RICKY/RADAR DEPOK ILUSTRASI: Perumahan Griya Rolas Sawangan yang terdapat di Kecamatan Sawangan.
ILUSTRASI: Perumahan Griya Rolas Sawangan yang terdapat di Kecamatan Sawangan.Foto:Ricky/Radar Depok

Memasuki tahun politik ternyata memiliki dampak yang signifikan di masyarakat. Euforia kampanye capres dan caleg dirasakan masyarakat baik di dunia maya maupun di lapangan. Ada sektor usaha yang kebanjiran order, ada pula yang malah lesu. Seperti di bisnis properti.

Laporan : Ricky Juliansyah

Tahun politik, disaat bisnis percetakan kebanjiran order untuk membuat alat peraga sosialisasi (APS) maupun alat peraga kampanye (APK) pesanan yang resmi dari KPU atau order dari partai dan para caleg yang berlaga pada Pemilu 2019.

Sektor bisnis tersebut bahkan kerap meminta lembur karyawannya demi mengejar pesanan yang telah diorder konsumen. Bisa juga sampai menolak orderan, karena sudah overload atau tidak sanggup dengan deadline yang diminta.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan bisnis properti, daya beli konsumen untuk kebutuhan ‘papan’ ini malah cenderung menurun alias lesu, dibandingkan di luar tahun politik.

Direktur PT Wahana Karya Rolas, Abdul Khaer menuturkan, memasuki tahun politik berdampak pada lesunya bisnis perumahan. Menurutnya, daya beli masyarakat yang rendah juga tidak, soalnya tiap akhir pekan jalanan macet dan banyak mobil baru.

“Menurut hemat saya, tahun politik ini memiliki efek domino dan tidak melakukan transaksi rumah,” ujar pengembang Perumahan Griya Rolas Sawangan ini.

Menurutnya, saat memasuki tahun politik juga membutuhkan dana seperti untuk sosialisasi dan kampanye. Dirinya menilai, pada waktu kampanye seorang caleg akan melibatkan keluarga dan rekanan. Tentunya, dukungan berupa dana dan moril dari berbagai pihak.

“Pastinya, keluarganya akan mendukung dan mengeluarkan dana politik. Jadi, kalau lagi sepi kunjungan dan tidak ada transaksi jual beli rumah itu juga bukan karena melemahnya rupiah pada dolar,” paparnya.

Selain itu, meski dunia perbankan saat ini dalam aturan memiliki kelonggaran seperti DP 0 persen. Akan tetapi, Khaer menilai adanya kekhawatiran pihak perbankan untuk mengucurkan kredit pada konsumen.

“Belum lagi, bagi pasangan keluarga baru lebih memilih membeli mobil dengan harga murah, daripada membeli rumah. Sebab, rumah bisa mengontrak tapi mobil kan tidak bisa. Apalagi, trend di medsos dengan selfi ke tempat yang indah bisa dituju dengan kendaraan pribadi,” ucap Khaer. (*)