IST WASPADA: Warga Kukusan sedang mempersiapkan bambu runcing untuk menghadang jika PN tetap akan melakukan eksekusi.
IST
WASPADA: Warga Kukusan sedang mempersiapkan bambu runcing untuk menghadang jika PN tetap akan melakukan eksekusi.

DEPOK – Tak ingin tanahnya digusur tanpa ada uang ganti rugi, untuk pembangunan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago). Kemarin, sejumlah pemilik lahan siap menghadang eksekutor dari Pengadilan Negeri (PN) Depok, dengan bambu runcing.

Salah satu pemilik lahan, Syamsudin mengaku, tidak rela jika dia harus angkat kaki dari rumah. Padahal, uang ganti rugi yang dijanjikan pun belum mereka terima. “Kami tidak rela jika kami harus angkat kaki dari rumah. Kami minta agar PN mau menunggu eksekusi sampai keputusan inkrah,” kata Syamsudin kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Menurut Syamsudin, 27 bidang tanah yang tergerus Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi II itu, akan dibongkar. Padahal ganti rugi belum dilakukan. Parahnya, saat ini masalah tersebut sedang dimeja hijaukan.

Syamsudin yang juga salah satu koordinator warga yang terkena Jalan Tol Cijago di Kukusan, sudah diminta untuk keluar rumah oleh Lurah Kukusan, Kecamatan Beji. Padahal, pihaknya sama sekali belum menerima uang ganti rugi. “Kami siap hadapi eksekutor, walaupun dengan berbagaicara meski dengan kekerasan,” kata Syamsudin kepada Harian Radar Depok.

Sementara, Ketua PN Kota Depok, Sobandi mengatakan terkait eksekusi pihaknya sudah ditetapkan, dan sesuai dengan prosedur. “Tapi dengan adanya masukan dari warga (demo) itu nanti kita akan pelajari lagi, apakah memang perlu ditunda atau bagaimana,” kata Sobandi.

Sedangkan, terkait pembayaran, sebenarnya uang ganti rugi sudah dititipkan di Pengadilan Negeri Kota Depok, melalui konsinyasi. “Tapi kan warga tidak mau, dan sedang mengajukan gugatan, meskipun ada beberapa orang yang sudah mengambil haknya,” papar Sobandi.

Terkait eksekusi, dia mengaku, sudah ada pelepasan hak antara pemengang hak melalui BPN. “Sudah ada pelepasan haknya yang kami terima dari BPN dan kami tinggal menjalankan itu,” terang Sobandi.

Masalah ganti rugi tidak ada hubungannya dengan tanah lagi, karena sudah ada surat pelepasan tanah dari BPN. “Masalah gugatan, bukan lagi masalah tanah, tapi warga meminta tambahan gantirugi, karena menurut mereka yang sudah diberikan tidak sesuai dengan harga tanah saat ini,” tutur Sobandi.

Kalau masalah gugatan menurutnya, ya bukan lagi masalah sengketa lahan. “Walaupun mereka nantinya menang dalam gugatan, kan yang dipermasalahkan bukan tanah lagi, tapi penambahan uang gantirugi,” pungkas Sobandi.

Diberitakan sebelumnya, di tengah-tengah tol di Kelurahan Kukusan, Beji masih ada beberapa rumah yang kokoh. Akibat sikap membangkakngnya itu, panitia pembebasan lahan malah berani melawan hukum. 27 bidang tanah yang tergerus Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi II itu, akan dibongkar padahal ganti rugi belum dilakukan. Parahnya, saat ini saat ini masalah tersebut sedang dimejahijaukan. (rub)