan menyelesaikan masalah,” ucap Mukhlis. (*)