Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional
Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional

Oleh: Drs. Supartono, M.Pd*)

Pendidikan Suporter Sepakbola Indonesia, jangan hanya wacana! Pasalnya, bila menyoal suporter tidak ditangani dari akar, maka kejadian demi kejadian hanya akan berulang. Belum lagi persoalan suporter ditemukan formulasi bagaimana mengatasi dan menanganinya PSSI telah mencabut penghentian Liga 1 dan Komdis PSSI telah menetapkan hukuman yang menimbulkan polemik baru, khususnya bagi Persib Bandung.

Membuat Gubernur Jabar dan Menpora RI hingga berbicara keadilan dan jangan pilih kasih kepada PSSI. Inilah benang kusut persepakbolaan Indonesia, semua dapat merasa yang paling benar dan semua dapat merasa sebagai yang berkuasa. Padahal, akar persoalan yang sangat genting adalah bagaimana caranya membuat superter sepakbola Indonesia menjadi cerdas dan terdidik. Tengok kasus suporter yang meninggal, dan buat formulasi bagaimana membuat suporter sepakbola Indonesia terbangun dari tidur dan memiliki paradigma baru menjadi suporter yang cerdas, santun, dan berbudi pekerti luhur.

Berangkatlah semisal dari kasus Rangga. Rangga adalah suporter dari Persib Bandung yang tewas pada 2012 akibat dikeroyok oleh The Jakmania, sebutan suporter Persija Jakarta. Selepas itu, kejadian saling bunuh antar kedua kubu terus berlanjut, hingga pada Minggu, 23 September 2018, Haringga Sirila, yang berasal dari The Jakmania, tewas dikeroyok Bobotoh di Bandung. Dia jadi korban ketujuh buntut dari pertikaian Bobotoh dan The Jakmania selama ini.

Dalam acara Mata Najwa, Rabu (26/9/2018) malam WIB, Adik mendiang Rangga Cipta Nugraha, Cakra Wibawa, menilai perlu pendidikan untuk suporter. Cakra menegaskan perlu ada pendidik untuk suporter. Dia tak ingin ada orang tua yang menangis karena kejadian suporter tewas.

Jelas bahwa PSSI tidak dapat berjalan sendiri menangani suporter. Harus ada pihak dari pakar pendidikan dan sekaligus bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Analisis Tewasnya Suporter

Sesuai catatan Litbang Save Our Soccer (SOS), Haringga Sirla adalah suporter ke-76 yang tewas akibat sepak bola, terhitung sejak 1994. “Jumlah itu adalah data suporter yang meninggal pada hari kejadian atau sehari setelahnya, sejak tahun 1994. Jumlah itu didapat dari hasil riset ke suporter,” kata Koordinator SOS, Akmal Marhali, kepada media, Rabu (26/9/2018). “Namun, bisa jadi jumlah yang tewas lebih banyak karena tak termasuk, misal, kompetisi level bawah atau tak terdeteksi langsung seperti akibat anarkisme dan meninggal sekian hari kemudian,” tuturnya melanjutkan.

Lalu, apa penyebab para suporter meninggal? Dari data Save Our Soccer, ada sembilan penyebab suporter meninggal. Rinciannya: sebab pengeroyokan: 22, jatuh dari kendaraan: 17, tusukan benda tajam: 14, pukulan benda keras: 11, terinjak: 6, gas air mata: 2, jatuh dari tribune: 2, penembakan: 1,  petasan: 1.

Bila dianalisis, penyebab suporter meninggal ada dua. Pertama, akibat dari ulah sesama suporter adalah yang terbanyak, yaitu dari sebab pengeroyokan, tusukan benda tajam, dan pukulan benda keras. Jumlah totalnya, 64. Kedua, ulah suporter sendiri, sebanyak 12 korban, yaitu dari peristiwa terinjak, gas air mata, jatuh dari tribune, penembakan, dan petasan. Belum lagi dari suporter yang meninggal akibat jatuh dari kendaraan yang dinaiki saat berangkat atau pulang menuju stadion. Data ini belum termasuk yang terhimpun dalam catatan SOS.

Dari catatan tersebut, nampak jelas bahwa para suporter sepakbola kita, masih sangat lemah dalam mengendalikan diri serta bertindak jauh dari karakter manusia terdidik. Mengeroyok, menusuk, memukul, adalah budaya premanisme yang tidak didasari oleh akal budi dan tindakan tak beradab jauh dari rasa kemanusiaan. Saat para suporter belum cerdas karena memang mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan tentang bagaimana menjadi suporter yang benar, setali tiga uang, mereka juga tidak dapat memahami bagaimana cara menyelamatkan diri dan menyelamatkan orang lain di dalam stadion ketika terjadi kerusuahan.

Akibatnya, terjadilah antar suporter saling injak, terkena gas air mata dari pihak keamanan karena tidak dapat menjadi suporter yang tertib dan etis, bahkan hingga jatuh dari tribun karena tidak sadar akan bahaya bila duduk di pinggir tribune.

Hingga meningggalnya Haringga, sebagai korban suporter ke-76, tercatat ada 22 klub, Timnas, dan warga yang telah menjadi korban suporter. Persebaya menjadi klub dengan jumlah korban terbanyak, yaitu 17. Disusul oleh Arema 9 sama dengan Persija Jakarta 9, PSIS 5, Persib 5, Timnas 4, Persita 4, PSMS 3, PSIM 3, Sriwijaya FC 2, Persis 2, Pelita Jaya 1, PSPS 1, Persik 1,  PSM 1, Persitara 1, Semen Padang 1, Persiba Bantul 1, Persipura 1, PSCS 1, PPSM 1, Persela 1, PSS 1, dan Warga 1.

Akankah PSSI dan Pemerintah Indonesia membiarkan kondisi suporter sepakbola nasional akan terus tidak terdidik? Selama inipun PSSI bahkan tidak pernah terlihat menjalin kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyoal pendidikan pelatih yang notebenenya juga sebagai guru bagi para pesakbola usia dini dan muda hingga usia senior. Lalu menyoal kurikulum pembinaan dan pelatihan, karena yang didik dan di latih, subjeknya sama, yaitu anak-anak usia sekolah.

Sementara untuk Kemenpora, alih-alih mendukung, malah senantiasa terkesan mercoki PSSI. Bukan turut andil dalam hal pendidikan, pembinaan, pelatihan, namun Kemenpora justru turut menjadi penyelenggara kegiatan sepakbola hingga tingkat nasional dan membuat rancu pola pembinaan sepakbola nasional, karena turut serta memutar turnamen dan kompetisi dengan objek pemain anak-anak usia sekolah yang juga juga menjadi siswa sekolah-sekolah sepakbola/Akademi Sepakbola.

Kini, setelah kejadian Haringga, Menpora angkat bicara, Gubernur angkat bicara, semua netizen Indonesia berkicau. Lalu Kemenpora menunggu langkah PSSI, namun menghentikan Liga 1 secara sepihak, meski pada akhirnya PSSI juga menghentikan Liga 1 sendiri, karena memang hal itu adalah hak dan tanggungjawab PSSI sebagai satu-satunya organisasi resmi sepakbola di Indonesia yang di akui FIFA, bukan Kemenpora.

Contoh PPKGBK

Saat dunia kini memasuki Revolusi Industri 4.0, hadirnya media sosial (medsos) yang seharusnya menjadikan sektor komunikasi menjadi lebih berdaya guna, justru sebaliknya sering menghadirkan bencana. Pasalnya, medsos kini dapat dijangkau siapa saja. Pengguna medsospun tidak perlu memiliki Surat Izin Menggunakan Medsos (SIMM) seperti layaknya pengguna kendaraan bermotor atau seperti pelamar kerja yang wajib memiliki Ijazah sekolah/kuliah formal sebagai syarat kecakapannya.

Tak terkecuali, sewajibnya PSSI pun tidak membiarkan suporter sepak bola nasional mengalir berjalan sendiri tanpa ada didikan. Pemikiran saya, andai setiap suporter memiliki Surat Izin Suporter (SIS), pun tak menggaransi para suporter akan berbudi pekerti luhur.

Para murid dan mahasiswa baik yang masih mengejar ijazah sekolah formal maupun yang telah mengantongi ijazah tak menjamin mereka akan berperilaku berbudi pekerti luhur. Masih ada tawuran yang mengerikan. Mahasiswa juga masih suka bikin keributan. Lalu, di kantor dan instansi banyak karyawan dan pejabat yang bikin onar hingga menjadi koruptor. Sementara para pengendara kendaraan bermotor, meski telah memiliki SIM, juga tetap banyak yang melakukan pelanggaran.

Untuk urusan suporter sepak bola Indonesia, perilaku mereka kini terjun bebas seperti pengguna medsos. Tak ada aturan dan semau sendiri. Saat peristiwa suporter sepakbola nasional bersikap tidak etis memerlakukan tempat duduk penonton Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan Jakarta tatkala menyaksikan pertandingan tim nasional Indonesia menghadapi Islandia, lalu peristiwa yang sama diulang kembali ketika juara Liga 1 Indonesia, Bhayangkara FC melakukan pertandingan persahabatan melawan FC Tokyo, Jepang, menjadikan perbincangan publik pecinta sepakbola nasional viral di media sosial.

Agar peristiwa tidak terjadi terulang, maka sebelum perhelatan Final Piala Presiden yang mempertemukan Persija Jakarta versus Bali United pada 17 Februari 2018, Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) bertindak cepat dan cerdas.

PPKGBK langsung mengundang nara sumber di bidang pendidikan dan sepakbola dalam beberapa sesi pertemuan demi membincang langkah eduktif bagi suporter sepakbola nasional yang akan hadir di GBK, agar menjadi suporter yang berbudi pekerti luhur, memahami etika dan sopan santun dengan menjadi suporter sepakbola yang benar dengan membuat program edukasi suporter sepakbola Indonesia dengan nama Pendidikan Edukasi Suporter Sepakbola Indonesia (PESSI).

Maksudnya adalah agar terbangun pola pemikiran yang mengintegrasikan kecerdasan akademik dengan kecerdasan emosi dan etika suporter Indonesia serta memberikan ilmu, wawasan, dan pemikiran tentang bagaimana menjadi suporter yang benar dan baik. Tujuannya adalah membentuk suporter teladan (Qualified Supporter), membatu suporter lebih mengenali kekuatan dan kelemahan diri, membantu suporter untuk menemukan dan merawat motivasinya sehingga senantiasa memperoleh kekuatan untuk menjadi suporter yang benar dan baik serta membantu suporter menjadi inspirator bagi dirinya dan suporter lain.

Menunggu Gerakan PSSI dan Pemerintah

Sikap cerdas dan langkah cepat PPKGBK dalam mengantisipasi tindakan anarkis suporter dengan menghadirkan nara sumber pendidikan dan sepakbola nasional seharusnya menjadi contoh bagi PSSI dan Pemerintah dalam hal ini Kemenpora. Kemenpora jangan hanya menunggu dan suka mengultimatum PSSI. PSSI pun segera bertindak untuk segera menyelenggarakan pendidikan yang mengedukasi suporter secara terstruktur dan masif.

Bila Pemerintah melalui Kemendekbud menyelenggarkan pendidikan nasional formal di semua jenjang demi tujuan melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, berbudi pekerti luhur, di dikehidupan nyata, faktanya masih terjadi tawuran pelajar yang memakan korban dan mengerikan. Bagaimana dengan suporter sepak bola Indonesia yang di dalam maupun di luar stadion tidak lagi ada perbedaan sosial dan pendidikan. Di dalam stadionpun hanya dibatasi oleh tribun berbeda harga tiket, namun secara manusia, saat bertugas menjadi suporter stratanya sama.

Dari yang belum mengenyam pendidikan hingga yang telah berpendidikan formal, sama saja tempatnya karena seragam oleh harga tiket. Nah, semakin miris, ketika suporter yang berbeda latar pendidikan pun harus berada di tempat yang kurang mendidik karena tribun penonton masih banyak stadion di Indonesia tanpa bangku penonton (singel seat). Ada bangku penontonpun, malah jadi tempat injakan kaki. Apa bedanya kini pertandingan sepak bola di stadion-stadion Indonesia dengan media sosial.

Tidak ada beda. Semua sama-sama mudah diakses oleh siapa saja. Dari anak kecil hingga dewasa, dari yang belum memahami menjadi suporter sepakbola yang berbudi pekerti luhur hingga suporter yang sudah cerdas. Stop suporter yang belum teredukasi berangkat menuju stadion, masuk lingkungan stadion, dan berada di dalam tribune penonton. Bila perlu hanya suporter yang telah memiliki ijazah suporter saja yang dapat masuk ke stadion. Ayo, tangani suporter sepakbola Indonesia seperti mendidik mereka di bangku sekolah dan kuliah. Jangan hanya wacana! (*)

*)Penulis adalah Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional