DICKY/RADARDEPOK MASIH TERBATAS: Pengungsi Petobo saat mengisi air bersih di pos pengungsian Jalan Ngatabaru Desa Ngatabaru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, kemarin (8/10).
DICKY/RADARDEPOK
MASIH TERBATAS: Pengungsi Petobo saat mengisi air bersih di pos pengungsian Jalan Ngatabaru Desa Ngatabaru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, kemarin (8/10).

PETOBO – Truk berkelir kuning bertuliskan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang membawa air bersih saat melintas di Jalan Ngatabaru Desa Ngatabaru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, di cegat pengungsi dari Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, yang membutuhkan air bersih.

Salah satu koordinator Pengungsi Kelurahan Petobo, Haris (51) menyebutkan, sudah sepuluh hari mengungsi di tanah lapang Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Di pengungsian tersebut, salah satu kebutuhan yang diperlukan pengungsi adalah salah satu air bersih untuk kebutuhan masyarakat Petobo.

“Sengaja kami cegat itu mobil berisikan air karena kami membutuhkan air bersih,” ujar Haris kepada Radar Depok, kemarin (8/10).

Haris menjelaskan, keberadaan air bersih sangat dibutuhkan untuk keperluan pengungsi, seperti memasak, minum, hingga keperluan mandi dan mencuci pakaian pengungsi. Namun, semenjak masyarakat Petobo menungsi, pihaknya hanya satu kali menerima air bersih pada Sabtu (6/10), sehingga dia terpaksa menghentikan truk air bersih yang sedang melintas.

Haris mengungkapkan, ditempat pengungsian yang didirikan bersama, terdapat 500 jiwa yang mengungsi ditempat ketinggian wilayah Kabupaten Sigi. Hal itu dilakukan utuk menghindari gempa bumi dan ancaman tsunami yang melanda Palu.

Apalagi di tempat pengungsian tersebut tidak ada sumber air bersih karena untuk mendapatkan air bersih, pihaknya harus melakukan penggalian sekitar 60 hingga 70 meter untuk mendapatkan air tanah.

“Tempat pengungsian kami merupakan wilayah kering sehingga sulit mendapatkan air,” terang Haris.

Selain kebutuhan air bersih, di tempat pengungsian masyarakat Petobo belum memiliki tempat cuci kakus (MCK) yang memadai. Apabila pengungsi ingin membuang hajat, harus membawa air menuju perkebunan yang tidak terlihat untuk masyarakat.

Haris menyesalkan, kurangnya respon Pemkot Palu membuat dirinya merasa kecewa. Dia berharap pemerintah tanggap dan cepat turun membantu kebutuhan masyarakat pengungsi dan memberikan bantuan seperti air bersih, makanan, hingga bantuan toilet umum.

“Jangan kami yang datang kesana untuk meminta (kantor Pemkot) tapi Pemkot melihat warga pengungsi,” ucap Haris.

Sementara itu, salah seorang sopir pengangkut air, Asrul tidak dapat berbuat banyak lantaran kendaraannya dihentikan dan air bersih yang dibawa diminta untuk pengungsi. Dia hanya dapat pasrah memberikan sebagian air bersih tersebut, walaupun dari pemerintah harus menuju wilayah Kabupaten Sigi.

“Mau bagaimana lagi kami berikan saja dari pada kami tidak dapat melanjutkan pengiriman air,” pasrah Asrul.

Pria asal Makassar tersebut, semenjak terjadinya bencana gempa bumi, longsor, dan tsunami dia harus mengantarkan air kesejumlah titik pengungsian. Dalam sehari, dirinya harus mengantarkan air ke 37 titik pengungsian sejak pukul 08.00 hingga pukul 17.00. (dic)