RUBIAKTO/RADAR DEPOK MALU: Terdakwa Waliarahman memasuki ruang persidangan di Pengadilan Negeri Depok, kemarin.
MALU: Terdakwa Waliarahman memasuki ruang persidangan di Pengadilan Negeri Depok, kemarin. Foto:Rubiakto/Radar Depok

RADAR DEPOK – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan lima orang saksi dalam sidang lanjutan tindak pidana asusila terhadap 13 siswa di SDN Tugu, Kecamatan Cimanggis, yang dilakukan sang guru, Waliarahman (24). Mereka dari pihak sekolah dan saksi korban.

Ke lima saksi yang dihadirkan yakni Kepala SDN Tugu Cimanggis, Wali kelas VI SDN, dan guru agama SDN Tugu. JPU juga menghadirkan dua saksi korban untuk memberikan keterangan.

“Kami mendengarkan keterangan saksi yang merupakan pimpinan tersangka di sekolah, dan dua orang saksi korban,” kata JPU Andika dalam persidangan yang dilaksanakan secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Depok yang beralamat di komplek perkantoran Kota Kembang, Jalan Boulevard Nomor 7, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Selasa (9/10).

Menurut Andika, tersangka Waliarahman masih terus mengelak atas perbuatannya. “Tapi tersangka masih belum mau mengakui perbuatannya,” kata Andika.

Saat sidang perdana JPU, Andika membacakan dakwaan terhadap tersangka Waliarahman terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak-anak.

Terlebih terhadap siswanya sendiri dengan cara mengancam jika tidak mau mengikuti perintahnya nilai pelajaran tidak akan diberikan nilai bagus.

Terdakwa dikenakan Pasal 82 tentang Perlindungan Anak Nomor 32 Tahun 2002 dengan ancama hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara.

Sementara, dua saksi dari pihak SDN menolak berkomentar terkait sidang lanjutan yang beragendakan keterangan saksi.

Kepala SDN Tugu Cimanggis, Ade, enggan berkomentar karena alasan sedang sakit gigi dan pusing saat menjadi saksi dalam sidang tertutup yang berlangsung di ruang sidang III Pengadilan Negeri (PN) Depok. “Nggak, nggak. Saya lagi nggak enak badan. Lagi sakit gigi dan meriang,” jawab Ade.

Seperti Ade, Yusup yang saat kasus kekerasan seksual ini ditangani Unit PPA Polresta Depok menjabat sebagai Wali Kelas VI, juga menolak berkomentar.

“Tanya ke yang lain saja, yang jadi saksi juga. Yang nentuin bersalah atau nggak kan hakim,” kata Yusup yang kini bertugas sebagai operator sekolah.

Meski irit bicara, guru agama SDN tempat Waliarahman mengajar, Dadang menyebut perbuatan bekas guru bahasa Inggris itu bersalah.
Tanpa mengatakan berapa hukuman yang pantas, Dadang menuturkan Waliarahman layak dihukum atas perbuatannya.

“Kalau berapa hukumannya saya nggak tahu. Tapi ya dia salah, ada sanksinya, ya dihukum. Tadi pas jadi saksi ditanya puluhan pertanyaan sama hakim. Ditanya saya kenal atau nggak sama dia,” tutur Dadang. (rub)