DICKY/RADARDEPOK BERJUMPA: Halim (kiri) harus berjuang berjalan kaki sepanjang 27 Kilometer untuk bertemu anak dan cucu di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, kemarin (8/10).
DICKY/RADARDEPOK
BERJUMPA: Halim (kiri) harus berjuang berjalan kaki sepanjang 27 Kilometer untuk bertemu anak dan cucu di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, kemarin (8/10).

Peristiwa Gempa dan Tsunami yang melanda Kota Palu, Sulawesi Tengah, memiliki kisah mengharukan bagi Halim. Guna memastikan kondisi keluarga, anak dan cucu yang tinggal di Kota Palu, Halim harus berjalan kaki 27 Kilometer, dan melewati jalan terputus.

 Laporan : Dicky Agung Prihanto 

Siang itu, Halim tampak ceria. Ia kami temui di halaman rumah anaknya di Kampung Masumba, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu. Perjuangannya berjalan kaki dari Kabupaten Sigi menuju Kota Palu, terbayar lunas tat kala ia melihat anak dan cucunya selamat dari terjangan gempa dan tsunami.

Sambil menikmati segelas teh, Halim bercerita. Saat Jumat (28/9) Kota Palu dilanda gempa dan Tsunami, Halim merasa khawatir terhadap anaknya, yaitu Hartati yang tinggal di Kota Palu bersama suaminya Haidar dan dua orang cucunya. Apalagi, saat itu komunikasi putus sehingga dia tidak dapat menghubungi dan mendapatkan informasi kondisi terakhir keluarga anaknya di Kota Palu.

“Selain Palu di tempat kami di Kabupaten Sigi terjadi gempa bumi dan longsor,” ujar Pria bertubuh gempal tersebut.

Pria yang memiliki dua orang cucu yakni Safa Kamilah dan Asyifa mengungkapkan, terpaksa berencana pada Sabtu (29/9) untuk mencari anaknya yang berada di Kota Palu. Bermodalkan niat ingin ketemu anaknya, Halim mencoba berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, menuju Kota Palu.

Setelah berpamitan bersama istri Wasidah dan anak keduanya yakni Halmiyati, Halim berusaha berjalan kaki menuju Kota Palu yang berjarak 27 Kilometer, dikarenakan tidak ada kendaraan yang dapat melintas. Halim menambahkan, sepanjang perjalanannya, dia melihat banyak bangunan rumah milik warga yang rusak akibat gempa. Tidak hanya itu, masih banyak sejumlah warga yang menimbal akibat terkena longsor dan reruntuhan rumah yang belum dievakuasi.

“Kasihan melihat mereka yang tertimpa musibah hingga kehilangan tempat tinggal,” terang Halim.

Sambil sesekali berbicara kepada anaknya, Halim menuturkan, sepanjang perjalanannya dia harus menelusuri jalan beraspal namun kondisinya sudah tidak bagus untuk dilintasi kendaraan roda empat. Pasalnya, banyak jalan yang mengalami kerusakan dan tertimbun longsor dari pegunungan, sehingga memutuskan jalur transportasi.

Tidak sampai di situ, lanjut Halim sepanjang Jalan Palu-Kulawi banyak ditemui titik longsor yang membuat jalan tersebut berjarak setengah meter atau satu langkah kaki orang berjalan. Menurutnya, hal itu menjadi sebuah tantangan dirinya untuk menemui keluarga anaknya di Kota Palu. Dia memperkirakan sebanyak 30 titik jalan yang tertutup longsor. “Saya berjalan harus berhati-hati karena apabila salah jalan akan jatuh kejurang,” ucap Halim.

Bukan tanpa sebab, sambung Halim jalan tersebut memiliki tingkat kemiringan mencapai 90 derajat. Selain itu, dikarenakan jalan tersebut terputus, Halim terpaksa harus mencari jalan alternatif untuk sampai di Kota Palu. Halim mencoba berjalan disempadan sungai dan menelusir sungai hingga menuju Kota Palu. Saat harus melintasi perkebunan, Halim harus kembali membuang rasa takutnya untuk bertemu keluarga anaknya. Dia sudah tidak memperdulikan kembali apabila bertemu dengan binatang buas hutan.

Hanya bermodalkan air untuk menghilangkan rasa dahaga dan lapar, Halim terus berjalan. Namun, saat menjelang malam dan tidak lagi dapat melintasi jalan, Halim memutuskan untuk singgah dan tidur dirumah sepupunya, yakni Ase yang berada di Desa Sumoro, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi. Nahas, rumah sepepunya mengalami kerusakan namun tidak jatuh korban. “Menjelang pagi saya melanjutkan kembali dengan berjalan kaki menuju Kota Palu,” tutur Halim.

Dengan semangat yang dimiliki Halim, dia melanjutkan kembali berjalan kaki. Panasnya aspal dan rasa pegal di kaki dia hilangkan untuk mencapai tujuannya. Dia merasa lega saat berada di Kampung Tuba, Kecamatan Gumbasa dikarenakan jalan sudah kembali normal dan menjelang siang pada Minggu (30/9) dia sudah sampai di Kota Palu. Rasa lega dan kekhawatirannya hilang saat melihat keluarga anaknya dalam kondisi selamat dan tidak menjadi korban ganasnya tsunami dan gempa bumi Kota Palu. “Alhamdulillah keluarga anak saya selamat dan perjuangan saya terbayar saat melihat senyum mereka,” tutup Halim. (*)